Siapkan Persenjataan dan Personel! Iran Siaga Tempur 100 Persen, Tuding AS Ulur Waktu Lewat Gencatan Senjata Selama 3 Minggu
TEHERAN, iNews.id – Iran menilai keputusan Amerika Serikat (AS) memperpanjang gencatan senjata sebagai taktik untuk mengulur waktu. Teheran menegaskan militernya berada dalam kesiapan penuh menghadapi kemungkinan konflik terbuka.
Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, secara sepihak mengumumkan perpanjangan gencatan senjata, meski Iran menyatakan tidak pernah mengajukan permintaan tersebut. Kesepakatan sebelumnya yang berlaku selama dua pekan diketahui berakhir pada Rabu (22/4/2026).
Penasihat ketua parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, menilai langkah Washington tidak relevan dan hanya menunjukkan upaya menunda konflik tanpa solusi konkret.
Ia menegaskan, Iran memandang kebijakan tersebut sebagai strategi pengulur waktu, bukan langkah menuju perdamaian.
“Keputusan Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tidak relevan. Melanjutkan blokade laut tidak berbeda dengan melancarkan serangan, sehingga respons militer diperlukan,” ujarnya, dikutip dari Sputnik.
Sementara itu, kantor berita Tasnim News Agency melaporkan tidak ada permintaan dari Iran untuk memperpanjang kesepakatan tersebut. Namun Trump tetap menyatakan gencatan senjata diperpanjang hingga Teheran mengajukan proposal damai.
Di tengah wacana perdamaian, AS disebut masih menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan global.
Trump juga mengklaim kebijakan itu diambil atas permintaan pejabat Pakistan, yakni Panglima Militer Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif, serta menyinggung adanya perbedaan pandangan internal di Iran terkait perundingan damai.
Di sisi lain, militer Iran menegaskan kesiapan tempur penuh. Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam Al Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan pasukan Iran telah lama berada dalam kondisi siaga maksimal.
“Angkatan bersenjata kami berada dalam kesiapan tempur 100 persen,” ujarnya.
Ia menambahkan, setiap serangan atau tindakan terhadap Iran akan dibalas dengan serangan tegas ke target yang telah ditentukan.
“Ini untuk memberi pelajaran yang lebih keras kepada AS dan Israel,” katanya.










