Impor Minyak dari Rusia Bukan Hanya untuk BBM tapi Juga Memenuhi Kebutuhan Industri

Impor Minyak dari Rusia Bukan Hanya untuk BBM tapi Juga Memenuhi Kebutuhan Industri

Terkini | idxchannel | Jum'at, 24 April 2026 - 16:50
share

IDXChannel - Wakil Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, rencana impor minyak mentah sebanyak 150 juta barel dari Rusia tidak hanya untuk pemenuhan dalam negeri, namun juga untuk pemenuhan industri.

Yuliot menerangkan, impor minyak dari Rusia tidak diserap seluruhnya oleh PT Pertamina (Persero). Sebab, nantinya para pelaku industri bisa langsung membeli minyak tersebut untuk kebutuhan aktivitas pertambangan, hingga pabrik petrokimia, sebagai bahan baku utama untuk memproduksi plastik, karet sintetik, serat pakaian, pupuk, dan deterjen.

"Ini kan juga ada industri juga ya kemudian ada kegiatan tambang juga, jadi kita bisa distribusikan untuk bahan baku petrokimia, kan juga diperlukan," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Pada kesempatan tersebut, dia juga menerangkan, pemerintah berencana membuat Badan Layanan Umum (BLU) yang akan melakukan transaksi langsung dengan pihak Rusia terkait pembelian minyak mentah sebanyak 150 juta barel.

Dia menilai pembelian minyak mentah sebesar itu memiliki konsekuensi jika dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) sebagai badan usaha. Pembentukan BLU dinilai akan lebih cepat melakukan transaksi karena punya kemudahan dari sisi pendanaan.

"BUMN kan juga sudah ada kontrak-kontrak dengan pihak lain ya. Kemudian untuk pemenuhan di dalam negeri bagaimana proses pengadaannya, bagaimana pembiayaan itu kan konsekuensinya proses pengadaan. Kalau di-BUMN-kan harus melalui tender terlebih dulu ya kalau ini kan skemanya adalah G2G. Jadi untuk ini konsekuensi itu yang saya maksudkan," katanya. 

Saat ini, kata dia, pemerintah tengah melakukan penyusunan regulasi terkait pembentukan BLU impor minyak. Melalui BLU ini, nantinya badan usaha bisa langsung melakukan pembelian minyak mentah untuk kebutuhan industrinya masing-masing. 

"Opsi ini kita sedang siapkan payung regulasinya. Karena kalau BUMN itu ada konsekuensi. Kemudian kalau BLU, itu apakah ada kemudahan termasuk pembiayaan juga. Kita sedang bahas antar kementerian/lembaga," kata dia.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik