Anindya Sebut Dunia Usaha Butuh Bantuan Supaya Tetap Bertahan di Tengah Tekanan Geopolitik

Anindya Sebut Dunia Usaha Butuh Bantuan Supaya Tetap Bertahan di Tengah Tekanan Geopolitik

Terkini | idxchannel | Jum'at, 24 April 2026 - 14:34
share

IDXChannel - Ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi rantai pasok bisnis membuat kalangan pengusaha bergantung bantuan pemerintah sebagai salah satu bantalan fiskal. Keberpihakan pemerintah kepada industri dinantikan demi menyiasati tekanan pada arus keuangan perusahaan.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mengatakan, bantuan dari perbankan untuk menjaga fundamental perusahaan menjadi vital saat ini. Seturut itu, keringanan soal bunga utang dari perbankan juga diperlukan.

"Di satu sisi, kami mesti jaga kesehatan keuangan, di lain sisi juga para pelaku usaha membutuhkan sedikit keringanan. Ini bagaimana inconvenience bisa dilalui dengan memberikan suatu fleksibilitas dari sisi cashflow," kata Anin saat dijumpai di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Anin menyoroti kestabilan keuangan perusahaan yang berlabel mapan sejauh ini menciptakan efek rambatan ke pelaku usaha UMKM. Atas dasar itu, dampak keuangan yang dialami perusahaan sebagai industri hulu bakal berdampak ke sektor usaha di level terkecil.

Setidaknya, kata Anin, kalangan industri semua sektor terutama yang berkapitalisasi besar mesti memiliki kekuatan finansial sampai dua kuartal ke depan pada tahun ini. Ketahanan fiskal perusahaan ini salah satunya untuk memastikan efisiensi yang berujung PHK massal dapat diminimalisir.

"Saya rasa itu (ketahanan keuangan) yang paling penting. Karena kalau bisa cashflow-nya dijaga selama enam bulan ke depan," kata Anin.

Merujuk survei Kadin Indonesia Institute yang memberikan gambaran dunia usaha di kuartal I-2026 menunjukkan konflik geopolitik memberikan tekanan yang cukup besar, terutama melalui kenaikan biaya dan pelemahan permintaan.

Dampak terbesar terlihat pada lonjakan harga energi atau komoditas sebesar 20,9 persen, yang menunjukkan ketegangan global mendorongkenaikan harga input produksi dan biaya operasional, sehingga menekan margin usaha di berbagai sektor.

Selain itu, depresiasi nilai tukar rupiah (16,2 persen) dan penurunan permintaan pasar (16,2 persen) menjadi dampak signifikan lainnya. Pelemahan nilai tukar meningkatkan biaya impor bahan baku, sementara permintaan yangmenurun mencerminkan melemahnya daya beli dan aktivitas perdagangan,baik domestik maupun global.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik