Baik Netanyahu dan Eisenkot Ingin Mewujudkan Israel Raya
Komite Pemilihan Umum Pusat Israel memberikan pembaruan terkini setelah menghitung 85,6 persen suara. Blok Benjamin Netanyahu memperoleh 53 kursi, sedangkan blok Eisenkot memperoleh 48 kursi. Menariknya, partai-partai Arab memperoleh 19 kursi.
Antony Loewenstein, seorang jurnalis investigasi, penulis, dan pembuat film dokumenter, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa meskipun komentar Netanyahu selama pemilihan mencerminkan “rasisme mendalam” terhadap orang Arab di Israel, Eisenkot pun “tidak jauh berbeda”.
“Mengenai isu-isu utama—Tepi Barat, Gaza, Iran, dan hubungan dengan Timur Tengah—hampir tidak ada perbedaan yang berarti,” ujarnya.
Putin: Kemenangan Akan Jadi Milik Kita
“Saya tidak mengabaikan bencana yang ditimbulkan oleh Netanyahu dan Ben-Gvir selama empat tahun terakhir serta tindakan mereka di seluruh kawasan, tetapi alternatif yang ada pun tidak akan membawa banyak perubahan. Mungkin hanya akan ada perubahan kosmetik di Tepi Barat, seperti penangkapan terhadap beberapa pemukim yang paling kejam.”
“Namun, secara fundamental, mereka memiliki pandangan dunia yang sangat mirip, yang menurut saya adalah gagasan tentang ‘Israel Raya’, dan itu sangat berbahaya.”Skenario yang bisa dilakukan menyusul pemilu Israel adalah pembentukan pemerintahan persatuan nasional yang menggabungkan kubu Eisenkot dan Netanyahu. Skenario lain adalah Eisenkot membentuk pemerintahan bersama partai-partai yang dipimpin oleh warga Arab.
Langkah ini mengharuskannya untuk berdiskusi dengan partai-partai di kubunya guna melihat apakah mereka bersedia menerima pemerintahan yang melibatkan daftar partai pimpinan warga Arab; Namun, Lieberman maupun Bennett telah menyatakan tidak ingin bergabung dalam koalisi semacam itu.
Ada pula skenario di mana Netanyahu mendekati kubu Eisenkot dan mencoba memecah barisan mereka, dengan menarik seseorang dari blok tersebut untuk bergabung dengannya dalam pemerintahan mendatang.
Selain itu, terdapat skenario lain: eskalasi.Netanyahu memegang kendali karena ia masih menjabat sebagai perdana menteri—dan akan tetap berstatus sebagai pejabat sementara hingga pemerintahan baru terbentuk—sehingga ia bisa saja mengklaim telah menerima informasi intelijen mengenai perlunya melakukan serangan terhadap Iran.
Dalam skenario tersebut, ia mungkin menunda pemilihan umum—sesuatu yang sangat tidak diinginkan oleh banyak pihak di Israel.
Kemudian, pemimpin Joint List, Jabareen, berjanji membantu menyingkirkan Netanyahu. Yousef Jabareen menyatakan bahwa partainya siap memikul tanggung jawab untuk menjatuhkan koalisi sayap kanan Perdana Menteri Netanyahu.
“Pemerintahan ini telah membuat kehidupan setiap warga Arab menjadi sengsara,” ujar Jabareen, sebagaimana dikutip oleh surat kabar nasional Yedioth Ahronoth.
Ia menambahkan bahwa kelompoknya “akan tahu cara memanfaatkan” kekuatan politik mereka untuk memperjuangkan nilai-nilai yang mereka yakini.“Kami siap membuka jalan untuk menyingkirkan pemerintahan Netanyahu, Ben-Gvir, dan Smotrich, serta memulangkan mereka,” tegas Jabareen.
Berdasarkan hasil penghitungan sementara, Joint List diproyeksikan meraih 13 kursi, dengan total perolehan kursi partai-partai Arab diperkirakan mencapai 19 kursi.
Penantang utama, Gadi Eisenkot, melontarkan peringatan tersirat kepada Netanyahu—yang menurut sejumlah pengamat mungkin saja memanfaatkan serangan baru terhadap Iran untuk memperpanjang masa jabatannya sebagai perdana menteri.
“Netanyahu, jangan berani-beraninya Anda menggunakan keamanan Israel untuk kepentingan politik Anda,” ujar Eisenkot, seraya menyebutnya sebagai “perdana menteri sementara tanpa mandat ataupun kepercayaan dari rakyat”.
Eisenkot memiliki pandangan yang serupa dengan Netanyahu mengenai “keamanan” dan bahkan mendukung perang genosida terhadap rakyat Palestina di Gaza. Namun, ia telah berjanji untuk menciptakan suasana yang lebih inklusif di dalam Israel serta menindak para pemukim yang melakukan kekerasan di wilayah Tepi Barat yang diduduki.
Dengan tingkat partisipasi pemilih mencapai hampir 78 persen—angka tertinggi sejak tahun 1999—Eisenkot menyatakan bahwa mengadakan pemilihan umum untuk kedua kalinya adalah sebuah kesalahan, dan ia berjanji akan berupaya “secepat mungkin” untuk membentuk pemerintahan.
“Publik telah memilih perubahan. Seorang pemimpin yang layak akan menerima mosi tidak percaya dari rakyat ini dan mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia politik hari ini juga,” tegasnya.





