8 Fakta Lula da Silva, Pemenang Pemilu Brasil: Jadi Penyemir Sepatu, Dipenjara, hingga Tak Punya Ijazah SMA
Luiz Inácio Lula da Silva kembali mencatat sejarah politik Brasil. Politikus sayap kiri berusia 80 tahun itu memenangi pemilu presiden pada Minggu (25/10/2026), mengalahkan Flávio Bolsonaro dan mengamankan masa jabatan keempatnya sebagai presiden.
Berdasarkan hasil resmi yang dilaporkan Reuters dan media pemerintah Brasil, Lula meraih sekitar 51,7 persen suara, sedangkan Flávio Bolsonaro memperoleh sekitar 48,2 persen.
Baca Juga: Lula Menang Pemilu Brasil untuk Ke-4 Kalinya, Kalahkan Bolsonaro yang Didukung Trump
Kemenangan ini menjadi babak terbaru dalam perjalanan politik Lula yang penuh liku, mulai dari masa kecil dalam kemiskinan, bekerja sebagai buruh pabrik, memimpin gerakan serikat pekerja, hingga pernah mendekam di penjara karena kasus korupsi yang putusannya kemudian dibatalkan.
Di balik kemenangannya, terdapat sejumlah fakta unik tentang kehidupan pribadi dan perjalanan politik Lula yang tidak banyak diketahui publik.8 Fakta Unik Lula da Silva
1. Dari Keluarga Miskin, Pernah Jadi Penyemir Sepatu
Lula lahir pada 27 Oktober 1945 di Garanhuns, negara bagian Pernambuco, Brasil timur laut. Dia tumbuh dalam keluarga besar dengan kondisi ekonomi yang sulit. Lula merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara.Ketika masih kecil, keluarganya pindah ke wilayah pesisir negara bagian Sao Paulo untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Perjalanan itu berlangsung selama sekitar 13 hari menggunakan truk yang dikenal di Brasil sebagai "pau de arara", kendaraan yang digunakan untuk mengangkut penumpang di bagian baknya.
Kehidupan di kota tidak serta-merta membuat keluarga Lula terbebas dari kemiskinan. Saat berusia 12 tahun, dia sudah bekerja di tempat pencucian pakaian. Dia juga pernah menjadi penyemir sepatu dan pesuruh kantor untuk membantu perekonomian keluarga.Latar belakang tersebut kemudian menjadi bagian penting dari identitas politik Lula. Dalam perjalanan kariernya, dia kerap menempatkan kemiskinan, ketimpangan sosial, dan perlindungan pekerja sebagai isu utama.
2. Tak Punya Ijazah SMA
Salah satu fakta yang sering menjadi bahan perbincangan adalah latar belakang pendidikan Lula. Dia tidak pernah mengenyam pendidikan menengah atas, yang artinya dia memang tidak memiliki ijazah setara sekolah menengah atas (SMA).Pendidikan formal yang ditempuh Lula hanya setara sekolah menengah pertama atau SMP. Saat berusia sekitar 14 tahun, dia mengikuti pelatihan di Serviço Nacional de Aprendizagem Industrial (SENAI), lembaga pendidikan dan pelatihan industri Brasil. Dia kemudian memperoleh kualifikasi sebagai operator mesin bubut atau torneiro mecânico.
Pendidikan tersebut membawanya masuk ke sektor industri logam, tempat dia bekerja sebagai buruh sebelum terjun lebih jauh ke gerakan serikat pekerja dan politik.
Lula bukan presiden Brasil pertama yang tidak memiliki gelar sarjana. Pemeriksaan fakta oleh media Brasil; UOL Confere dan Agência Lupa, menyebut Café Filho, yang menjabat presiden pada 1954–1955 setelah kematian Getúlio Vargas, juga tidak menyelesaikan pendidikan universitas.
3. Kehilangan Jari Kelingking akibat Kecelakaan Kerja
Lula memiliki ciri fisik yang cukup dikenal: dia kehilangan sebagian jari kelingking tangan kirinya.Peristiwa itu terjadi pada 1964, ketika dia berusia 18 tahun dan bekerja sebagai operator mesin bubut di sebuah perusahaan metalurgi di Sao Paulo. Kecelakaan kerja tersebut membuat sebagian jari kelingking tangan kirinya terputus.
Kisah ini pernah menjadi bahan perbincangan di media sosial setelah Lula bercanda bahwa jarinya hilang ketika menangkap kepiting di Pernambuco. Pernyataan itu merupakan lelucon, bukan penjelasan sebenarnya mengenai kecelakaan tersebut.Kantor Sekretariat Komunikasi Sosial Kepresidenan Brasil menegaskan kepada media bahwa kehilangan jari itu terjadi akibat kecelakaan kerja pada 1964.
Pengalaman sebagai pekerja pabrik dan kecelakaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup Lula sebelum ia dikenal sebagai pemimpin serikat buruh.
4. Pernah Pimpin Aksi Buruh Besar dan Ditangkap
Sebelum menjadi presiden, Lula dikenal sebagai pemimpin serikat pekerja di kawasan industri ABC Paulista, wilayah industri penting di negara bagian Sao Paulo.Pada 1975, dia terpilih sebagai presiden Serikat Pekerja Metalurgi Sao Bernardo do Campo dan Diadema. Dia kemudian menjadi salah satu tokoh utama dalam gelombang pemogokan buruh pada akhir 1970-an, ketika Brasil masih berada di bawah pemerintahan militer.
