Iran Ancam Hentikan Seluruh Ekspor Minyak di Timur Tengah, AS Justru Luncurkan D-Day Ekonomi

Iran Ancam Hentikan Seluruh Ekspor Minyak di Timur Tengah, AS Justru Luncurkan D-Day Ekonomi

Global | sindonews | Senin, 24 Agustus 2026 - 16:44
share

AS mengancam Iran dengan apa yang disebutnya sebagai "serangan finansial terbesar yang pernah dikerahkan" seraya bersiap menerapkan sanksi ekonomi pada hari Senin yang menyasar mitra dagang Iran.

Sebaliknya, Iran bersumpah akan menghentikan seluruh ekspor minyak dari kawasan Teluk "jika perang ekonomi terus berlanjut."

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkap langkah-langkah yang jauh lebih keras terhadap negara yang telah menghadapi sanksi ekonomi hampir tanpa henti sejak Revolusi Islam 1979.

"Saat fajar menyingsing, dimulailah 'D-Day' ekonomi—serangan finansial terbesar yang pernah dikerahkan terhadap pihak lawan," tulis Bessent dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan di Financial Times pada hari Minggu.

Kedua negara yang bertikai tersebut tidak melakukan serangan militer satu sama lain selama beberapa minggu terakhir, namun mereka juga belum melakukan pembicaraan berarti untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama enam bulan ini.

Ribuan orang telah tewas, sebagian besar di Iran dan Lebanon, sejak AS dan Israel memulai serangan pada 28 Februari; serangan tersebut melumpuhkan sebagian besar kemampuan militer konvensional Iran dan menimbulkan dampak ekonomi yang berat, serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Namun, Iran masih mempertahankan kemampuan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang cukup untuk menyerang negara-negara tetangganya di Teluk dan mengancam kapal tanker minyak di Selat Hormuz, yang menyebabkan aktivitas pelayaran di jalur air vital tersebut hampir terhenti total dan menekan harga bahan bakar dunia. Status pasti program nuklir Iran—yang ingin dimusnahkan oleh pihak Amerika dan Israel—masih belum diketahui.

Tanpa merinci langkah-langkah spesifiknya, Bessent mengisyaratkan bahwa AS akan menyasar "negara-negara yang diliputi ketakutan" yang mempraktikkan kebijakan "penenangan" (appeasement) dengan tetap menjalin hubungan ekonomi dan sistem keuangan dengan Iran.

"Ada baiknya mereka mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan mempertahankan hubungan tersebut," tulisnya di Financial Times. Iran telah bersiap menghadapi sanksi tersebut selama beberapa hari, dengan mengeluarkan serangkaian pernyataan keras yang mengisyaratkan kemungkinan adanya respons militer besar-besaran.Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, pada hari Minggu mengisyaratkan kemungkinan adanya tindakan balasan di bidang ekonomi.

"Jika perang ekonomi ini berlanjut, tidak akan ada satu tetes minyak pun yang diekspor," baik melalui Selat Hormuz maupun dari wilayah mana pun di Teluk Arab, tulis Rezaei dalam sebuah unggahan di media sosial.

"Iran akan menganggap partisipasi atau dukungan negara mana pun terhadap perang ekonomi Amerika melawan rakyat Iran sebagai suatu tindakan perang."

Bessent sebelumnya mendesak Tiongkok untuk bekerja sama dengan AS, seraya mencatat bahwa secara historis Tiongkok memperoleh separuh dari impor minyaknya dari kawasan Teluk. Juru bicara kedutaan besar Tiongkok di Washington menanggapi dengan pernyataan bahwa "sanksi dan tekanan tidak membantu menyelesaikan masalah," sembari menyerukan langkah diplomasi.

Perekonomian Iran sudah berada di bawah tekanan akibat sanksi internasional bahkan sebelum serangan AS dan Israel menghancurkan sebagian infrastrukturnya.Meskipun Teheran secara terbuka tetap menunjukkan sikap menantang, para pejabat Iran telah memperingatkan bahwa hukuman ekonomi lebih lanjut dapat memperparah kesulitan hidup, memicu kembali kerusuhan, dan semakin mengikis legitimasi Republik Islam tersebut.

Iran memasuki masa perang dengan kondisi inflasi tinggi, mata uang yang melemah, kekurangan energi, sanksi, serta kelemahan struktural yang mendalam; kini negara itu juga harus menghadapi kerusakan infrastruktur, gangguan perdagangan, hilangnya kapasitas produksi, serta biaya pembangunan kembali.

Di tengah absennya pembicaraan tatap muka resmi antara AS dan Iran—yang terakhir kali dilakukan pada bulan Juni di Swiss—negara-negara lain seperti Qatar, Pakistan, dan Turki telah berupaya mendorong langkah diplomasi.

Iran menyatakan bahwa panglima militer Pakistan, Asim Munir, akan mengunjungi Teheran pada hari Senin sebagai bagian dari upaya memulihkan perdamaian dan keamanan di kawasan tersebut, namun hanya memberikan sedikit rincian.

Pakistan telah berperan sebagai penengah dalam konflik ini, dan sumber pemerintah Pakistan menyebutkan bahwa Munir akan membahas perkembangan terkini, termasuk ancaman sanksi baru dari AS.

Serangan AS-Israel terhadap Iran serta serangan Israel terhadap Lebanon selama perang berlangsung telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan lainnya mengungsi. AS melaporkan 18 personel militernya tewas dan lebih dari 750 orang terluka.

Topik Menarik