496 Juta Penduduk India Keluar dari Kemiskinan, Ini Rahasianya!

496 Juta Penduduk India Keluar dari Kemiskinan, Ini Rahasianya!

Global | sindonews | Minggu, 1 November 2026 - 02:20
share

Bank Dunia menyatakan bahwa India berhasil mengangkat hampir setengah miliar orang keluar dari kemiskinan dalam kurun waktu sedikit lebih dari satu dekade. Pemerintahan Perdana Menteri India Narendra Modi menerapkan sejumlah kebijakan yang sangat efektif untuk menyalurkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi negara yang pesat kepada penduduk miskin.

Pencapaian ini tergolong luar biasa mengingat jumlah penduduk India terus bertambah selama periode tersebut. Saat ini, India merupakan negara dengan populasi terbanyak di dunia—setelah melampaui China pada tahun 2023—dan berhasil menekan angka kemiskinan jauh lebih cepat dibandingkan negara tetangganya di utara tersebut.

Menurut laporan Poverty and Equity Brief dari Bank Dunia edisi Oktober 2026, diperkirakan sebanyak 496 juta penduduk India telah berhasil keluar dari kemiskinan antara tahun 2011 hingga 2023.

Jumlah penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrem—dengan pendapatan rata-rata USD3 atau kurang per hari—menurun dari 27,1 menjadi hanya 2,6 dari total populasi selama periode tersebut.

Proporsi penduduk India yang hidup di bawah ambang batas kemiskinan untuk kelompok pendapatan menengah ke bawah—sebesar $4,20 per hari, diukur berdasarkan paritas daya beli (PPP) tahun 2021—menurun dari 57,7 pada tahun 2011 menjadi 16,1 pada tahun 2023.

Sebuah laporan tahun 2022, yang disusun bersama oleh Bank Dunia dan Kementerian Keuangan China, menunjukkan bahwa China telah berhasil mengeluarkan 800 juta orang dari kemiskinan, meskipun proses tersebut memakan waktu empat dekade. Beijing memulai reformasi ekonominya pada tahun 1978, dan angka pengurangan kemiskinan yang disebutkan merujuk pada data tahun 2020.

Meskipun perbandingan ini tidak sepenuhnya setara (apel dengan apel), data tersebut menunjukkan pencapaian luar biasa India, mengingat skala ekonomi India yang jauh lebih kecil. Ekonomi Tiongkok, dengan nilai USD20,85 triliun, kini merupakan yang terbesar kedua di dunia, sementara ekonomi India hanya sekitar seperlimanya, yakni USD4,5 triliun.

Peningkatan lapangan kerja—terutama di kalangan perempuan—serta perluasan subsidi pangan dan berbagai tunjangan sosial lainnya telah mendorong pertumbuhan konsumsi, yang menjadi faktor kunci dalam pencapaian India tersebut.

Selama sebagian besar periode penurunan tajam angka kemiskinan, India dipimpin oleh Modi, yang menjabat sebagai perdana menteri sejak Mei 2014. Kebijakan andalannya—berupa transfer manfaat langsung—memastikan dana dari pemerintah benar-benar sampai ke rekening bank masyarakat miskin, alih-alih terserap oleh berbagai perantara.Pertumbuhan ekonomi yang pesat di bawah kepemimpinan Modi juga membantu menjaga laju penciptaan lapangan kerja tetap jauh melampaui pertumbuhan populasi. Pada periode 2017–2023, jumlah penduduk yang bekerja di negara Asia Selatan ini meningkat sekitar 134 juta orang, dengan tingkat penciptaan lapangan kerja hampir dua kali lipat dari tingkat pertumbuhan populasi usia kerja.

Sebagian besar dari kemajuan ini didorong oleh perempuan di pedesaan yang mulai memasuki dunia kerja formal, sehingga meningkatkan jumlah anggota keluarga yang memiliki penghasilan di setiap rumah tangga.

Bank Dunia juga menyoroti kesenjangan upah di negara Asia Selatan tersebut, dengan penghasilan median di antara 10 pekerja teratas mencapai sekitar 13 kali lipat dari penghasilan 10 pekerja terbawah pada tahun 2023. Menurut data terbaru Bank Dunia, lebih dari 824 juta orang—atau sekitar satu dari setiap sepuluh orang di seluruh dunia—hidup dalam kemiskinan ekstrem pada tahun 2024.

Topik Menarik