Harga Minyak Tembus Level Tertinggi 6 Pekan usai Houthi Serang Fasilitas Saudi
IDXChannel - Harga minyak naik ke level tertinggi dalam enam pekan pada Selasa (8/9/2026), setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang fasilitas energi Arab Saudi.
Serangan tersebut memicu kebakaran di sejumlah instalasi minyak dan meningkatkan ancaman perluasan perang di Timur Tengah yang telah berlangsung selama enam bulan.
Harga minyak Brent berjangka naik 0,9 persen menjadi USD97,92 per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) meningkat 1,7 persen menjadi USD93,03 per barel.
Kenaikan tersebut membuat kedua acuan harga minyak berada di wilayah overbought secara teknikal. Brent mencatat penutupan tertinggi sejak 23 Juli untuk hari kedua berturut-turut, sedangkan WTI mencatat penutupan tertinggi sejak 4 Juni.
Kelompok Houthi menyerang empat kota di wilayah selatan Arab Saudi, sekutu AS, pada Selasa. Serangan tersebut melukai lebih dari 70 orang dan memicu kebakaran di sejumlah fasilitas minyak.
Media yang dikuasai Houthi kemudian melaporkan bahwa pesawat tempur Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Distrik Jubah, sebelah timur ibu kota Sanaa, serta Provinsi Taiz di wilayah barat daya Yaman.
Ekspor minyak dari kawasan Teluk telah mengalami gangguan parah sejak Iran menyerang infrastruktur energi di kawasan tersebut dan kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Serangan itu terjadi setelah serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari.
Arab Saudi, produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia setelah AS, selama ini menghindari Selat Hormuz dengan mengirimkan minyak melalui jalur barat menuju Laut Merah.
Namun, serangan pada Selasa tampaknya menjadi salah satu serangan terbesar terhadap Arab Saudi dan berpotensi memperburuk dampak ekonomi global dari perang tersebut.
Gangguan pasokan energi Timur Tengah kini tidak hanya mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz yang telah diblokade, tetapi juga fasilitas energi di kawasan.
Wall Street juga mulai memperhitungkan kemungkinan gangguan terhadap pelayaran di Timur Tengah berlanjut hingga 2027. Goldman Sachs, HSBC, dan sejumlah bank lainnya menaikkan proyeksi harga minyak mentah untuk sisa 2026 dan 2027.
Data Kpler yang dirilis pada Selasa menunjukkan jumlah kapal komoditas yang melintas di Selat Hormuz turun menjadi tujuh kapal pada Senin, dari delapan kapal sehari sebelumnya.
Sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada Februari, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. (Aldo Fernando)









