IHSG Reli Meski Ada Kabar FTSE, Analis: Sudah Diantisipasi

IHSG Reli Meski Ada Kabar FTSE, Analis: Sudah Diantisipasi

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 10 Februari 2026 - 10:54
share

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melesat pada perdagangan Selasa (10/2/2026), melanjutkan reli sehari sebelumnya, meski pasar masih dibayangi kabar penundaan review indeks Indonesia oleh FTSE Russell.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.09 WIB, IHSG melejit 1,21 persen ke 8.128,69. Nilai transaksi mencapai Rp7,20 triliun dan volume perdagangan 16,75 miliar saham.

Sebanyak 571 saham naik, 144 saham turun, dan 243 saham stagnan.

Saham-saham konglomerat dari Grup Bakrie hingga Barito menjadi penopang utama pasar.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Grup Bakrie-Salim, misalnya, masing-masing meningkat 7,50 persen ke Rp258 per unit dan 3,47 persen menjadi Rp1.045 per unit.

Dari Grup Barito besutan Prajogo Pangestu, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), ambil contoh, melompat 5,26 persen dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) 2,76 persen.

Menurut pengamat pasar modal Michael Yeoh, pergerakan IHSG menunjukkan bahwa pengumuman FTSE tampaknya sudah diantisipasi pelaku pasar.

“Terlihat sepertinya pengumuman FTSE sudah priced in dengan IHSG saat ini, karena terlihat IHSG tidak merespons dengan ekstrem,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).

Ia menilai reaksi pasar yang relatif tenang ini mengindikasikan bahwa investor telah lebih dulu memperhitungkan implikasi kebijakan tersebut dalam harga saham.

Michael juga menyoroti pernyataan penting dari FTSE yang kerap luput dari perhatian.

“Jika kita perhatikan, ada pernyataan penting dari FTSE yang mengatakan bahwa ini bukan penilaian terhadap klasifikasi negara,” katanya.

Pernyataan tersebut, lanjut dia, memberi sinyal bahwa posisi Indonesia di mata FTSE tetap solid dari sisi fundamental. “Yang artinya FTSE menilai Indonesia masih strong secara size dan prospek,” imbuh Michael.

Meski volatilitas pasar mulai mereda, IHSG masih tercatat turun sekitar 11,50 persen dari rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) yang dicapai pada perdagangan intraday 20 Januari 2026.

Pengumuman FTSE

FTSE Russell memutuskan menunda pelaksanaan review indeks Indonesia yang semula dijadwalkan pada Maret 2026. Keputusan ini diambil menyusul rencana reformasi pasar modal yang sedang dijalankan otoritas dan bursa di Indonesia.

Menurut siaran pers pada Senin (9/2/2026), penundaan tersebut berkaitan dengan pengumuman Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 29 Januari 2026 mengenai komitmen memperkuat integritas dan transparansi pasar modal, yang kemudian diikuti rilis rencana reformasi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 5 Februari 2026.

FTSE Russell menyebutkan, berdasarkan masukan dari External Advisory Committees serta mempertimbangkan potensi lonjakan turnover dan ketidakpastian dalam penentuan porsi free float saham di tengah proses reformasi, review indeks Indonesia untuk Maret 2026 ditangguhkan. Kebijakan ini mengacu pada aturan Exceptional Market Disruption dalam Index Policy FTSE Russell.

FTSE Russell akan terus memantau perkembangan reformasi tersebut dan berencana menyampaikan pembaruan sebelum pengumuman review kuartalan FTSE Global Equity Index Series (GEIS) pada 22 Mei 2026, menjelang review Juni 2026.

Seiring keputusan tersebut, FTSE Russell menghentikan sementara penerapan sejumlah aksi korporasi untuk saham Indonesia yang tercatat di indeksnya.

Aksi yang ditangguhkan meliputi penambahan saham baru dari IPO atau hasil review indeks, penghapusan saham akibat review, perubahan segmen kapitalisasi, penyesuaian jumlah saham beredar, perubahan bobot investabilitas, serta rights issue, yang akan diasumsikan dijual.

Namun demikian, beberapa aksi korporasi tetap akan dijalankan. Di antaranya adalah penghapusan saham akibat merger, akuisisi, suspensi, kebangkrutan, atau delisting, aksi korporasi tanpa penambahan modal seperti stock split dan bonus saham, serta pembagian dividen baik reguler maupun dividen spesial.

FTSE Russell menegaskan, keputusan ini tidak berkaitan dengan klasifikasi negara dalam indeks ekuitas LSEG. Pengumuman klasifikasi negara selanjutnya tetap dijadwalkan pada 7 April 2026.

IHSG Dibayangi MSCI

Sebelumnya, IHSG tercatat sempat turun tajam 8 persen secara intraday pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1) lalu hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit.

Tekanan pasar mencuat setelah pengelola indeks global MSCI menyatakan akan menunda perubahan indeks hingga regulator Indonesia menuntaskan persoalan kepemilikan saham yang dinilai terlalu terkonsentrasi. Sentimen negatif terhadap pasar saham domestik kian menguat seiring penurunan outlook Indonesia oleh Moody’s, serta pemangkasan rekomendasi saham dari UBS, Goldman Sachs, dan Nomura.

Dalam penilaiannya, MSCI menyoroti adanya persoalan fundamental dari sisi investabilitas atau kelayakan investasi, dengan tingkat free float menjadi perhatian utama.

Namun, respons cepat dan serius ditunjukkan pemerintah dalam menyikapi situasi ini. Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) segera menjalin komunikasi intensif dengan MSCI, sembari bergerak menindaklanjuti sejumlah catatan krusial yang disorot lembaga indeks global tersebut.

Salah satu langkah penting yang ditempuh adalah penurunan ambang batas kewajiban pengungkapan kepemilikan saham menjadi 1 persen dari sebelumnya 5 persen. Pasar kini menanti keputusan MSCI seiring berlanjutnya diskusi antara penyedia indeks global itu dengan otoritas Indonesia. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik