Wall Street Dibuka Melemah Tertekan Lonjakan Harga Minyak
IDXChannel - Wall Street dibuka melemah pada perdagangan Senin (31/8/2026) waktu setempat, tertekan lonjakan harga minyak setelah eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat.
Sentimen pasar juga dibayangi sikap hawkish Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga AS.
Melansir Investing, indeks S&P 500 turun 0,3 persen ke level 7.690,51. Indeks Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi melemah 0,1 persen menjadi 26.371,43, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,3 persen ke 53.390,61.
Indeks-indeks saham AS sempat menguat di awal perdagangan, tetapi berbalik turun setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak menyusul pernyataan hawkish Warsh dalam konferensi Jackson Hole.
Warsh menegaskan, bahwa bank sentral AS masih memiliki pekerjaan besar untuk membawa inflasi kembali ke target 2 persen. Pernyataan tersebut mendorong investor menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter The Fed.
Sentimen risk-off di pasar global terutama dipicu eskalasi militer di Timur Tengah pada akhir pekan, yang mengakhiri periode singkat meredanya konflik langsung antara AS dan Iran.
Pasukan AS melancarkan serangan udara terhadap dua peluncur rudal Iran yang berada di Pulau Larak, kawasan strategis di Selat Hormuz. Aksi ini menjadi serangan langsung AS terhadap wilayah Iran sejak Juli lalu.
Serangan dilakukan di tengah sinyal sebelumnya dari Washington yang mengindikasikan pergeseran menuju tekanan ekonomi melalui penerapan sanksi perdagangan yang lebih ketat.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan balasan yang menyasar posisi militer AS di Yordania. Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan tindakan terhadap Pulau Kharg, salah satu fasilitas penting ekspor minyak Iran.
Eskalasi tersebut langsung mendorong harga minyak dunia. Di mana harga minyak mentah Brent melonjak 5,3 persen menjadi USD90,71 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz. Investor juga mulai mengantisipasi potensi tekanan inflasi akibat kenaikan biaya energi yang dapat merambat ke berbagai rantai pasok global.
Selain faktor geopolitik, pergerakan Wall Street juga dipengaruhi perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS.
Dalam pidato perdananya pada simposium Jackson Hole, Warsh menegaskan komitmen The Fed untuk mengendalikan tekanan harga yang masih persisten.
Meski tidak memberikan panduan eksplisit mengenai keputusan suku bunga berikutnya, pelaku pasar kenaikan suku bunga masih menjadi salah satu opsi untuk mencegah ekspektasi inflasi semakin tidak terkendali.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat The Fed 16 September 2026 mencapai hampir 60 persen, meningkat tajam dibandingkan sekitar 35 persen sebelum pidato Warsh.
Ekspektasi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil Treasury AS di berbagai tenor dan menekan saham-saham teknologi dan perusahaan dengan valuasi tinggi, termasuk saham perusahaan semikonduktor.
(DESI ANGRIANI)









