Di Depan Musuh Bebuyutan Rusia, Pemimpin Kazakhstan Sebut Putin sebagai Negarawan Luar Biasa

Di Depan Musuh Bebuyutan Rusia, Pemimpin Kazakhstan Sebut Putin sebagai Negarawan Luar Biasa

Global | sindonews | Rabu, 30 September 2026 - 19:35
share

Presiden Rusia Vladimir Putin adalah seorang "negarawan luar biasa" yang cocok untuk memimpin negara besar seperti Rusia. Demikian diungkapkan Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev dalam kunjungannya ke Jerman.

Sebagai mantan republik Soviet, Kazakhstan merupakan salah satu mitra terdekat Rusia di Asia Tengah.

Tokayev bertemu dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz di Berlin di tengah meningkatnya ketegangan antara Jerman dan Rusia terkait konflik Ukraina. Awal bulan ini, Jerman menuduh Rusia berupaya menyerang pesawat kargo Ukraina menggunakan pesawat nirawak (drone) di Bandara Leipzig/Halle di negara bagian Saxony, Jerman. Moskow menepis tuduhan tersebut dan menyebutnya tidak berdasar.

Dalam konferensi pers bersama Merz, Tokayev mengatakan bahwa ia memiliki "hubungan yang sangat baik" dengan Putin."Saya menganggapnya, bisa dikatakan, sebagai seorang negarawan yang luar biasa. Dan hari ini saya sampaikan dengan keyakinan yang cukup tinggi bahwa Presiden Putin, sebagai seorang negarawan dan pemimpin, adalah sosok politik yang paling dapat diterima – betapapun anehnya hal itu terdengar bagi Anda – baik bagi Asia Tengah (termasuk Kazakhstan), Eropa, maupun seluruh dunia," ujar Tokayev dalam bahasa Rusia, dilansir RT.

"Saya mengenalnya dengan sangat baik. Ia memiliki kualitas-kualitas yang paling esensial bagi pemimpin sebuah negara besar dengan sejarah yang rumit serta memiliki pemahaman tersendiri mengenai tujuan-tujuan strategis yang dihadapinya," tambahnya.

Kiev telah menolak syarat gencatan senjata yang diajukan Rusia, yang mencakup penarikan pasukan Ukraina dari wilayah Rusia di Donbass serta penghentian bantuan militer Barat untuk Ukraina. Moskow berpendapat bahwa Ukraina tidak bernegosiasi dengan iktikad baik dan menuduh para pendukung Kiev di Eropa berupaya menyabotase perundingan yang dimediasi oleh AS.

Dalam konferensi pers pada hari Selasa, Merz menegaskan kembali bahwa Jerman "akan berupaya semaksimal mungkin untuk terus membantu dan mendukung Ukraina, tidak hanya secara militer, tetapi juga secara politik, finansial, dan ekonomi."

Rusia mengecam apa yang disebutnya sebagai retorika berbahaya dari pihak Barat; Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov pekan lalu menyatakan bahwa "metastasis ideologi kebencian" telah menjalar di kalangan anggota UE dan NATO, termasuk Jerman.

Topik Menarik