Prospek Harga Minyak Sepekan, WTI Rentan Bergerak di Kisaran USD60-USD66
IDXChannel – Harga minyak ditutup menguat tipis pada Jumat (14/2/2026) lalu setelah data menunjukkan perlambatan inflasi secara keseluruhan di Amerika Serikat (AS), sehingga membantu meredam kekhawatiran pasokan ketika OPEC+ condong melanjutkan kenaikan produksi.
Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup naik 0,3 persen, menjadi USD67,75 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 5 sen, atau 0,08 persen, ke USD62,89 per barel.
Kedua acuan mencatat penurunan mingguan setelah sebelumnya merosot hampir 3 persen pada Kamis. Brent ditutup turun sekitar 0,5 persen dalam sepekan, sedangkan WTI kehilangan 1 persen.
Harga konsumen AS meningkat lebih rendah dari perkiraan pada Januari, didorong harga bensin yang lebih murah dan perlambatan inflasi sewa.
Proyeksi Sepekan
Harga minyak mentah jenis WTI diperkirakan bergerak dalam rentang spekulatif USD60,64 hingga USD66,20 per barel pada perdagangan sepekan ke depan.
Analis DailyForex, Robert Petrucci, menilai WTI saat ini masih berada dalam posisi yang relatif kurang stabil di area harga bawah jika dibandingkan dengan rata-rata historisnya.
Meski secara jangka panjang harga tergolong rendah, aktivitas pengeboran dan produksi di Amerika Serikat tetap kuat sehingga menjaga pasokan tetap solid.
Menurut Petrucci, bayang-bayang ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk isu terkait Iran, memang menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Namun, ia menilai pelaku pasar besar cenderung tetap tenang. Dalam setahun terakhir, berbagai sentimen geopolitik dari kawasan tersebut tidak mampu mendorong reli beli besar yang berkelanjutan.
WTI di bawah level USD63 per barel mungkin terlihat murah bagi sebagian pelaku pasar.
Namun, secara historis harga komoditas ini pernah berada di level yang lebih rendah dalam periode yang belum terlalu lama berlalu.
Dari sisi fundamental, data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan, tercermin dari rilis CPI terbaru, turut dipengaruhi oleh harga bensin yang lebih murah.
Hal ini mengindikasikan bahwa pasokan minyak, termasuk WTI, masih dalam kondisi cukup dan belum menunjukkan tanda-tanda pengetatan dalam jangka menengah.
Petrucci menambahkan, selama tidak terjadi eskalasi signifikan di Timur Tengah, kecenderungan harga untuk tetap menguji area bawah dalam waktu dekat bukanlah skenario yang keliru.
Dengan suplai yang stabil dan pelaku pasar besar yang relatif tenang, pergerakan WTI sepekan ke depan dinilai masih dibayangi tekanan, meski tetap terbuka ruang rebound teknikal di area atas kisaran tersebut. (Aldo Fernando)










