Harga Emas Pekan Depan Diproyeksi Fluktuatif, Ini Sederet Sentimennya

Harga Emas Pekan Depan Diproyeksi Fluktuatif, Ini Sederet Sentimennya

Ekonomi | idxchannel | Minggu, 26 Juli 2026 - 23:44
share

IDXChannel - Harga emas dunia masih rentan fluktuatif pada perdagangan pekan depan. Adapun harga emas naik 0,1 persen menjadi USD4.052,78 per troy ons pada Jumat setelah minyak mentah Brent turun dari level di atas USD100 per barel. Harga emas sempat merosot sekitar 2 persen pada sesi sebelumnya

Investor akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap inflasi menjelang keputusan suku bunga Amerika Serikat (AS) pekan depan.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, jika harga emas terkoreksi, support pertama diperkirakan berada pada USD3.968 per troy ons dan logam mulia di Rp2.592.000 per gram.

“Apabila terkoreksi kembali, support kedua di USD3.871 dolar per troy ons, dan logam mulia di Rp2.440.000 per gram,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (26/7/2026).

Namun, Ibrahim masih melihat peluang kenaikan harga emas dunia. Jika itu terjadi, dia memperkirakan resisten pertama berada di USD4.148 dengan logam mulia di Rp2.628.530 per gram. Kemudian, jika lanjut menguat, dia memperkirakan resisten kedua berada di USD4.240 per troy ons dan logam mulia di Rp2.740.000 per gram. 

Ibrahim merinci sederet faktor yang masih memengaruhi pergerakan harga emas. Pertama, faktor geopolitik di mana perang di Timur Tengah meluas. Houthi melakukan penyerangan terhadap bandara di Arab Saudi, begitu juga dengan Ukraina yang menyerang kapal berisi persenjataan dari Rusia ke Iran di Laut Kaspia.

Selain itu, Amerika Serikat telah mengumumkan kebijakan tarif baru berkisar 10-12,5 persen terhadap barang impor dari 60 negara mitranya, mulai dari kawasan Eropa, China, hingga India yang merepresentasikan sekitar 99,4 persen dari total nilai impor AS.

“Ini yang kemungkinan besar akan memanaskan situasi di luar geopolitik. Kemudian kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), kita tahu bahwa minggu depan mereka akan melakukan pertemuan dengan kondisi harga minyak yang terus mengalami kenaikan. Hal ini akan mengangkat isu inflasi, inflasi tinggi berarti akan membuat Bank Sentral Amerika pertahankan suku bunga,” ujar Ibrahim.


(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik