IHSG Pekan Ini Diproyeksi Berfluktuasi Tajam Menanti Keputusan Final MSCI

IHSG Pekan Ini Diproyeksi Berfluktuasi Tajam Menanti Keputusan Final MSCI

Ekonomi | idxchannel | Senin, 16 Februari 2026 - 06:14
share

IDXChannel - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini diwarnai fluktuasi tajam di tengah ketidakpastian status Indonesia dalam indeks global MSCI.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai meski sempat ada tren penguatan pada IHSG MSCI, hal itu belum menjadi sinyal pemulihan kepercayaan investor secara penuh.

Hal ini terlihat dari masih derasnya aksi jual bersih (net outflow) investor asing pada saham-saham blue chip seperti BBCA.

“Untuk saat ini, kami belum melihat tanda-tanda penguatan yang berkelanjutan, meskipun regulator dan bursa telah mengeluarkan sejumlah kebijakan guna memperbaiki persepsi, kredibilitas, serta tingkat investabilitas pasar,” kata Rully dalam risetnya, Minggu (15/2/2026).

“Kami menilai sebelum MSCI mengumumkan keputusan final terkait status pasar saham Indonesia, risiko volatilitas IHSG masih tinggi dengan potensi berlanjutnya tekanan jual dari investor asing,” tambahnya.

Rully menambahkan bahwa arah pasar ke depan sangat bergantung pada tiga faktor utama, yaitu keputusan akhir MSCI, arus modal asing, serta kebijakan suku bunga The Fed.

Meski demikian, fundamental dalam negeri seperti inflasi yang rendah masih memberikan harapan bagi saham-saham domestik.

“Stabilitas makroekonomi yang relatif terjaga, inflasi rendah, serta potensi pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia dapat menjadi katalis positif bagi saham-saham berorientasi domestik. Namun demikian, kami melihat investor akan tetap selektif hingga terdapat kepastian lebih lanjut mengenai status Indonesia dalam klasifikasi pasar MSCI serta arah kebijakan moneter global,” lanjut Rully.

Menghadapi pasar yang cenderung spekulatif, Head of Fund Services Mirae Asset Sekuritas, Francisca Gerungan, menekankan pentingnya disiplin dalam berinvestasi. Ia menyarankan investor, terutama nasabah ritel, untuk memanfaatkan instrumen reksa dana guna meminimalisir risiko harian.

“Dalam situasi pasar yang bergerak cepat dan cenderung spekulatif, investor sebaiknya tidak terjebak pada euforia jangka pendek. Diversifikasi menjadi strategi yang semakin krusial untuk menjaga stabilitas portofolio,” ujar Francisca.

Hingga Januari 2026, Mirae Asset mencatatkan pertumbuhan nasabah ritel di instrumen reksa dana sebesar 15 persen secara tahunan. Francisca menilai reksa dana sangat cocok untuk mengelola risiko secara dinamis di tengah ketidakpastian.

“Reksa dana memberikan diversifikasi secara otomatis, baik dari sisi sektor maupun jenis aset, serta dikelola secara konsisten oleh manajer investasi profesional. Di tengah volatilitas seperti saat ini, pendekatan yang terukur dan berbasis profil risiko jauh lebih penting dibandingkan mengejar momentum sesaat,” kata dia.

Bagi investor yang ingin bermain lebih aman pekan depan, Francisca menyarankan alokasi pada reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap. Sementara bagi yang ingin tetap menangkap peluang di pasar saham, reksa dana campuran menjadi opsi yang fleksibel.

“Pasar yang fluktuatif bukan alasan untuk keluar sepenuhnya, tetapi menjadi momen untuk menyusun portofolio yang lebih seimbang dan rasional. Investor perlu fokus pada konsistensi dan disiplin, bukan hanya pada pergerakan harian,” kata dia.

(Febrina Ratna Iskana)

Topik Menarik