Komponen Jet Tempur Siluman F-35 Jatuh ke Tangan China, Lockheed Martin: Itu Tak Guna!
Raksasa pertahanan Amerika Serikat (AS), Lockheed Martin, bersikeras tidak melanggar hukum setelah kiriman komponen sensitif jet tempur siluman F-35 Australia dialihkan ke Hong Kong dan hilang. Komponen pesawat itu telah disita China.
Pernyataan perusahaan tersebut disampaikan ketika tekanan terhadap Pentagon semakin meningkat agar melakukan peninjauan menyeluruh terhadap sistem pengiriman guna melindungi peralatan militer sensitif AS.
Baca Juga: China Kuasai Komponen Sensitif Jet Tempur Siluman F-35 yang Hilang di Hong Kong
Pentagon pekan lalu mengatakan sedang menyelidiki bagaimana, pada akhir Mei, kanopi kokpit dan pintu ruang persenjataan sebuah jet tempur siluman F-35 Australia yang sedang dikirim menggunakan jasa kurir UPS ke AS untuk menjalani pemeliharaan atau dimusnahkan justru dialihkan ke Hong Kong dan kemudian disita oleh China.
Lockheed Martin menganggap komponen yang disita China sebagai "barang tak guna". Menurut perusahaan, komponen tersebut tidak memiliki manfaat besar bagi pihak yang ingin mengeksploitasi teknologi F-35.Dan Tenney, Wakil Presiden Senior Lockheed Martin untuk Pengembangan Bisnis dan Strategi Global, mengatakan perusahaan bekerja sama erat dengan pemerintah AS—yang mengendalikan penjualan peralatan militer kepada negara-negara asing—untuk memastikan komponen dan produk militer tersebut “terlindungi” pada masa mendatang.“Kami telah mematuhi seluruh hukum dan peraturan, termasuk peraturan pengendalian ekspor,” kata Tenney, sebagaimana dikutip dari AFR, Kamis (1/10/2026).
“Komponen itu sendiri tidak kami anggap sangat dapat dieksploitasi. Komponen tersebut pada dasarnya bukan bagian yang dapat digunakan, sehingga bukan sesuatu yang secara khusus kami khawatirkan," ujarnya.
Tenney menjadi eksekutif Lockheed Martin pertama yang memberikan komentar mengenai insiden tersebut. Kasus ini memicu kekhawatiran di Washington karena F-35 dianggap sebagai salah satu jet tempur paling canggih milik militer AS dan selama ini menjadi salah satu target utama upaya spionase Beijing.
Setidaknya dua komite di Kongres AS sedang menyelidiki bagaimana komponen tersebut bisa jatuh ke tangan China. Pekan ini, Senator Tom Cotton juga mendesak Pentagon melakukan peninjauan yang lebih luas.
Cotton, politikus senior Partai Republik yang menjabat sebagai Ketua Komite Intelijen Senat, mengatakan dalam surat kepada Menteri Perang Pete Hegseth bahwa kerentanan dalam sistem transportasi komersial harus diperiksa untuk memastikan peralatan militer sensitif tidak dapat jatuh ke tangan negara-negara yang dianggap sebagai lawan.“Komponen yang diklasifikasikan dan ditetapkan sebagai sensitif harus mendapatkan perlindungan yang lebih ketat. Namun, seluruh material militer AS dapat memberikan wawasan berharga kepada pihak lawan mengenai sistem persenjataan, logistik, dan kesiapan militer AS, sekaligus membuka akses terhadap pasukan Amerika,” kata Cotton.
“Mengingat kompleksitas rantai pasokan global ini, memprioritaskan keamanan nasional pada setiap tahap sangatlah penting.”
Lockheed Martin sebelumnya mengatakan komponen tersebut dinilai memiliki risiko rendah untuk dieksploitasi. Namun, laporan Bloomberg menyebut kedua komponen tersebut dilapisi material penyerap radar yang berfungsi meningkatkan kemampuan siluman F-35.
“Kami berkomitmen memastikan seluruh komponen kami terlindungi. Karena itu, kami bekerja sangat erat dengan pemerintah dalam aktivitas tersebut,” kata Tenney.
Sebelumnya, pemasok pertahanan tersebut mengatakan Pentagon yang menentukan pilihan metode transportasi, sedangkan Lockheed Martin memilih perusahaan pengangkut yang sesuai dengan “parameter yang ditetapkan pemerintah”.Pentagon menolak mengatakan berapa lama penyelidikan tersebut akan berlangsung. Departemen Perang AS kembali mengulangi pernyataan pekan lalu bahwa mereka “mengetahui adanya masalah dalam pengiriman”.
“Kami secara aktif bekerja sama dengan otoritas AS dan mitra industri untuk mengambil kembali komponen-komponen tersebut, menyelidiki insiden ini, serta menerapkan langkah-langkah pengamanan untuk mencegah kejadian serupa terulang,” kata seorang juru bicara Pentagon.
Menanggapi terungkapnya insiden tersebut pekan lalu, Menteri Pertahanan Australia Richard Marles mengatakan pemerintah sedang memeriksa peran Australia dalam kasus tersebut.
Namun, dia mengatakan, "Australia yakin dengan cara kami terlibat dalam program tersebut, serta melalui kontraktor utama AS, Lockheed."
Australia merupakan pusat persediaan komponen dan pemeliharaan F-35 di kawasan Indo-Pasifik bagi pesawat yang dioperasikan oleh sejumlah negara sekutu di Asia. Namun, pengelolaan rantai pasokan global F-35 merupakan tanggung jawab AS.F-35 merupakan salah satu jet tempur paling canggih di dunia. Sekitar 20 negara telah membeli pesawat tersebut, termasuk Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Australia. F-35 juga telah menjalankan berbagai misi tempur terhadap Iran.
Kongres AS juga sedang mencermati rencana pemerintahan Donald Trump untuk menjual 48 unit F-35 kepada Arab Saudi senilai USD24 miliar. Rencana tersebut membuat sejumlah anggota parlemen khawatir karena hubungan erat Riyadh dengan China.
Departemen Luar Negeri AS mengatakan Arab Saudi merupakan kekuatan bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Teluk, tetapi kerajaan tersebut menghadapi serangan yang semakin intensif dari kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.