Aksi tersebut menuntut perbaikan upah dan kondisi kerja. Pada 1979, sekitar 170.000 pekerja metalurgi melakukan pemogokan di kawasan ABC Paulista, menurut biografi resmi pemerintah Brasil.
Aktivitas serikat pekerja itu membuat Lula berhadapan dengan penguasa militer. Pada 1980, dia ditangkap bersama sejumlah pemimpin buruh lainnya berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional.
Dia menjalani sekitar 31 hari penahanan. Penangkapan itu menjadi salah satu peristiwa penting yang membentuk citranya sebagai tokoh gerakan buruh Brasil.
5.Tiga Kali Kalah Pemilu, tapi 4 Kali Menang
Perjalanan Lula menuju kursi kepresidenan tidak berlangsung mulus. Dia pertama kali maju dalam pemilu presiden (pilpres) pada 1989, setelah Brasil kembali menyelenggarakan pemilihan presiden langsung.Namun, dia kalah pada putaran kedua dari Fernando Collor de Mello.Lula kembali mencalonkan diri pada 1994 dan 1998. Dalam kedua pemilu tersebut, dia dikalahkan Fernando Henrique Cardoso.
ASEAN Terbelah di Ruang Sidang PBB: 4 Negara Walkout, 7 Tetap Hadir Saat Netanyahu Berpidato
Kekalahan berulang itu tidak mengakhiri karier politiknya. Pada 2002, dia akhirnya menang pemilu dan menjadi presiden untuk periode pertama. Kemudian pada 2006, Lula menang pemilu kembali dan menjabat untuk periode kedua. Pada 2022, Lula menang pemilu dan kembali menjadi presiden untuk periode ketiga dan yang terbaru pada Minggu (24/10/2026), dia menang pemilu untuk keempat kalinya, mengalahkan Flávio Bolsonaro.
6. Pernah Dipenjara 580 Hari dalam Kasus Korupsi
Salah satu babak paling kontroversial dalam kehidupan politik Lula terjadi ketika dia ditangkap pada April 2018 dalam rangkaian penyelidikan korupsi yang dikenal sebagai Operasi Lava Jato.Lula dijatuhi hukuman dalam perkara yang berkaitan dengan dugaan korupsi pasif dan pencucian uang. Dia membantah melakukan pelanggaran sebagaimana dituduhkan kepadanya.
Dia menjalani sekitar 580 hari penjara sebelum dibebaskan pada November 2019. Saat itu, aturan mengenai pelaksanaan hukuman setelah putusan banding telah berubah sehingga penahanan tidak lagi dapat dilanjutkan dengan dasar yang sama sebelum proses hukum berkekuatan tetap.
Perkembangan hukum yang menentukan terjadi pada 2021. Mahkamah Agung Brasil membatalkan putusan-putusan yang menjerat Lula dalam perkara terkait karena pengadilan yang menangani kasus tersebut dinilai tidak memiliki yurisdiksi yang tepat. Dalam perkara terpisah, seorang hakim juga dinyatakan bersikap bias terhadap Lula.
Pembatalan itu memulihkan hak politiknya dan membuka jalan bagi Lula untuk kembali maju dalam pemilihan presiden 2022.
7. Mendirikan Partai Pekerja Brasil
Lula tidak hanya membangun karier melalui serikat buruh. Dia juga ikut mendirikan Partai Pekerja atau Partido dos Trabalhadores (PT) pada 10 Februari 1980.Partai itu dibentuk bersama sejumlah pemimpin serikat pekerja, intelektual, aktivis sosial, dan tokoh masyarakat. PT hadir sebagai wadah politik yang berupaya memperjuangkan kepentingan pekerja dan kelompok masyarakat yang selama itu merasa kurang terwakili oleh partai-partai tradisional.Lula kemudian menjadi tokoh sentral partai tersebut dan maju sebagai kandidat presiden dalam beberapa pemilihan.
Kemenangan Lula pada 2002 membawa PT ke pemerintahan nasional. Partai itu kemudian menjadi kekuatan utama dalam politik Brasil dan menjadi kendaraan politik Lula hingga pemilu 2026.
8. Menjadi Presiden untuk Keempat Kalinya
Kemenangan Lula pada 2026 merupakan pencapaian bersejarah. Dia menjadi presiden Brasil yang terpilih untuk keempat kalinya, setelah sebelumnya memimpin negara itu pada 2003–2010 dan kembali menjabat pada 2023.Meski demikian, kemenangan dalam pemilihan presiden tidak otomatis memberinya kendali atas parlemen.
Reuters melaporkan bahwa Partai Liberal pimpinan keluarga Bolsonaro dan partai-partai sekutunya diperkirakan menguasai lebih dari 280 kursi di majelis rendah serta hingga 50 kursi di Senat. Jika komposisi itu bertahan, Lula harus bernegosiasi dengan parlemen yang cenderung konservatif untuk meloloskan agenda pemerintahannya.
Di bidang ekonomi, pemerintah memperkirakan pertumbuhan Brasil pada 2027 sekitar 2,3 persen. Utang publik juga telah melampaui 82 persen dari produk domestik bruto, sementara suku bunga tinggi dan kenaikan utang rumah tangga menambah tekanan.
Dengan kondisi tersebut, masa jabatan keempat Lula tidak hanya akan menjadi ujian bagi warisan politiknya, tetapi juga bagi kemampuannya membangun kompromi dengan parlemen dan menangani persoalan ekonomi.








