Masih Banyak Tantangan, Simak Proyeksi Pergerakan IHSG hingga Akhir 2026
IDXChannel - Potensi penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih cenderung terbatas hingga penutupan tahun 2026. Pasar saham Indonesia diperkirakan harus melintasi sejumlah tantangan sebelum mampu mencatatkan momentum kenaikan yang lebih tinggi.
Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Herald van der Linde memproyeksikan IHSG akan berkonsolidasi dan bergerak menuju level target 6.200 pada akhir 2026.
“Target indeks IHSG berada di level sekitar 6.200 pada akhir tahun ini. Saat ini, kalau tidak salah, IHSG berada di sekitar 6.120,” kata Herald dalam sesi media briefing HSBC di Jakarta, ditulis Rabu (30/9/2026).
Herald menjelaskan, stabilisasi nilai tukar rupiah serta berangsur masuknya aliran modal asing (capital inflow) menjadi pendorong sentimen positif bagi ekosistem pasar modal domestik.
Kondisi tersebut mendorong investor global mulai menempatkan pasar saham Indonesia sebagai alternatif investasi strategis, khususnya bagi pelaku pasar yang mencari peluang diversifikasi portofolio di luar sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang tengah mendominasi pasar global.
“Anda mulai melihat orang-orang mulai memperhatikan Indonesia, salah satunya sebagai semacam strategi investasi yang berlawanan dengan tren AI,” kata dia.
Berdasarkan pemetaan HSBC, posisi pasar saham Indonesia saat ini berada di kelompok menengah jika dibandingkan dengan bursa saham Asia Pasifik lainnya, terutama dari sisi proyeksi pertumbuhan laba bersih emiten (earnings growth) serta indikator valuasi.
Herald menyoroti pasar saham berbasis AI di kawasan regional yang masih menyedot perhatian dana global akibat lonjakan pertumbuhan laba perusahaan yang sangat signifikan.
Dia mencontohkan bursa saham Korea Selatan yang valuasinya dinilai relatif murah apabila dibandingkan dengan akselerasi laba emitennya.
“Jika Anda melihat parameter lainnya di kawasan, seperti pertumbuhan laba dan valuasi, pasar yang terkait dengan AI terlihat sangat menarik karena laba perusahaan-perusahaan tersebut benar-benar melonjak,” kata Herald.
Herald menegaskan, konsensus analis di Korea Selatan pada awal tahun semula memproyeksikan pertumbuhan laba sekitar 50 persen. Namun, angka tersebut terus direvisi naik secara dramatis.
“Namun, para analis telah menaikkan proyeksi tersebut sejak awal tahun. Sekarang proyeksinya mencapai 320 persen. Itu merupakan angka pada pekan lalu, sekarang mungkin sudah menjadi 330 atau 340 persen,” ujar dia.
Sebagai pembanding, pertumbuhan laba emiten di Indonesia diproyeksikan tumbuh stabil di kisaran 10 persen, sementara India berada pada kisaran 10 hingga 12 persen.
(Dhera Arizona)










