Peluang Rebound IHSG di Semester II-2026, Kebijakan hingga MSCI Jadi Fokus

Peluang Rebound IHSG di Semester II-2026, Kebijakan hingga MSCI Jadi Fokus

Ekonomi | idxchannel | Senin, 27 Juli 2026 - 06:34
share

IDXChannel – Prospek pasar saham Indonesia dinilai mulai membaik memasuki semester II-2026 seiring stabilisasi nilai tukar rupiah, kebijakan fiskal dan moneter yang lebih hati-hati, serta valuasi saham yang masih menarik.

Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko, mulai dari harga minyak dunia, perlambatan ekonomi, hingga evaluasi Indonesia oleh penyedia indeks global, terutama MSCI.

Analis CGS Internasional Sekuritas Indonesia (CGSI) Hadi Soegiarto, Wisnu Trihatmojo, dan Elizabeth Noviana dalam riset yang terbit pada 23 Juli 2026 menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi telah mencapai titik terendah (bottomed) tahun ini.

Mereka mempertahankan target IHSG di level 7.000 pada akhir 2026, yang mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 12 persen dari posisi saat ini.

Menurut CGSI, salah satu faktor utama yang menopang optimisme tersebut adalah mulai stabilnya rupiah setelah Bank Indonesia (BI) mengambil langkah lebih agresif menjaga stabilitas pasar keuangan.

Kenaikan suku bunga darurat sebesar 25 basis poin pada Juni 2026 dan peningkatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) berhasil menarik arus modal asing sekitar USD2,5 miliar ke SRBI dan obligasi pemerintah sepanjang Juni.

Tekanan terhadap rupiah juga dinilai mulai mereda setelah berakhirnya musim repatriasi dividen pada Mei dan Juni.

Di sisi lain, pemerintah mulai menunjukkan komitmen memperbaiki disiplin fiskal, termasuk memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta mengurangi target pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes).

Meski prospeknya membaik, CGSI mengingatkan tantangan terbesar pemerintah adalah menjaga keseimbangan antara belanja berbagai program prioritas dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi, volatilitas suku bunga global, serta lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena dapat memperbesar beban subsidi energi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak.

Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu konsisten menjalankan berbagai penyesuaian kebijakan, termasuk fleksibilitas suku bunga, penyesuaian harga BBM nonsubsidi, hingga pengurangan intervensi di sektor komoditas agar kepercayaan investor terus membaik.

Sentimen positif lainnya datang dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level investment grade dengan outlook stabil.

Menurut CGSI, keputusan tersebut menjadi kejutan positif karena sebelumnya pasar mengantisipasi kemungkinan revisi outlook menjadi negatif.

CGSI menilai keputusan S&P memperkuat keyakinan bahwa Indonesia masih memiliki fundamental makro yang relatif terjaga, didukung pertumbuhan ekonomi yang stabil, defisit fiskal yang terkendali, pemulihan penerimaan negara, serta fleksibilitas kebijakan pemerintah.

Keputusan tersebut juga dinilai membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Menurut CGSI, afirmasi S&P juga membuka peluang biaya pendanaan pemerintah dan korporasi mulai mencapai puncaknya.

Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia yang relatif tinggi dibandingkan negara berkembang lain dinilai berpotensi kembali menarik arus modal asing, sehingga memberikan dukungan bagi rupiah dan mengurangi kebutuhan kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Bank Indonesia.

Di samping afirmasi S&P, CGSI juga menilai implementasi PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) berlangsung lebih moderat dibandingkan kekhawatiran awal investor.

Menurut mereka, Danantara berulang kali menegaskan tetap menghormati kontrak komersial yang telah ditandatangani dengan pembeli global.

Pada masa transisi semester II-2026, DSI disebut lebih berperan sebagai fasilitator dan pelacak digital dibanding mengubah hubungan dagang yang telah ada.

Meski demikian, PP 24/2026 tetap memberikan ruang bagi DSI untuk menjadi eksportir tunggal atau mengambil margin yang dinilai wajar.

Selain faktor domestik, perhatian pasar juga akan tertuju pada hasil evaluasi FTSE Russell dan MSCI pada September hingga akhir Oktober 2026.

Kedua penyedia indeks global tersebut masih membekukan kenaikan bobot Indonesia sambil memantau efektivitas berbagai reformasi pasar yang dilakukan regulator.

CGSI menilai hasil evaluasi tersebut masih sulit diprediksi karena MSCI menekankan pentingnya implementasi reformasi yang konsisten dan berkelanjutan, khususnya terkait transparansi kepemilikan saham dan kualitas free float.

Apabila dinilai belum memadai, MSCI bahkan membuka peluang memulai konsultasi mengenai perubahan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, valuasi saham Indonesia dinilai masih sangat menarik.

Cakupan emiten yang dianalisis CGSI saat ini diperdagangkan pada valuasi sekitar 8,1 kali price to earnings (P/E) 2026, meski diperkirakan mampu membukukan pertumbuhan laba per saham (EPS) sekitar 8 persen dengan dividend yield rata-rata 5 persen.

CGSI memperkirakan valuasi tersebut berpeluang mengalami re-rating menuju 9,5 kali P/E apabila pemerintah mampu menjalankan agenda perbaikan fiskal secara konsisten dan menjaga stabilitas kebijakan.

Dalam kondisi tersebut, investor disarankan tetap melakukan diversifikasi portofolio lintas sektor untuk mengurangi risiko kebijakan yang bersifat sektoral.

Saham pilihan utama CGSI pada semester II-2026 meliputi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Astra International Tbk (ASII).

Kemudian, nama-nama lainnya, PT Timah Tbk (TINS), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM). (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik