Rupiah Diramal Bertahan di Level Rp18.000 per Dolar AS hingga Akhir Tahun

Rupiah Diramal Bertahan di Level Rp18.000 per Dolar AS hingga Akhir Tahun

Ekonomi | inews | Rabu, 30 September 2026 - 02:00
share

JAKARTA, iNews.id - Ekonom memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di sekitar level Rp18.000 per dolar AS hingga akhir 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda dinilai lebih banyak berasal dari penguatan dolar AS di pasar global dibandingkan persoalan fundamental ekonomi domestik.

Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann menilai ruang pergerakan rupiah dalam tiga bulan terakhir 2026 relatif terbatas. Rupiah diperkirakan bergerak stabil dengan potensi pelemahan yang tipis.

“Terkait rupiah, kita harus mengakui bahwa The Fed sedang menaikkan suku bunga saat ini dan dolar karena itu mendapat banyak dukungan. Kita melihat penguatan dolar terhadap banyak mata uang, yen Jepang misalnya, Eropa, euro juga,” kata Frederic dalam Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026, Selasa (29/9/2026).

Menurut Frederic, kondisi tersebut mencerminkan penguatan indeks dolar AS yang memberikan tekanan terhadap berbagai mata uang dunia.

“Jadi kita hanya punya tiga bulan hingga akhir tahun, dan jadi di sana kita melihat rupiah kira-kira stabil, mungkin sedikit lebih lemah, tetapi tidak banyak. Namun ini lebih merupakan cerminan dari kekuatan dolar daripada pada dasarnya kelemahan rupiah,” ujarnya.

Berdasarkan kondisi pasar valuta asing tersebut, Frederic menilai level sekitar Rp18.000 per dolar AS menjadi target realistis bagi rupiah pada akhir 2026.“Jadi jika Anda menanyakan target kepada saya, sekitar 18 ribu, misalnya, itu akan menjadi target,” katanya.

Prospek rupiah diperkirakan berubah pada 2027 jika tren penguatan dolar AS mulai mereda. Pelemahan dolar berpotensi memberikan dorongan terhadap apresiasi rupiah.

“Tahun berikutnya, itu bisa sangat berubah, karena pada saat tertentu, dolar akan berubah, dan kemudian rupiah akan mendapat dorongan,” ujarnya.

Frederic juga menyebut tekanan spesifik terhadap rupiah atau idiosyncratic risk yang sempat terjadi pada awal 2026 kini sudah dapat diatasi. Kondisi tersebut tidak lagi menjadi sumber utama tekanan terhadap rupiah.

“Pesan utamanya di sini adalah tidak lagi ada kelemahan rupiah yang spesifik yang kita miliki awal tahun. Itu telah teratasi,” kata dia.

Stabilitas rupiah juga diikuti mulai kembalinya arus modal asing atau capital inflow. Frederic menilai Bank Indonesia (BI) sudah mendekati akhir siklus pengetatan moneter.

Ia memperkirakan masih ada maksimal satu kali kenaikan suku bunga acuan sebelum BI mengakhiri siklus tersebut.

“Kita hampir di akhir siklus moneter di Indonesia. Kami berpikir ada satu lagi kenaikan yang akan datang pada tahun ini, tapi kemudian itu adalah penghujung siklus,” ujarnya.

Topik Menarik