Arab Saudi Klaim Madinah Nyaris Dihantam Rudal, Houthi Sangkal Serang Kota Suci Islam
Koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi kelompok Houthi Yaman mengeklaim pada Kamis bahwa pihaknya berhasil mencegat dan menghancurkan sebuah rudal jelajah di kota suci umat Islam; Madinah. Namun, koalisi tersebut tidak secara spesifik menuding pihak mana pun sebagai pelaku serangan.
"Pencegatan dan penghancuran sebuah rudal jelajah di wilayah Madinah," tulis juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, di platform X, yang disiarkan media pemerintah kerajaan.
Baca Juga: Perang Berkecamuk! Houthi Merudal Istana Presiden Yaman, 5 Orang Tewas dan 16 Luka
Madinah merupakan tempat dimakamkannya Nabi Muhammad SAW dan lokasi Masjid Nabawi. Madinah menjadi salah satu kota paling suci dalam Islam, setara dengan Makkah.
Selain menyelamatkan Madinah, koalisi juga mengeklaim berhasil menggagalkan serangan lain di wilayah timur kerajaan Saudi. Wilayah tersebut dikenal sebagai penghasil minyak kerajaan.Sementara itu, juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, membantah bahwa kelompoknya melancarkan serangan terhadap Madinah. Sebelumnya, kelompok pemberontak Yaman itu berjanji tidak akan menyerang bandara di dua kota suci umat Islam di Arab Saudi, yakni Makkah dan Madinah."Angkatan bersenjata Yaman menegaskan bahwa mereka tidak melakukan operasi apa pun hari ini yang menargetkan wilayah Arab Saudi, dan klaim Saudi mengenai serangan terhadap Madinah adalah kebohongan yang tidak tahu malu dan terang-terangan," tulis Saree, di platform X pada hari Kamis, yang dikutip AFP, Jumat (16/10/2026).
Selama ini, Houthi gencar menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, yang memaksa otoritas berwenang menghentikan operasional penerbangan di bandara tersebut.
Pada hari Rabu, kelompok Houthi menyatakan telah menargetkan fasilitas milik raksasa minyak Arab Saudi, Aramco. Pejabat Saudi melaporkan adanya serangan terhadap sebuah bangunan di area yang menjadi pusat operasional perusahaan energi tersebut.
Koalisi pimpinan Arab Saudi telah memberikan dukungan militer kepada pemerintah Yaman dalam melawan kelompok Houthi sejak tahun 2015, dalam perang saudara berkepanjangan yang telah memicu krisis kemanusiaan.
Arab Saudi menuduh Iran mendorong kelompok Houthi untuk meningkatkan eskalasi pertempuran melawan kerajaan tersebut, seraya menambahkan bahwa republik Islam itu terus memasok senjata dan melatih Houthi. Dalam sebuah taklimat virtual dengan para wartawan, wakil menteri diplomasi publik di Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan bahwa Riyadh masih menjalin komunikasi dengan Iran, namun Teheran tampaknya belum siap untuk memberikan konsesi.
"Iran terus mempersenjatai, melatih, dan mendukung milisi Houthi, yang merupakan pelanggaran terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB," ujar Rayed Krimly, sang wakil menteri.
"Kami berpendapat bahwa eskalasi yang dilakukan oleh kelompok Houthi pada tahap konflik saat ini didorong oleh Iran," imbuh dia.
Pada tahun 2023, Iran dan Arab Saudi mencapai kesepakatan yang dimediasi oleh China untuk mencairkan hubungan yang telah lama membeku, namun kekerasan terbaru ini berpotensi mengancam kesepakatan tersebut.
Pejabat Arab Saudi itu lebih lanjut menuduh kelompok Houthi menolak untuk mengadakan pertemuan di Oman dalam beberapa pekan terakhir, di tengah meningkatnya pertempuran antara kedua belah pihak.
"Pada awal eskalasi ini, kami meminta mereka untuk bertemu di Muscat, Oman, namun mereka menolak," paparnya. "Itu adalah komunikasi terakhir yang terjadi beberapa minggu lalu."




