Kerugian Akibat Kemacetan di Jabodetabek Tembus Rp100 Triliun, SIG (SMGR) Tawarkan Solusi Ini

Kerugian Akibat Kemacetan di Jabodetabek Tembus Rp100 Triliun, SIG (SMGR) Tawarkan Solusi Ini

Ekonomi | idxchannel | Sabtu, 9 Mei 2026 - 18:14
share

IDXChannel - Nilai kerugian ekonomi akibat kemacetan yang terjadi di kawasan Jabodetabek diperkirakan mencapai angka Rp100 triliun per tahun.

Besaran tersebut didasarkan pada data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration (JUTPI) fase II tahun 2019, yang mengidentifikasi bahwa kerugian tidak hanya dirasakan secara ekonomi, melainkan juga meningkatnya tingkat polusi di udara, sehingga memantik merosotnya kualitas hidup masyarakat secara luas.

Dalam data tersebut juga disebutkan deretan penyebab terjadinya kemacetan, mulai dari tingkat kepadatan kendaraan hingga tingginya mobilitas masyarakat urban perkotaan, serta kebutuhan perbaikan jalan yang datang silih berganti, dan membutuhkan waktu pengerjaan yang relatif lama.

"Untuk perbaikan (jalan) secara konvensional, kita butuh waktu sekitar satu hingga dua minggu. Cukup lama, dan relatif mengganggu. Karena itu, kami sebagai produsen semen, coba berinovasi dan kemudian menghasilkan produk beton cepat kering, yaitu SpeedCrete," ujar Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, dalam keterangan resminya, Jumat (8/5/2026).

Menurut Vita, produk baru ini sengaja dirancang untuk menjawab tantangan perbaikan infrastruktur jalan dengan masa pengerjaan yang jauh lebih cepat dan efisien.

Produk SpeedCrete menggunakan teknologi rapid setting yang memungkinkan beton mencapai kekuatan awal dan siap digunakan dalam beberapa jam setelah pengaplikasian, sehingga pekerjaan perbaikan jalan dapat dilakukan lebih cepat tanpa mengganggu aktivitas masyarakat secara signifikan.

Fleksibilitas waktu setting yang tersedia, mulai dari tiga hingga 12 jam, memungkinkan solusi ini disesuaikan dengan kebutuhan proyek dan tingkat kepadatan lalu lintas di berbagai wilayah.

"Dengan keunggulan ini, SpeedCrete memberikan efisiensi waktu yang signifikan sekaligus meminimalisasi potensi munculnya kerugian ekonomi dari kemacetan, akibat proses perbaikan yang terlalu lama," ujar Vita.

Sedangkan bagi SIG sendiri, hadirnya produk baru SpeedCrete ini merupakan bagian dari transformasi industri konstruksi melalui solusi derivatif bernilai tambah.

Tak hanya itu, inovasi bisnis kali ini juga diharapkan dapat semakin memperkuat peran SIG sebagai penyedia solusi konstruksi terintegrasi yang relevan dengan kebutuhan pasar modern.

"SpeedCrete tidak hanya menawarkan kecepatan pengerjaan, tapi juga memberikan nilai tambah dari sisi efisiensi biaya dan keberlanjutan lingkungan. Ini sejalan dengan komitmen kami SIG untuk terus menghadirkan produk dan layanan yang mampu meningkatkan daya saing sektor konstruksi nasional," ujar VIta.

Selain menghadirkan produk inovatif, SIG juga menawarkan layanan terintegrasi dalam implementasi SpeedCrete yang mencakup manajemen lalu lintas, pembongkaran perkerasan lama, pengecoran, hingga pembukaan kembali jalan dalam waktu singkat.

Proses pengerjaan yang umumnya dilakukan pada malam hari memungkinkan jalan kembali digunakan pada pagi hari, sehingga dampak terhadap pengguna jalan dapat lebih diminimalisasi.

"Pola pendekatan ini semakin memperkuat posisi SIG sebagai mitra strategis dalam mendukung percepatan pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur," ujar Vita.

Sejauh ini, SpeedCrete telah banyak diaplikasikan pada berbagai proyek strategis di Indonesia, antara lain perbaikan jalur Bus TransJakarta, kawasan Bundaran Patung Pemuda, Terminal Petikemas Koja, serta sejumlah ruas jalan tol, seperti Tol Bakauheni-Terbanggi Besar-Permata Panggang-Kayu Agung, Tol Jakarta-Merak, Tol Jabodetabek, Tol Pejagan-Pemalang, Tol Surabaya–Mojokerto, dan Tol Surabaya–Gempol. 
"Lewat implementasi ini, menunjukkan keandalan solusi SpeedCrete dalam mendukung percepatan proyek tanpa mengorbankan kualitas konstruksi. Ke depan, SIG optimistis inovasi ini akan semakin memperkuat kontribusi perusahaan dalam pembangunan infrastruktur nasional yang efisien dan berkelanjutan," ujar Vita.

(taufan sukma)

Topik Menarik