Menkeu Suahasil: Ekonomi RI Tetap Resilien, Pertumbuhan Diproyeksi hingga 6 Persen
IDXChannel - Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah dinamika ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, sementara permintaan domestik dinilai masih cukup kuat menopang aktivitas ekonomi hingga akhir 2026.
Hal tersebut disampaikan Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa. Dia mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 5,45 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), berada di atas asumsi pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 sebesar 5,4 persen.
Sementara itu, pemerintah mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 pada kisaran 5,6 persen hingga 6 persen.
Menurut Suahasil, pertumbuhan ekonomi tersebut didukung oleh investasi, permintaan domestik, serta kebijakan pemerintah. Aktivitas ekonomi masyarakat juga tercermin dari peningkatan konsumsi sejumlah barang yang mendapatkan subsidi pemerintah.
Dari sisi harga, inflasi tercatat sebesar 3,19 persen secara tahunan. Pemerintah memperkirakan inflasi hingga akhir 2026 berada pada kisaran 2,4 persen hingga 2,9 persen. Kebijakan terkait harga energi dan pangan menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam menjaga inflasi sekaligus daya beli masyarakat.
Sementara itu, nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan akibat dinamika geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Rupiah tercatat di level Rp17.635 per dolar AS pada akhir periode, sedangkan secara year-to-date (ytd) berada di level Rp17.415 per dolar AS.
Pemerintah memperkirakan nilai tukar rupiah sepanjang 2026 berada pada kisaran Rp17.000 sampai Rp17.500 per dolar AS.
Pergerakan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun juga masih dipengaruhi kondisi global. Yield SBN tercatat sebesar 7,17 persen pada akhir periode dan 6,80 persen secara year-to-date. Adapun outlook 2026 berada pada kisaran 6,7 persen hingga 7,1 persen.
Dari sisi fiskal, APBN tetap berperan sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah volatilitas harga energi global. Hingga 31 Agustus 2026, realisasi subsidi dan kompensasi mencapai Rp331,4 triliun atau 74,2 persen dari pagu APBN.
Penyaluran tersebut antara lain tercermin dari peningkatan konsumsi sejumlah barang bersubsidi. Salah satunya terlihat dari volume konsumsi BBM yang tumbuh 8,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Perekonomian Indonesia itu resilient. Di tengah dinamika global pertumbuhan kita terus terjaga, permintaan domestik cukup kuat, stabilitas ekonomi kita jaga, dan sinergi kebijakan makro, yaitu kebijakan fiskal dan kebijakan moneter kita, kita jaga dengan baik,” kata Suahasil.
(Kidung Dhia)










