Angka Kelahiran Singapura Cetak Rekor Terendah, Populasi Akan Susut Mulai 2040
IDXChannel - Jumlah bayi yang lahir di Singapura pada 2025 turun ke angka terendah sejak kemerdekaan negara itu.
Dilansir dari The Straits Times pada Selasa (28/7/2026), kurang dari 30.000 kelahiran tercatat untuk pertama kalinya dalam 60 tahun terakhir.
Sementara itu, jumlah kematian terus meningkat di masyarakat yang menua dengan cepat, dengan tantangan demografis ganda berupa penurunan angka kelahiran dan peningkatan angka kematian yang menimbulkan apa yang digambarkan Pemerintah sebagai tantangan eksistensial.
Sebanyak 29.864 bayi lahir pada 2025, 11,4 persen lebih sedikit daripada 33.703 kelahiran di 2024.
Angka tersebut berdasarkan Laporan Pendaftaran Kelahiran dan Kematian 2025 yang dirilis oleh Otoritas Imigrasi dan Pos Pemeriksaan (ICA) pada 27 Juli.
Pada 1965, tahun kemerdekaan Singapura, 55.725 bayi lahir.
Dari 1970-an hingga 1990-an, jumlah kelahiran tahunan berkisar antara lebih dari 40.000 hingga lebih dari 50.000 di sebagian besar tahun.
Dalam dua dekade terakhir, kelahiran tahunan telah turun di bawah 40.000 di sebagian besar tahun.
Laporan ICA ini muncul sekitar lima bulan setelah Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong mengatakan pada Februari bahwa angka kesuburan total (TFR) penduduk turun ke titik terendah baru yaitu 0,87 pada 2025. TFR mengacu pada jumlah rata-rata bayi yang akan dimiliki setiap wanita selama masa reproduksinya.
Dengan angka kelahiran yang turun tajam, populasi warga negara Singapura mungkin akan mulai menyusut pada awal 2040-an jika tak ada perubahan.
Para ahli telah menghubungkan masalah penurunan angka kelahiran di Singapura dengan semakin banyak warga Singapura yang tetap melajan, serta pasangan menikah yang memiliki sedikit atau tidak memiliki anak.
Untuk mengatasi masalah ini, Kelompok Kerja Penataan Ulang Pernikahan dan Pengasuhan Anak dibentuk pada awal tahun 2026 untuk mendukung warga Singapura dalam menikah dan memiliki anak. (Wahyu Dwi Anggoro)










