Bursa Asia Reli Lagi, Nikkei Jepang Kembali Pecah Rekor

Bursa Asia Reli Lagi, Nikkei Jepang Kembali Pecah Rekor

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 10 Februari 2026 - 09:50
share

IDXChannel – Bursa saham Asia menguat untuk hari kedua berturut-turut pada perdagangan awal Selasa (10/2/2025), dipimpin reli lanjutan indeks acuan Tokyo setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi meraih kemenangan telak dalam pemilu akhir pekan lalu.

Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,4 persen, sementara Nikkei 225 melonjak 2,1 persen. Indeks utama Jepang itu mencatat kenaikan hari ketiga beruntun sekaligus menorehkan rekor tertinggi baru.

Shanghai Composite juga mendkai 0,18 persen, Hang Seng Hong Kong 0,17 persen, KOSPI Korea Selatan 0,48 persen, dan ASX 200 Australia 0,20 persen.

Di sisi lain, kontrak berjangka (futures) Wall Street Amerika Serikat (AS) sedikit mendingin setelah reli dua hari.

Kontrak berjangka S&P 500 e-mini turun 0,1 persen, memangkas sebagian penguatan Wall Street semalam.

Pada perdagangan Senin, indeks S&P 500 naik 0,5 persen dan Nasdaq Composite menguat 0,9 persen, seiring saham teknologi kembali menemukan pijakan usai tekanan jual pekan lalu yang dipicu isu kecerdasan buatan.

“Secara keseluruhan, kami sebenarnya cukup positif terhadap kondisi ekonomi, meskipun kami melihat ada beberapa potensi retakan,” ujar Kepala Fundamental Ekuitas Global Robeco, Kees Verbaas, dikutip dari Reuters.

Ia menambahkan, program investasi perusahaan-perusahaan besar justru meningkat, bukan menurun, yang biasanya berdampak positif bagi aktivitas ekonomi.

Menurut dia, sebagian besar rantai pasok kecerdasan buatan (AI) hanya dapat terwujud berkat peran pasar negara berkembang.

Dengan sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini, termasuk penjualan ritel, inflasi, serta data ketenagakerjaan yang sempat tertunda, Penasihat Ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett mengatakan pada Senin bahwa pertumbuhan lapangan kerja AS diperkirakan lebih rendah dalam beberapa bulan ke depan.

Hal ini dipengaruhi kebijakan imigrasi pemerintahan Trump yang memperlambat pertumbuhan angkatan kerja, serta pemanfaatan teknologi AI yang meningkatkan produktivitas.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, bergerak stabil di dekat level terendah bulanan di 96,97.

Indeks tersebut mencatat penurunan harian terbesar dalam dua pekan pada Senin, setelah laporan Bloomberg News menyebut regulator China menyarankan lembaga keuangan untuk membatasi kepemilikan obligasi pemerintah AS karena kekhawatiran risiko konsentrasi dan volatilitas pasar.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada Senin bahwa pejabat senior Departemen Keuangan AS mengunjungi China pekan lalu untuk memperkuat jalur komunikasi antara Washington dan Beijing.

Pasar masih mencerminkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga hingga Juni.

Kontrak berjangka Fed funds menunjukkan probabilitas tersirat sebesar 17,7 persen untuk pemangkasan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan dua hari bank sentral AS pada 18 Maret, sedikit turun dibandingkan peluang 18,4 persen pada Jumat lalu, menurut alat FedWatch milik CME Group. (Aldo Fernando)

Topik Menarik