Wall Street Dibuka Menghijau di Tengah Pelemahan Harga Minyak Mentah

Wall Street Dibuka Menghijau di Tengah Pelemahan Harga Minyak Mentah

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 22 September 2026 - 21:54
share

IDXChannel - Wall Street mendekati rekor tertingginya pada perdagangan Selasa (22/9/2026), didorong penurunan harga minyak Brent ke bawah USD100 per barel yang meredakan tekanan terhadap pasar saham.

Dikutip dari AP, indeks S&P 500 naik 0,2 persen dan hanya berjarak 0,2 persen dari rekor tertinggi yang dicapai bulan lalu. Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat 124 poin atau 0,2 persen, sedangkan Nasdaq Composite naik 0,4 persen dan mencatat rekor baru.

Penguatan saham terjadi setelah harga minyak mentah Brent turun 1,9 persen menjadi USD98,46 per barel. Harga tersebut turun dari hampir USD110 per barel pada pekan lalu, meski masih jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar USD72 sebelum perang dengan Iran dimulai. Pergerakan harga minyak masih dipengaruhi ketidakpastian mengenai kapan konflik tersebut memungkinkan aliran minyak dari Timur Tengah kembali berjalan normal ke pasar global.

Penurunan harga minyak dalam sepekan terakhir juga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) turun. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di 4,95 persen, sedikit turun dari 4,96 persen pada perdagangan Senin (21/9/2026). Angka tersebut masih jauh di atas level 3,97 persen sebelum perang dengan Iran dimulai. Imbal hasil yang tinggi dapat menekan perekonomian karena meningkatkan biaya pinjaman.

Sejumlah saham perusahaan dengan kebutuhan bahan bakar tinggi menguat seiring penurunan harga minyak berpotensi menekan biaya operasional. Carnival naik 4 persen, sementara American Airlines menguat 2,2 persen.

Saham AutoZone naik 2,7 persen setelah peritel suku cadang kendaraan tersebut membukukan laba kuartalan yang lebih tinggi dari ekspektasi analis, meski pendapatannya berada di bawah perkiraan. 

CEO AutoZone, Phil Daniele mengatakan, perusahaan menghadapi kondisi penjualan yang sulit pada dua bulan pertama kuartal tersebut, tetapi kinerja membaik setelahnya.

"Ini merupakan lingkungan penjualan yang sulit dalam dua bulan pertama, tetapi membaik setelahnya dan kami merasa berada dalam posisi yang baik untuk mencatat pertumbuhan penjualan pada tahun fiskal mendatang," kata Daniele.

Sementara itu, saham Thor Industries naik 0,9 persen meski prospek bisnisnya masih menghadapi tekanan. CEO Thor Industries Bob Martin mengatakan harga bahan bakar, suku bunga tinggi, dan inflasi yang masih tinggi membebani anggaran konsumen.

Kinerja laba perusahaan menjadi salah satu faktor yang menopang pasar saham AS di tengah harga minyak yang tinggi, inflasi yang masih persisten, serta kekhawatiran mengenai valuasi perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI). Analis FactSet memperkirakan laba perusahaan dalam indeks S&P 500 tumbuh hampir 29 persen pada kuartal ketiga 2026 secara tahunan. Jika terealisasi, pertumbuhan tersebut akan menjadi kuartal ketiga berturut-turut dengan kenaikan laba lebih dari 25 persen.

Di pasar global, indeks saham Eropa dan Asia menguat. Saham di Hong Kong naik 0,2 persen dan Shanghai menguat 0,1 persen setelah Alibaba memperkenalkan teknologi cip AI baru yang diklaim sebagai cip AI terkuat di China. Perkembangan tersebut muncul menjelang pertemuan antara pemimpin China dan AS yang diperkirakan turut membahas persaingan teknologi AI.

(Rahmat Fiansyah)

Topik Menarik