Proyeksi Harga Emas Dunia Sepekan, Pasar Fokus ke The Fed dan Konflik Timur Tengah
IDXChannel – Harga emas dunia diproyeksikan bergerak volatil pada pekan ini, didukung meredanya lonjakan harga minyak, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, serta ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed).
Pada perdagangan Jumat (24/7/2026), harga emas spot ditutup menguat tipis 0,08 persen ke USD4.052,84 per troy ons, setelah sehari sebelumnya terkoreksi sekitar 2 persen.
Secara mingguan, logam mulia tersebut masih mencatat kenaikan sekitar 0,88 persen berkat aksi beli saat harga melemah (buy on dip).
Analis logam independen Tai Wong menilai, dikutip Reuters, emas mulai membentuk area support yang kuat di sekitar USD3.950 per troy ons, meski imbal hasil obligasi AS masih bertahan tinggi.
Menurut dia, jika The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan ini, harga emas berpeluang kembali melanjutkan penguatan.
Di sisi lain, harga minyak Brent turun lebih dari 4 persen pada Jumat setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 7 persen hingga ditutup di atas USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.
Pergerakan minyak dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker Saudi di Laut Merah.
Sejak konflik yang didukung AS terhadap Iran pecah pada akhir Februari, harga emas telah terkoreksi sekitar 23 persen.
Tekanan tersebut muncul karena pasar memperkirakan lonjakan inflasi akibat perang dapat mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang tinggi cenderung mengurangi daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil.
Fokus utama investor pada pekan ini adalah hasil rapat kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan pada Rabu waktu AS.
Konsensus pasar memperkirakan bank sentral mempertahankan suku bunga acuannya, namun pelaku pasar tetap mencermati sinyal mengenai arah kebijakan berikutnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 82 persen bahwa The Fed kembali menaikkan suku bunga pada September.
Sementara itu, survei mingguan Kitco News menunjukkan pandangan analis Wall Street masih cenderung berhati-hati terhadap prospek emas jangka pendek, sedangkan investor ritel mulai lebih optimistis setelah level psikologis USD4.000 kembali mampu bertahan.
Dari 18 analis yang mengikuti survei, empat orang atau 22 persen memperkirakan harga emas naik pekan ini. Sebanyak tujuh analis atau 39 persen memprediksi harga melemah, sementara tujuh lainnya memperkirakan emas bergerak mendatar.
Sebaliknya, sentimen investor ritel lebih positif. Dari 249 responden, sebanyak 147 orang atau 59 persen memperkirakan harga emas menguat, 48 responden atau 19 persen memprediksi penurunan, sedangkan 22 persen sisanya memperkirakan harga bergerak konsolidasi.
Selain keputusan The Fed, pasar juga akan mencermati serangkaian data ekonomi penting sepanjang pekan.
Agenda tersebut meliputi data kepercayaan konsumen AS pada Selasa, keputusan suku bunga Bank of England dan Bank of Japan, rilis produk domestik bruto (PDB) AS kuartal II, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), klaim pengangguran mingguan, hingga survei akhir sentimen konsumen Universitas Michigan pada Jumat. (Aldo Fernando)










