Wall Street Ditutup Melemah usai Libur Hari Buruh, Indeks Dow Jones Turun 1,2 Persen
IDXChannel - Wall Street ditutup melemah pada awal pekan usai libur Hari Buruh (Labor Day) serta dihadapkan dengan eskalasi Timur Tengah dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Dilansir dari laman Investing Rabu (9/9/2026), penurunan pada saham-saham sektor kesehatan turut memperburuk sentimen pasar.
Indeks acuan S&P 500 turun 0,6 persen dan ditutup pada level 7.676,14 poin, sementara indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average melemah 1,2 persen dan berakhir di posisi 52.787,53 poin.
Indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,3 persem dan menetap di level 26.421,41 poin.
Sementara itu, pasar saham AS baru saja melewati pekan lalu dengan pergerakan yang beragam, dipicu oleh aksi jual besar-besaran pada obligasi Treasury, lonjakan harga minyak, serta laporan ketenagakerjaan bulan Agustus yang sangat kuat sehingga memicu penyesuaian drastis terhadap ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Pada hari Jumat, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan penambahan 162.000 lapangan kerja sektor non-pertanian (nonfarm payrolls) pada bulan Agustus. Angka yang hampir tiga kali lipat dari perkiraan awal sebesar 55.000.
Sedangkan tingkat pengangguran tetap stabil di angka 4,1 persen. Sementara itu, total data nonfarm payrolls untuk bulan Juni dan Juli direvisi naik dengan total gabungan sebesar 55.000.
Data tersebut mengindikasikan ketangguhan pasar tenaga kerja AS. Hal ini, ditambah dengan inflasi tinggi yang menunjukkan kondisi ekonomi mengalami overheating (tumbuh terlalu cepat) di tengah tekanan harga.
Dalam situasi seperti ini, bank sentral biasanya mempertimbangkan pengetatan kebijakan. Pelaku pasar merespons ekspektasi tersebut dengan meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin oleh The Fed pada akhir bulan ini (yang kini berada di kisaran 60 persen), menurut perangkat CME FedWatch.
Data ini juga muncul setelah adanya sinyal yang beragam dari para pengambil kebijakan. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menunjukkan sikap yang hawkish dalam pidatonya di Jackson Hole pada akhir Agustus. Sikap tersebut diimbangi oleh pernyataan bernada dovish pada pekan lalu dari anggota pemungutan suara Federal Open Market Committee (FOMC), yakni Presiden The Fed New York John Williams dan Gubernur Christopher Waller.
Para pengamat suku bunga kini akan mencermati laporan Indeks Harga Produsen (PPI) dan Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Agustus yang dijadwalkan rilis pekan ini, guna mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai langkah FOMC pada tanggal 16 September mendatang.
"Ketangguhan pasar tenaga kerja AS yang terus berlanjut sungguh mengesankan. Terlebih lagi, di tengah kembali terjadinya aksi saling balas serangan rudal di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak Brent yang menekan perekonomian, kabar ini datang pada saat yang sangat tepat," ujar Yerbol Orynbayev, mantan Gubernur Bank Dunia untuk Kazakhstan, kepada Investing.com.
(kunthi fahmar sandy)









