Abaikan Kemarahan AS, Israel Kembali Serang Suriah
Militer Israel kembali menyerang wilayah Suriah pada hari Sabtu. Serangan baru militer Zionis mengabaikan kemarahan Amerika Serikat (AS), yang sebelumnya mengecam keras serangan terhadap pangkalan udara di wilayah barat laut negara Arab tersebut pada Selasa lalu.
Kemarahan Washington sebelumnya disampaikan Utusan AS untuk Suriah Tom Barrack. Menurut Barrack serangan Israel terhadap pangkalan udara militer yang sudah tidak beroperasi itu sebagai eskalasi yang tidak perlu dan mengganggu stabilitas.
Baca Juga: Kehadiran Militer Turki di Suriah Bikin Gerah Netanyahu
Alih-alih menerima kritik dan berhenti, rezim Zionis Israel berdalih serangan diperlukan untuk mencegah kehadiran militer Turki.
Pada hari Jumat, dalam sebuah wawancara dengan influencer Mario Nawfal, Barrack mengatakan bahwa serangan Israel mungkin dimaksudkan untuk memicu konflik dengan Turki. Komentar Barrack memicu reaksi keras dari Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada hari Sabtu, yang menyebut pernyataan tersebut "penuh ketidakakuratan".Sejak tergulingnya penguasa lama Bashar al-Assad pada Desember 2024, Israel telah melancarkan ratusan serangan di Suriah dan mengirimkan pasukan ke zona penyangga yang dipatroli PBB—wilayah yang selama beberapa dekade memisahkan pasukan Israel dan Suriah di Dataran Tinggi Golan.Katz menulis di X pada hari Sabtu bahwa Israel telah menyampaikan informasi intelijen kepada pihak-pihak berwenang di Amerika Serikat sebelum serangan pada hari Selasa tersebut.
Dia menambahkan bahwa komentar Barrack penuh ketidakakuratan dan posisi yang bertentangan dengan sikap Presiden AS Donald Trump sendiri mengenai Dataran Tinggi Golan, setelah Barrack menyebut wilayah tersebut sebagai "wilayah pendudukan".
Israel merebut sebagian besar Dataran Tinggi Golan dari Suriah dalam Perang Arab-Israel tahun 1967 dan kemudian menganeksasi wilayah-wilayah di bawah kendalinya—sebuah langkah yang hanya diakui oleh Amerika Serikat dan, pada bulan ini, juga oleh Kolombia.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, saat mengomentari serangan hari Selasa, mengatakan bahwa Turki—sekutu bagi otoritas baru di Damaskus—berupaya membangun kehadiran militer di pangkalan udara tersebut.
Ankara membantah tuduhan rezim Zionis.Netanyahu dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saling melontarkan kecaman sejak insiden tersebut, dan Ankara mengumumkan upayanya untuk mendapatkan red notice Interpol bagi Netanyahu, dengan tuduhan melakukan genosida terkait pencegatan armada bantuan yang menuju Gaza.
Kantor Netanyahu menyebut Erdogan sebagai "diktator antisemit", sementara kantor Erdogan menyebut pernyataan itu sebagai "ocehan keterlaluan" dan menuduh pemerintah Netanyahu "berupaya menghindari pertanggungjawaban".
Juga pada hari Sabtu, televisi pemerintah Suriah melaporkan bahwa seorang pria terluka ketika sebuah drone Israel menargetkan kendaraan di desa Beit Jinn—yang terletak di barat daya Damaskus dekat Dataran Tinggi Golan yang dianeksasi Israel—di mana kementerian luar negeri menyebut tindakan itu sebagai "pelanggaran berat" terhadap kedaulatan negara.
Militer Israel mengakui serangan tersebut, dengan menyatakan bahwa pasukannya melepaskan tembakan di Suriah selatan ke arah seorang teroris yang sedang mematangkan persiapan serangan teror, tanpa menyebutkan identitas targetnya, sebagaimana dikutip The New Arab, Minggu (23/8/2026).
Israel telah berulang kali melakukan penyusupan ke wilayah Suriah dan bersumpah untuk mempertahankan pasukan di wilayah yang disebut sebagai "zona keamanan" di Suriah selatan, tempat mereka berupaya mewujudkan kawasan demiliterisasi yang lebih luas.
Pekan ini, Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir mengatakan kepada pasukan di Suriah selatan: "Kami memantau perubahan di front Suriah. Kami tidak akan membiarkan kekuatan musuh membangun posisi di perbatasan kami."







