Saham BBCA Rebound dalam Sepekan, Buyback & Dividen Jadi Katalis

Saham BBCA Rebound dalam Sepekan, Buyback & Dividen Jadi Katalis

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 8 Mei 2026 - 21:24
share

IDXChannel - Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat menguat 5,56 persen sepanjang pekan ini, melampaui kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya naik 0,18 persen pada periode yang sama.

Penguatan tersebut terjadi setelah BBCA sempat terkoreksi ke level terendahnya sepanjang 2026 di Rp5.850 per saham, yang juga menjadi posisi terendah sejak 4 November 2020. Saat ini, harga saham BBCA kembali bergerak di atas level Rp6.000 per saham.

Pergerakan BBCA di tengah tekanan pasar dinilai dipengaruhi oleh valuasi yang mulai menarik, disertai aksi korporasi seperti buyback saham dan pembagian dividen kuartalan.

Berdasarkan riset Indo Premier Sekuritas yang disusun Jovent Muliadi dan Axel Azriel, BBCA saat ini diperdagangkan pada valuasi yang relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya.

Price to book value (PBV) berada di kisaran 2,7 kali dan price to earnings ratio (PER) sekitar 13 kali untuk proyeksi 2026, di bawah rerata 10 tahun yang masing-masing berada di level PBV 3,8 kali dan PER 20,9 kali.

Diskon valuasi tersebut memunculkan pandangan bahwa tekanan harga belakangan ini dapat membuka ruang akumulasi bagi investor.

Di sisi lain, kinerja operasional BCA masih dinilai stabil, baik dari sisi pertumbuhan kredit maupun kualitas aset.

Hingga akhir Maret 2026, penyaluran kredit BCA tercatat mencapai Rp994 triliun atau tumbuh 6 persen secara tahunan. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) tetap terjaga di level 1,8 persen.

Head of Research MNC Sekuritas, Victoria Venny, menilai tekanan terhadap valuasi BBCA lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibanding perubahan fundamental perseroan.

Menurutnya, kondisi tersebut menciptakan jarak antara harga pasar dan kinerja perusahaan.

“Di tengah kinerja yang tetap solid dari BCA, tekanan terhadap valuasi memang membuat adanya diskoneksi antara fundamental dan harga. Namun BCA tidak tinggal diam, untuk memberikan sinyal kuat bahwa harga sahamnya undervalued dan prospek positif, mereka menjalankan buyback,” ujar Venny.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, BCA telah memulai program pembelian kembali saham sejak 28 April 2026. Program buyback itu akan berlangsung hingga 11 Maret 2027 dengan total anggaran maksimal Rp5 triliun.

Menurut Venny, aksi buyback tersebut dapat menjadi penyangga (buffer) ketika tekanan jual meningkat di pasar, khususnya akibat sentimen global dan arus keluar dana asing.

Kehadiran emiten sebagai pembeli di pasar dinilai dapat membantu menjaga stabilitas harga saham.

“Ini menunjukkan komitmen BCA untuk hadir di market dan tetap fokus pada investor, dan mereka tidak tinggal diam. Aksi korporasi lain yang seharusnya ditangkap secara positif adalah pembagian dividen secara kuartalan,” imbuh dia.

Kebijakan pembagian dividen kuartalan juga dipandang dapat menjaga daya tarik saham di tengah volatilitas pasar.

Dengan distribusi dividen yang lebih rutin, investor dinilai memiliki visibilitas arus kas yang lebih jelas.

Venny menambahkan, pembayaran dividen kuartalan dapat memberikan kepastian cash flow bagi investor di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi.

Selain itu, valuasi BBCA yang berada di bawah rata-rata historis turut membuat dividend yield terlihat lebih menarik.

Lebih lanjut, strategi alokasi modal yang dijalankan BBCA dinilai mencerminkan pendekatan yang disiplin dan proaktif. Kombinasi buyback dan dividen kuartalan menjadi sinyal bahwa manajemen berupaya menjaga penciptaan nilai bagi pemegang saham.

Dengan fundamental yang masih solid dan valuasi yang lebih rendah dibandingkan historisnya, ruang rerating saham BBCA dinilai masih terbuka apabila tekanan eksternal mulai mereda.

Dalam kondisi tersebut, aksi korporasi dinilai dapat menjadi salah satu faktor yang menopang sentimen pasar.

BCA juga baru saja melaporkan kinerja kuartal I-2026 dengan laba bersih tumbuh 4 persen menjadi Rp14,7 triliun.

Kinerja tersebut ditopang pendapatan bunga bersih sebesar Rp21,2 triliun serta kenaikan pendapatan non-bunga 16 persen menjadi Rp6,7 triliun.

Sementara itu, beban operasional tercatat sebesar Rp8,5 triliun dan beban pencadangan mencapai Rp1,2 triliun sebagai bagian dari langkah antisipatif dan penguatan manajemen risiko. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik