Tenggelamkan Dolar AS, Xi Jinping: Yuan China Harus Jadi Mata Uang Cadangan Global

Tenggelamkan Dolar AS, Xi Jinping: Yuan China Harus Jadi Mata Uang Cadangan Global

Ekonomi | sindonews | Senin, 16 Februari 2026 - 08:36
share

Yuan China atau renminbi menjadi mata uang pembiayaan perdagangan kedua yang paling banyak digunakan setelah dolar AS menyusul meningkatnya konflik di Ukraina pada Februari 2022, lalu. Pemicunya adalah sanksi AS yang ditujukan kepada Moskow, mendorong banyak negara mulai berdagang dengan mata uang nasional.

Meski begitu peran Yuan China sebagai mata uang cadangan global, masih terbatas. Hal itu tidak menyurutkan semangat Presiden Xi Jinping yang menginginkan Yuan menjadi pilihan utama sebagai cadangan, namun Ia mengakui ada beberapa hal yang harus dimiliki.

Baca Juga: Pengaruh Dolar AS di Pasar Global Terancam di Tengah Politisasi LembagaBeijing harus memiliki “mata uang yang kuat, dan banyak digunakan dalam perdagangan dan investasi internasional, serta pasar valuta asing, sehingga memiliki status sebagai mata uang cadangan global,” tulis Xi dalam sebuah artikel untuk jurnal Partai Komunis, Qiushi.

"Yuan juga harus didukung oleh “bank sentral yang kuat,” ungkap presiden Xi Jinping.

Menurut Xi, perubahan ini menjadi sangat penting jika China berharap menjadi kekuatan finansial baru, lantaran sistem moneter saat ini dinilai “besar, tetapi tidak cukup kuat.”

Baca Juga: Dolar AS Kian Tersisih, 60 Transaksi BRICS Gunakan Mata Uang LokalSementara itu pada musim panas lalu, Gubernur Bank Sentral China, Pan Gongsheng memperingatkan tentang "ketergantungan berlebihan" pada dolar AS. Dia menekankan, pengaruh yuan yang semakin meningkat, dengan mengatakan bahwa "di masa depan, sistem moneter global mungkin terus berkembang menuju pola di mana beberapa mata uang negara berdaulat hidup berdampingan, saling bersaing, dan saling mengawasi serta menyeimbangkan satu sama lain."

Badan Pengawas Keuangan Federal Jerman (BaFin) juga mengingatkan, bahwa status dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia dapat digoyahkan pada 2026, akibat kekurangan pembiayaan, kejutan geopolitik, dan meningkatnya politisasi.

Peringatan tersebut muncul setelah Indeks Bloomberg Dollar Spot mencatat penurunan tajam terbesar sejak April lalu, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif global secara luas.

Sedangkan Trump sebelumnya menepis kekhawatiran tentang lemahnya mata uang AS, dengan mengatakan bahwa mata uang itu "berjalan dengan baik" dan seharusnya dibiarkan "mencari levelnya sendiri."

Menurut data IMF, dolar menyumbang sekitar 57 dari cadangan global pada kuartal ketiga 2025, selanjutnya diikuti oleh euro 20 dan yuan 1,93.

Pada bulan November, Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov mengatakan, 99,1 perdagangan antara Moskow dan Beijing sudah beralih ke rubel dan yuan untuk mengurangi ketergantungan pada lembaga keuangan Barat.

Topik Menarik