Jelang Akhir Pekan,  Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.758 per USD

Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.758 per USD

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 18 September 2026 - 16:00
share

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (18/9/2026), turun 5 poin atau sekitar 0,03 persen ke level Rp17.758 per USD.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu sentimen datang dari eksternal di mana pertempuran baru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran menambah risiko baru terhadap pasokan minyak di tengah konflik yang sebelumnya telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz. 

“Pasar mencermati tanda-tanda Arab Saudi mungkin dapat memulihkan sebagian aliran minyak melalui pipa Timur-Barat miliknya, yang sempat rusak akibat serangan pesawat nirawak (drone) pekan lalu,” tulis Ibrahim dalam risetnya. 

Meski demikian, prospek pasokan masih sangat tidak pasti. Angkatan Laut Garda Revolusi Iran pada hari Jumat menyatakan sebuah kapal tanker berbendera Togo telah diserang saat mencoba melakukan apa yang mereka sebut sebagai "pelayaran ilegal" melintasi Selat Hormuz, menurut laporan media pemerintah Iran.

Sementara itu, diplomasi muncul sebagai faktor kunci lain yang memengaruhi pasar, di mana Presiden Donald Trump mengatakan kepada Axios bahwa dia hampir mengambil keputusan besar mengenai apakah akan kembali melancarkan aksi militer berskala besar terhadap Iran. 

Menurut Axios, Trump dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman pekan depan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.

China juga telah meningkatkan upaya diplomatiknya. Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Washington dan Teheran untuk menahan diri dan membuka kembali Selat Hormuz, sementara Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan konsultasi dengan para pejabat China dan Pakistan.

Bank sentral AS mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4,00 persen. Kevin Warsh menyampaikan sikap hawkish, dia menyatakan bahwa inflasi terlalu tinggi dan menggambarkan kenaikan suku bunga tersebut sebagai langkah mengurangi "dosis akomodasi," mengingat kondisi keuangan saat itu belum menunjukkan tanda-tanda pengetatan yang signifikan. 

Dia menambahkan bahwa pandangan ini didukung luas oleh seluruh anggota Komite, yang mengisyaratkan kesiapan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Dari sentimen dalam negeri, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Agustus 2026 tetap terjaga di level 0,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun, defisit ini dicapai dengan catatan pendapatan negara lebih rendah dari belanja yakni Rp 2.055,6 triliun atau mencapai 65,2 persen dari target dalam APBN 2026. 

Sementara itu, belanja mencapai Rp2.295,7 triliun. Dengan demikian, defisit mencapai Rp240,1 triliun atau 0,9 persen. APBN tetap kuat dengan keseimbangan primer positif (Rp154 triliun) dan defisit dalam batasan terkendali.

Secara keseluruhan tahun, pemerintah memperkirakan defisit APBN hingga akhir tahun 2026 akan berada di sekitar 2,85 persen dari PDB (atau setara Rp734,3 triliun), sedikit di atas target awal APBN yang sebesar 2,68 persen PDB.

Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur dan fenomena El Nino pada tahun 2026 kembali menjadi perhatian pasar. Kondisi panas dan kering yang berlangsung disejumlah wilayah indonesia meningkatkan risiko terhadap sektor pertanian, ketersediaan air, hingga kebakaran hutan dan lahan.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga terus mengingatkan mengenai kondisi kemarau dan potensi kekeringan di berbagai wilayah sampai akhir 2026.

“Persoalannya El Nino bukan hanya tentang perubahan cuaca. Jika tidak diantisipasi dengan baik, fenomena ini dapat memberikan tekanan baru terhadap perekonomian Indonesia terutama melalui jalur pangan dan Inflasi,” ujar 

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan berada di kisaran Rp17.650-Rp18.000 per USD.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik