Sindikat Penipuan Online India Menyebar ke Seluruh Dunia, AS hingga Australia Jadi Korban

Sindikat Penipuan Online India Menyebar ke Seluruh Dunia, AS hingga Australia Jadi Korban

Global | sindonews | Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:48
share

Sindikat kejahatan siber yang menyasar kelompok lanjut usia (lansia) sebelumnya banyak beroperasi di Asia Tenggara dan Asia Timur. Namun, jaringan tersebut kini disebut hampir lumpuh setelah aparat penegak hukum dari China hingga Amerika Serikat (AS) meningkatkan upaya pemberantasan.

Ketika pusat-pusat penipuan di Kamboja, Laos, dan Myanmar mulai melemah, aktivitas serupa justru berkembang melalui jaringan baru yang berpusat di India.

Baca Juga: China Eksekusi Mati 11 Mafia Scam yang Terkenal

Dalam laporan investigasi The Diplomat pada 7 September 2026, wilayah miskin India seperti Jamtara dan Mewat disebut telah menjadikan penipuan online sebagai salah satu sumber mata pencaharian utama. Laporan yang ditulis Vedant Sharma itu mengungkapkan bahwa India kini berkembang menjadi salah satu basis penipuan daring terbesar di dunia.

Penelitian Institut Teknologi Kanpur, India, memperkirakan pusat-pusat penipuan online di negara tersebut menghasilkan pendapatan sekitar USD10 miliar per tahun dari korban di berbagai negara. Sebagian besar korban berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Kanada.

Sementara itu, modus pig butchering kripto, yakni penipuan berkedok investasi mata uang kripto di pasar domestik India, tercatat menghasilkan USD3,6 miliar sepanjang 2024. Adapun kerugian finansial warga Amerika Serikat akibat aktivitas sindikat India yang berhasil dilacak selama periode 2023–2025 mencapai USD42 juta.Konsentrasi aktivitas kejahatan tersebut terdeteksi di koridor Jamtara–Mewat. Bharatpur, yang terletak di Rajasthan, menyumbang 18 persen dari keseluruhan kejahatan siber di India. Sementara itu, kawasan Mewat yang mencakup wilayah Rajasthan, Uttar Pradesh, dan Haryana berkontribusi sebesar 11 persen terhadap total kejahatan online. Jika digabungkan dengan Jamtara, wilayah-wilayah tersebut disebut menjadi pusat bagi 80 persen kejahatan daring di India.

Sindikat yang beroperasi di Mewat menjalankan penipuan dengan cara relatif sederhana, yakni memanfaatkan telepon dan rekening bank. Mereka bahkan dilaporkan melibatkan anak-anak berusia paling muda 12 tahun dan melakukan sedikitnya 500 upaya penipuan setiap hari. Salah satu modus yang paling sering digunakan adalah menyamar sebagai staf layanan pelanggan Microsoft atau Apple, kemudian menyampaikan peringatan palsu mengenai serangan virus atau gangguan pada akun pribadi korban. Taktik tersebut digunakan untuk memancing korban agar memberikan akses ke rekening bank mereka.

Banyak orang akhirnya terjebak dalam penipuan tersebut karena India selama ini dikenal sebagai salah satu pusat layanan call centeryang melayani berbagai aktivitas berbasis internet.

Pelaku Pura-pura Jadi Petugas Pajak

Jeremy Capello, agen Biro Investigasi Federal (FBI) AS, mengamati pola yang digunakan para pelaku untuk membuat korban merasa panik. Mereka berpura-pura menjadi aparat pemerintah, petugas pajak, pejabat imigrasi, atau pihak berwenang lainnya. Setelah itu, korban diminta menyerahkan sejumlah uang dengan alasan untuk menyelesaikan persoalan hukum yang diklaim sedang mereka hadapi.

Di dalam negeri India, jumlah korban kejahatan online yang tercatat pada 2024 setidaknya mencapai 92.000 orang. Aktivitas penipuan daring tersebut diperkirakan akan terus meluas, terutama di kawasan-kawasan tertinggal.Bagi masyarakat di wilayah seperti Jamtara dan Mewat, hasil penipuan daring telah menjadi sumber pendapatan utama. Bahkan, sejumlah politisi setempat disebut-sebut turut memberikan perlindungan kepada sindikat yang menjalankan aktivitas ilegal tersebut.

Salah satu kasus yang mencerminkan keterlibatan warga dalam jaringan penipuan itu diungkap Kepolisian Hyderabad pada Januari 2025. Dalam kasus tersebut, seorang perempuan berusia 60 tahun menyewakan rekening banknya untuk menampung uang hasil penipuan online dan memperoleh komisi hingga USD201.000 atau sekitar Rp3,6 miliar.

Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang menanggung kerugian terbesar akibat kejahatan tersebut. Kerugian warga AS yang dikaitkan dengan sindikat penipuan online India meningkat dari USD807 juta pada 2022 menjadi USD1,464 miliar pada 2024.

Untuk membongkar jaringan tersebut, FBI melancarkan operasi khusus pada 2024 yang berujung pada penangkapan 215 orang. Selanjutnya, pada Februari 2025, Hitesh Madhubhai Patel, yang disebut sebagai salah satu kaki tangan sindikat, dijatuhi hukuman 20 tahun penjara di Texas karena keterlibatannya dalam jaringan tersebut. Ia juga diperintahkan membayar ganti rugi sebesar USD9 juta. Di Maryland, tiga pusat layanan telepon yang berasal dari India diketahui terlibat dalam penipuan senilai USD48 juta terhadap 650 korban.

Kerugian yang dialami warga Australia akibat sindikat serupa mencapai USD1,57 miliar pada 2025. Sementara itu, di Kanada, kerugian akibat penipuan online yang dikaitkan dengan jaringan tersebut tercatat sebesar USD461 juta.India disebut menjadi basis utama para pelaku dalam sejumlah kasus penipuan lintas negara. Dalam laporan The Hindu pada 22 Agustus 2026, seorang warga Gujarat bernama Jay Sunilbharthi Goswami (21) dilaporkan ditangkap polisi New Jersey, AS, ketika berusaha melarikan diri dari Kanada menuju Qatar. Goswami diduga bertugas sebagai kurir yang membawa uang dan emas hasil penipuan terhadap korban di New York dan New Jersey.

Dalam menjalankan aksinya, para pelaku menakut-nakuti korban lanjut usia dengan mengatakan bahwa rekening mereka terancam dibobol. Korban kemudian diminta mencairkan dana yang dimiliki, sebelum pelaku lain yang menyamar sebagai aparat datang dan mengaku akan mengamankan harta tersebut.

Goswami disebut telah menjalankan tugas sebagai kurir untuk mengambil uang dan barang berharga dari para korban sedikitnya sembilan kali, dengan total nilai mencapai USD7,5 juta. Atas perannya sebagai operator lapangan dalam jaringan penipuan tersebut, ia menerima bayaran sebesar USD90.000.

Penipuan Lintas Negara

Dalam kasus terpisah, seorang warga India dijatuhi hukuman empat tahun penjara di AS karena terlibat dalam penipuan lintas negara yang menyasar warga lanjut usia. Jaringan kejahatan online yang dikaitkan dengan kasus tersebut dilaporkan menghasilkan ratusan juta dolar.

Menurut laporan Times of India pada 31 Juli 2026, Roshan Shah (22) dijatuhi hukuman oleh Hakim Brett Ludwig pada 27 Juli 2026 setelah mengakui keterlibatannya dalam konspirasi pencucian uang. Jaksa penuntut menyatakan Shah, warga India yang pernah menempuh pendidikan di Kanada, memasuki AS menggunakan visa kunjungan untuk mengambil uang tunai hasil penipuan. Penyidik menyebut jaringan yang melibatkan Shah beroperasi dari India.Para pelaku dalam jaringan tersebut menghubungi calon korban melalui telepon dan mencuri identitas mereka. Informasi pribadi yang diperoleh kemudian dimanfaatkan untuk menjalankan penipuan. Para penelepon meyakinkan korban agar menyerahkan uang atau emas kepada seseorang yang mengaku sebagai agen federal, dengan dalih bahwa harta mereka akan disimpan di tempat yang aman.

Shah berperan sebagai agen federal gadungan yang mendatangi korban untuk mengambil dan mengamankan harta mereka. Melalui modus tersebut, ia berhasil memperoleh USD3,7 juta dari 15 korban di berbagai wilayah AS sebelum akhirnya ditangkap aparat. Shah ditahan di Kota New Berlin, Wisconsin, ketika berupaya menipu seorang warga lanjut usia.

Wakil Jaksa Penuntut Brad Schimel mengatakan, terbongkarnya kasus tersebut menunjukkan besarnya ancaman yang ditimbulkan sindikat penipuan internasional. "Kasus ini terungkap berkat kerja keras penyidik federal bersama kantor Jaksa AS untuk memerangi sindikat penipuan yang menyasar warga lansia," kata Schimel.

Asisten Agen Khusus Keamanan Dalam Negeri Negara Bagian Wisconsin, Eric Rice, menegaskan bahwa kasus Shah dan rekan-rekannya memperlihatkan pentingnya koordinasi antarlembaga dalam upaya memberantas kejahatan daring lintas negara.

Topik Menarik