Profil Phra Wachirayan Wi, Biksu yang Korupsi Rp49 Miliar dan Berhubungan Seks dengan Asisten Perempuan

Profil Phra Wachirayan Wi, Biksu yang Korupsi Rp49 Miliar dan Berhubungan Seks dengan Asisten Perempuan

Global | sindonews | Minggu, 13 September 2026 - 06:23
share

Biksu Phra Wachirayan Wi mendadak viral di Thailand. Dia dalah abbot atau kepala kuil terkenal di kerajaan tersebut yang ditangkap polisi atas tuduhan korupsi atau menggelapkan dana kuil sebesar 92 juta baht atau Rp49 miliar.

Ironisnya, kasus ini terbongkar justru gara-gara bocornya rekaman CCTV yang memperlihatkan sang biksu sedang berhubungan seks dengan asisten perempuannya di atas meja makan.

Baca Juga: Biksu Top Thailand Ditangkap karena Gelapkan Dana Kuil Rp49 Miliar dan Terlibat Skandal Seks

Profil Biksu Phra Wachirayan Wi

Nama: Phra Wachirayan (Phra Vajirayan) Wi, memperoleh gelar kehormatan Phra Khru Phawanaphattharakhun.

Nama sebelumnya: Atichote Thammavaro.

Nama populer: Luang Por Atichot atau Luang Por Chot.

Usia: 66 tahun (Lahir: 21 November 1959).

Tahun ditahbiskan: 22 Januari 1997.

Tempat ditahbiskan: Wat Phutthaisawan, Ayutthaya.

Pendidikan keagamaan: Lulus Nak Tham Ek atau Dhamma Studies tingkat tertinggi.

Skandal Korupsi dan Seks Biksu Top Phra Khru Phawanaphattharakhun

Polisi menangkap biksu Phra Wachirayan Wi, kepala kuil Wat Phutthaisawan di Ayutthaya, Thailand tengah, pada Kamis (10/9/2026). Asisten perempuan, Punyavee Rungrueang (47), yang terekam CCTV sedang berhubungan seks dengannya di kediaman sang biksu, juga ikut ditangkap.

Menurut laporan Bangkok Post, keduanya diduga menggelapkan dana 92 juta baht dari Wat Phutthaisawan, kuil kerajaan kuno di distrik Muang, Ayutthaya.

Komisaris Biro Investigasi Pusat Thailand, Natthasak Chaowanasai, mengatakan polisi menggerebek kediaman Phra Wachirayan setelah menerima sejumlah laporan pengaduan.Saat melakukan penangkapan, polisi memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) yang berasal dari dalam kediaman sang kepala kuil. Mereka menemukan sebuah video yang memperlihatkan skandal asusila di atas meja.

Laporan pengaduan tersebut menyebut sang kepala kuil diduga menyelewengkan dana kuil dan menyerahkan uang tersebut kepada Punyavee Rungrueang. Uang hasil dugaan kejahatan itu kemudian disamarkan dengan menggunakan nama orang lain.

Natthasak mengatakan penyelidikan secara diam-diam telah dilakukan dan aparat menemukan bukti yang mendukung tuduhan tersebut.

Sang biksu diduga menerbitkan lebih dari 20 kuitansi donasi yang tidak sah atas nama kuil selama kurun waktu lebih dari dua tahun.

Tindakan tersebut diduga menyebabkan kerugian sekitar 92 juta baht.Polisi menambahkan, rekening bank milik sang asisten perempuan diketahui menjadi tempat perputaran uang puluhan juta baht setiap tahunnya.

Meja Makan Digunakan untuk Berhubungan Seks

Polisi mencatat bahwa meja yang terlihat dalam CCTV tersebut ternyata juga digunakan untuk makan sehari-hari. Rekaman video skandal seks itu diserahkan kepada polisi oleh mantan pengikut sang kepala kuil yang mengaku sudah tidak dapat menoleransi perilakunya.

Banyak biksu di Thailand menerima tunjangan bulanan dari pemerintah dan karena itu dianggap sebagai pejabat negara, menurut laporan Bangkok Post.

Pada 2022, Phra Vajirayan ditunjuk sebagai kepala kuil terkenal tersebut. Dia kemudian terkenal karena membuat jimat Buddha yang sangat diminati, termasuk koin "Nuea Duang". Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul pernah terlihat mengenakan “Nuea Duang”.

Dalam pengembangan kasus, polisi menggeledah rumah Punyavee di Pathum Thani, provinsi yang berada di antara Bangkok dan Ayutthaya.Dalam penggeledahan tersebut, polisi menemukan dan menyita 35 jimat emas serta sejumlah emas batangan dan perhiasan lainnya dengan berat total 1,36 kilogram. Seluruh barang tersebut diperkirakan bernilai 6,04 juta baht. Aparat juga menyita uang tunai sebesar 3,6 juta baht.

Selain itu, polisi menyita sejumlah barang lain, termasuk tiga telepon seluler, 10 set dokumen tanah dan rekening bank, 18 set dokumen investasi serta berbagai kuitansi penjualan.

Penyidik polisi menduga terdapat dua atau tiga orang lainnya serta lebih dari satu perempuan yang kemungkinan terlibat dalam kasus tersebut.

Setelah ditangkap, Phra Wachirayan Wi dikawal menuju aula penahbisan kuil untuk menjalani upacara pencopotan jubah kebiksuan. Dia kemudian mengenakan jubah putih dan kembali menggunakan nama sebelumnya, Atichote Thammavaro.

Setelah itu, dia dibawa ke tahanan polisi sebelum menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Biro Investigasi Pusat Thailand.

Seorang administrator awam yang mengelola kuil tersebut juga dibawa untuk menjalani pemeriksaan. Namun, dia menolak memberikan komentar.

Topik Menarik