Bursa Asia Menguat, Imbal Hasil Obligasi Global Jadi Sorotan
IDXChannel – Bursa Asia naik pada Selasa (29/9/2026), di tengah kenaikan imbal hasil obligasi global yang mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun dan membayangi sentimen pasar.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,2 persen pada awal perdagangan, meski masih berpotensi melemah sekitar 1 persen sepanjang bulan ini.
Indeks Nikkei Jepang menguat 0,9 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan juga bergerak positif dan diperkirakan mencatat kenaikan bulanan sekitar 1,4 persen.
Shanghai Composite naik 0,42 persen, ASX 200 Australia meningkat 0,80 persen.
Berbeda, Hang Seng Hong Kong turun 0,63 persen dan STI Singapura melemah 0,10 persen.
Pergerakan bursa Asia terjadi ketika imbal hasil obligasi pemerintah global terus meningkat.
Mengutip Reuters, imbal hasil US Treasury 10 tahun bertahan di sekitar level tertinggi sejak 2007, yakni 5,2383 persen, dan berada di jalur kenaikan hampir 50 basis poin sepanjang bulan ini.
Kenaikan imbal hasil obligasi menjadi perhatian investor karena tingkat imbal hasil surat utang pemerintah menjadi acuan bagi aset berisiko, sekaligus memengaruhi biaya pembiayaan korporasi dan kredit perumahan.
Tekanan pada pasar obligasi global berasal dari kombinasi memburuknya kondisi fiskal pemerintah, tingginya penerbitan surat utang, serta kenaikan inflasi seiring perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran yang telah berlangsung selama tujuh bulan dan menjaga biaya energi tetap tinggi.
Meski demikian, pasar saham sejauh ini relatif mampu menahan tekanan dari kenaikan imbal hasil.
Ketahanan tersebut ditopang oleh kinerja keuangan perusahaan yang masih kuat, ketahanan ekonomi global, serta ekspektasi terhadap perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Di pasar AS, kontrak berjangka (futures) Nasdaq naik 0,13 persen, sementara S&P 500 futures menguat 0,16 persen.
Sementara itu, EUROSTOXX 50 futures dan DAX futures masing-masing naik 0,5 persen, sedangkan FTSE futures menguat 0,4 persen.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury 2 tahun turun tipis menjadi 4,8889 persen setelah Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menepis ekspektasi mengenai pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat.
Namun, imbal hasil tersebut masih naik lebih dari 50 basis poin sepanjang bulan ini.
Strategis Investasi Utama Saxo, Charu Chanana, mengatakan pergerakan imbal hasil saat ini menunjukkan perubahan yang lebih struktural dibandingkan sekadar penyesuaian ekspektasi terhadap beberapa pertemuan bank sentral.
“Menurut saya, kita sedang bergerak menuju rezim imbal hasil yang secara struktural lebih tinggi. Hambatan untuk mengembalikan imbal hasil secara berkelanjutan ke level ultra-rendah yang terbiasa dilihat investor setelah krisis keuangan global kini jauh lebih tinggi,” ujarnya, seperti dikutip Reuters. (Aldo Fernando)










