Harga Batu Bara Tembus USD152 per Ton, Tertinggi Sejak Oktober 2024

Harga Batu Bara Tembus USD152 per Ton, Tertinggi Sejak Oktober 2024

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:44
share

IDXChannel - Harga batu bara kembali menguat hingga menembus USD152 per ton, level tertinggi sejak Oktober 2024, sehingga menjadi katalis bagi kinerja emiten batu bara Indonesia meski prospek sektor masih dibayangi perubahan aturan ekspor.

Berdasarkan data Trading Economics, Rabu (7/10/2026), harga batu bara berada di level USD152,20 per ton.

Dalam empat pekan terakhir, harga batu bara telah naik 1,52 persen, sedangkan dalam 12 bulan terakhir melonjak 43,2 persen.

BRI Danareksa Sekuritas mencatat harga batu bara telah meningkat sekitar 45,3 persen secara tahunan. Penguatan tersebut ditopang oleh pengetatan pasokan global dan permintaan yang lebih kuat.

Dari sisi pasokan, ekspor thermal coal Indonesia turun 23 persen secara tahunan pada Agustus 2026, menjadi level terendah untuk bulan tersebut dalam lima tahun.

Kondisi pasar energi global juga turut menopang permintaan batu bara.

Gangguan pasokan gas akibat perang Iran serta tingginya harga LNG mendorong sejumlah negara kembali meningkatkan penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

BRI Danareksa Sekuritas menyebut sejumlah saham yang berkaitan dengan pergerakan harga batu bara, yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Harga batu bara yang masih tinggi menjadi penopang kinerja emiten. Namun, prospek sektor mulai dibayangi perubahan aturan ekspor dan belum jelasnya peran komersial Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Analis Mirae Asset Sekuritas Fauzan Luthfi Djamal mempertahankan rekomendasi netral untuk sektor batu bara Indonesia. Menurutnya, sejumlah aturan pelaksanaan masih dalam tahap penyusunan, termasuk skema biaya dan peran komersial DSI sebagai badan usaha ekspor negara.

“Beberapa detail implementasi masih dalam pengembangan,” tulis Fauzan dalam risetnya pada 7 Oktober 2026.

Fauzan mencatat revisi bea keluar dan royalti batu bara masih ditunda. Sementara itu, cakupan bursa komoditas baru juga belum sepenuhnya ditetapkan.

Di sisi lain, harga komoditas masih memberikan dukungan terhadap pendapatan emiten. Harga Acuan Batu Bara (HBA) tercatat 19-35 persen lebih tinggi dibandingkan level Januari, sedangkan harga batu bara Newcastle berada di sekitar USD150 per ton.

Menurut Fauzan, harga batu bara berpotensi bertahan dalam tren kenaikan lebih lama dibandingkan yang tercermin dalam harga forward maupun proyeksi yang telah dipublikasikan.

Sejumlah faktor global turut menopang prospek tersebut. Harga minyak Brent telah menembus USD100 per barel di tengah ketegangan di Selat Hormuz.

Harga spot LNG Asia juga melonjak menjadi USD26 per MMBtu pada September 2026 dari USD10,40 per MMBtu pada Februari 2026.

Selain itu, fenomena El Niño, gangguan pasokan listrik di India, serta penurunan produksi batu bara Indonesia berpotensi menjaga kondisi pasar tetap ketat.

Namun, prospek tersebut masih memiliki risiko perubahan.

Pandangan terhadap harga batu bara dapat berubah apabila aturan ekspor nantinya tetap mempertahankan saluran penjualan yang berjalan saat ini atau penyelesaian konflik di kawasan Teluk mendorong penurunan harga energi. (Aldo Fernando)

Topik Menarik