AS Ingin Iran Runtuh seperti Venezuela, tapi Justru Jadi Kekuatan yang Memukau Dunia

AS Ingin Iran Runtuh seperti Venezuela, tapi Justru Jadi Kekuatan yang Memukau Dunia

Global | sindonews | Senin, 24 Agustus 2026 - 09:46
share

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa Teheran sedang berada dalam perang skala penuh melawan Amerika Serikat (AS). Menurutnya, Washington ingin Iran runtuh seperti Venezuela tapi tidak terjadi.

Meski dilanda perang skala penuh, Pezeshkian berjanji pemerintah Iran akan berupaya mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi rakyat.

Baca Juga: Iran Isyaratkan Ubah Doktrin Nuklir setelah Diserang AS

"Kita sedang berada dalam perang skala penuh di bidang ekonomi, militer, dan keamanan," ujar Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Minggu, sebagaimana dikutip dari IRNA, Senin (24/8/2026).

Pezeshkian mengatakan pemerintah merasa "malu" atas adanya masalah dalam perekonomian. “Tentu saja, kami merasa malu di hadapan rakyat karena masih ada berbagai masalah. Namun, selama kami masih memiliki napas dalam tubuh, kami akan melayani rakyat tercinta, berupaya memperbaiki kehidupan dan kesejahteraan mereka, serta melewati krisis-krisis ini dengan kekuatan,” paparnya.

"(Presiden AS Donald) Trump dengan mudah mengatakan bahwa mereka akan menjatuhkan sanksi paling menghancurkan atau paling mengerikan terhadap Iran," ujarnya, yang menambahkan bahwa Iran tetap teguh dan berupaya melayani rakyatnya di tengah situasi yang dia sebut sebagai "perang yang tidak seimbang".Lebih lanjut, presiden republik Islam itu secara terbuka mengungkap niat Amerika untuk "mem-Venezuela-kan" Iran.

"Musuh memperkirakan bahwa jika Iran jatuh, negara ini akan menjadi seperti Venezuela. Hal itu tidak hanya tidak terjadi, tetapi Iran justru menjadi kekuatan yang memukau dunia melalui ketahanan, solidaritas, dan kekompakannya," tegasnya.

Pidato Pezeshkian disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah baru Amerika. Dalam unggahan di media sosial pada Sabtu, Trump mengunggah ulang sebuah peta yang menandai jalur perairan strategis tersebut sebagai “wilayah baru AS”.

Dalam pidatonya, Pezeshkian membela nota kesepahaman yang baru-baru ini dibuat sebagai cara terbaik bagi Iran untuk keluar dari situasi yang dia gambarkan sebagai kondisi “bukan perang, tetapi juga bukan damai”.

Menurutnya, para anggota Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran telah menilai nota kesepahaman tersebut merupakan kesepakatan terbaik yang mungkin dicapai berdasarkan prinsip martabat, kebijaksanaan, dan kepentingan nasional.Sebelumnya, dalam wawancara yang disiarkan televisi pada hari Sabtu, pejabat keamanan Iran Mohsen Rezaei memperingatkan bahwa negara-negara yang bergabung dengan sanksi AS terhadap Iran akan dianggap sebagai musuh. Teheran, katanya, akan membalas dengan menargetkan kepentingan negara-negara tersebut.

Rezaei mengatakan strategi pertahanan dan perilaku internasional Iran telah mengalami perubahan signifikan setelah perang agresi AS-Israel. Dia menambahkan bahwa Iran harus menyesuaikan strategi pertahanan dan pendekatan diplomatiknya dengan mempertimbangkan pelanggaran komitmen AS serta pengkhianatan dalam perundingan.

Dia juga mengkritik kebijakan Trump. Menurutnya, “kebodohan” Trump telah menciptakan beban besar bagi rakyat Amerika, sekutu-sekutunya, dan seluruh dunia. Dia juga menilai presiden AS tersebut telah meningkatkan risiko logistik terhadap perdagangan global.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu menyebut ancaman sanksi baru AS sebagai tanda keputusasaan.

Menyebut apa yang dikatakannya sebagai “skenario yang berulang-ulang”, Araghchi mengatakan dalam sebuah video yang diunggah di Telegram: “Fakta bahwa mereka (para pemimpin AS) telah beralih dari operasi militer... untuk kembali mengangkat rencana lama yang sama menunjukkan bahwa mereka sudah putus asa.”

Washington, imbuh dia, harus berbicara kepada Iran dengan penuh hormat untuk menemukan solusi yang didasarkan pada keadilan dan kehormatan.

Pekan lalu, Trump meluncurkan kampanye ekonomi terhadap Iran setelah Washington gagal mencapai terobosan dalam perundingan dengan Teheran, menyusul berakhirnya nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juni pada 17 Agustus.

Topik Menarik