Daur Ulang Aset Migas Global Buka Peluang bagi Dua Emiten Ini

Daur Ulang Aset Migas Global Buka Peluang bagi Dua Emiten Ini

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 17 September 2026 - 06:54
share

IDXChannel - Gelombang pelepasan aset minyak dan gas (migas) oleh perusahaan migas global membuka ruang bagi perusahaan eksplorasi dan produksi (E&P) Indonesia untuk memperbesar cadangan dan produksi melalui aksi akuisisi.

Analis Bahana Sekuritas Abdusshomad Cakra Buana menilai aktivitas merger dan akuisisi (M&A) sektor hulu migas masih berpeluang ramai, seiring strategi perusahaan migas global melakukan optimalisasi portofolio dan melepas aset yang tidak lagi menjadi fokus utama.

Dalam riset yang terbit pada 11 September 2026, Bahana Sekuritas mempertahankan pandangan overweight terhadap sektor hulu migas Indonesia.

Menurut Abdusshomad, potensi M&A menjadi katalis tambahan apabila sejumlah transaksi yang tengah berpotensi terealisasi benar-benar terjadi.

“Daur ulang” aset tersebut terutama berasal dari perusahaan migas Tier-1 yang semakin memusatkan belanja modal pada wilayah inti.

Bahana memperkirakan terdapat sekitar USD152 miliar aset hulu migas yang dipasarkan pada 2026, menciptakan pasokan aset yang dapat menjadi sasaran perusahaan migas nasional (NOC) maupun perusahaan E&P independen.

Menariknya, pelepasan aset tersebut tidak terutama didorong oleh tekanan keuangan. Rasio net debt terhadap EBITDA perusahaan migas di berbagai kelompok tercatat hanya sekitar 0,5-1,2 kali, sementara arus kas bebas secara agregat masih diperkirakan meningkat hingga 2028.

Pada kelompok Tier-1, perusahaan-perusahaan tersebut menyumbang sekitar 33 persen dari nilai transaksi sisi penjual, meskipun memiliki leverage sekitar 0,3 kali. Kondisi ini mengindikasikan bahwa divestasi semakin berkaitan dengan optimalisasi portofolio ketimbang kebutuhan memperbaiki neraca.

Perubahan strategi alokasi modal juga menjadi pendorong. Distribusi kepada pemegang saham perusahaan Tier-1 meningkat menjadi sekitar 50 persen dari operating cash flow (OCF) pada 2025, dibandingkan 27 persen pada 2015.

Pada saat yang sama, rasio belanja modal terhadap OCF turun menjadi sekitar 52 persen dari sebelumnya lebih dari 100 persen.

Padahal, OCF dan EBITDA telah meningkat masing-masing sekitar empat kali dan dua kali lipat dibandingkan 2015. Namun, belanja modal organik justru cenderung datar hingga lebih rendah.

Tekanan untuk menjaga disiplin modal semakin besar karena keberlanjutan cadangan melemah. Reserve life perusahaan Tier-1 turun dari sekitar 13 tahun pada 1998 menjadi sekitar 11 tahun pada 2025.

Sementara itu, reserve replacement ratio (RRR) rata-rata tiga tahun berada di sekitar 90 persen untuk penggantian cadangan secara organik dan sekitar 96 persen jika memperhitungkan seluruh sumber penggantian cadangan.

Bahana menilai kondisi tersebut membuat perusahaan migas global perlu menyeimbangkan investasi pertumbuhan dengan pengembalian modal kepada pemegang saham. Pelepasan aset non-inti pun menjadi salah satu sumber pendanaan yang rasional.

Bagi pembeli yang lebih kecil, aset tersebut justru dapat memiliki nilai strategis. Perusahaan Tier-1 semakin berkonsentrasi pada basin inti, terutama di kawasan Amerika, sementara NOC dan perusahaan E&P independen cenderung memperluas wilayah operasi untuk mengamankan cadangan dan produksi.

Kesenjangan skala cadangan turut membuat transaksi tersebut menarik. Aset yang nilainya kurang dari 5 persen dari total cadangan perusahaan Tier-1 dapat meningkatkan cadangan perusahaan Tier-2 sekitar 18 persen dan hampir menggandakan cadangan perusahaan Tier-3.

Selain itu, biaya akuisisi aset yang sudah berproduksi atau memiliki risiko pengembangan lebih rendah umumnya sekitar USD3-USD10 per barel setara minyak (boe) lebih murah dibandingkan biaya eksplorasi dan pengembangan (finding and development/F&D) secara organik.

Hal ini membuat akuisisi menjadi jalur yang relatif efisien bagi perusahaan yang ingin menambah cadangan dan produksi.

Bahana melihat perusahaan E&P Indonesia berada dalam posisi untuk menangkap peluang dari siklus daur ulang aset tersebut.

Pertamina sebagai perusahaan migas nasional dinilai memiliki kebutuhan struktural untuk menambah cadangan dan produksi guna mendukung target lifting serta ketahanan energi pemerintah.

Di kelompok E&P independen atau swasta, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi salah satu nama yang paling relevan terhadap peluang tersebut.

Menurut Bahana, MEDC memiliki rekam jejak dalam mengintegrasikan aset hasil akuisisi dan membutuhkan tambahan aset baru untuk mengimbangi penurunan produksi dari aset-aset yang telah matang.

MEDC saat ini menghadapi penurunan lifting sekitar 2 persen per tahun.

Karena itu, M&A dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga skala produksi sekaligus memperpanjang umur pertumbuhan bisnis di tengah semakin matangnya portofolio aset yang dimiliki.

Sementara itu, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menawarkan profil yang berbeda.

Perusahaan tersebut telah menjalankan ekspansi organik secara agresif, sehingga akuisisi dapat menjadi pelengkap untuk mempercepat pertumbuhan cadangan dan produksi.

Meski demikian, Bahana menekankan bahwa peluang M&A tidak otomatis menciptakan nilai bagi pembeli. Manfaat akhirnya akan sangat bergantung pada disiplin dalam menentukan harga dan kualitas aset yang diakuisisi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik