Netanyahu Telan Mentah-mentah Hoaks untuk Bikin Klaim Senjata Nuklir Iran

Netanyahu Telan Mentah-mentah Hoaks untuk Bikin Klaim Senjata Nuklir Iran

Global | sindonews | Senin, 17 Agustus 2026 - 07:59
share

Sebuah klaim palsu mengenai program senjata nuklir Iran menyebar ke berbagai negara hanya dalam hitungan jam. Ironisnya, informasi yang belum terverifikasi itu kemudian dikutip Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dalam pidatonya dan turut disebarkan pejabat tinggi pemerintahan Amerika Serikat (AS).

Klaim tersebut bermula dari sebuah unggahan akun anonim di X yang berbasis di India pada 5 Agustus. Akun itu mengeklaim Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi, Panglima Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), mengatakan Iran tidak akan pernah menghentikan upayanya mengembangkan senjata nuklir selama Israel dan AS masih memiliki senjata tersebut.

Baca Juga: Ini Alasan Iran Bikin Sayembara Bunuh Tentara AS Dapat Rp534 Juta dan Rp1 Miliar bagi Kontestan Perempuan

Unggahan itu dilengkapi foto Vahidi dan gambar awan jamur yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Masalahnya, tidak ada bukti bahwa Vahidi pernah mengeluarkan pernyataan tersebut. Tidak ada pula bukti bahwa Iran telah memiliki atau membuat senjata nuklir. Namun, klaim tersebut terlanjur menyebar dengan sangat cepat.

Berawal dari Akun Anonim India

Menurut penelusuran The New York Times, unggahan pertama berasal dari akun anonim asal India di platform X, yang memiliki sekitar 175.000 pengikut.

Hanya dalam waktu dua jam, akun India lainnya dengan sekitar 82.000 pengikut ikut menyebarkan klaim tersebut dalam bahasa Hindi. Dari sana, informasi palsu atau hoaks tersebut masuk ke lingkungan media dan akun-akun Israel.

Sebuah akun bernama "Mossad Commentary", yang menggunakan nama badan intelijen Israel tetapi tidak memiliki hubungan resmi yang diketahui dengan lembaga tersebut, ikut menyebarkan klaim palsu itu.

Akun tersebut bahkan menyiratkan bahwa Iran sengaja mengulur waktu dan tidak benar-benar berniat bernegosiasi dalam pembicaraan gencatan senjata dengan AS.

Sekitar 30 menit kemudian, Channel 14 Israel menayangkan kutipan tersebut dalam bahasa Inggris.

Yair Netanyahu, putra PM Netanyahu sekaligus komentator politik Zionis, ikut memperkuat penyebaran klaim tersebut beberapa menit kemudian.Kurang dari tiga jam setelah unggahan pertama muncul, klaim palsu itu sudah masuk ke dalam pidato PM Netanyahu.

Netanyahu menyampaikan klaim tersebut dalam pidatonya di Mount Herzl, pemakaman nasional Israel di Yerusalem. Dia merujuk pernyataan yang dikaitkan dengan Vahidi sebagai bukti mengenai niat Iran mengembangkan senjata nuklir.

Padahal, sumber awalnya hanyalah sebuah unggahan anonim yang belum diverifikasi.

Di Amerika Serikat, klaim tersebut juga mendapatkan perhatian. Mike Waltz, duta besar pemerintahan Donald Trump untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), membagikan klaim tersebut di X.

Waltz mengatakan, "Iran akhirnya mengakui apa yang sudah jelas selama bertahun-tahun.”Senator AS dari Florida, Rick Scott, juga ikut membagikan ulang klaim tersebut. Bahkan, Fox News turut memberitakannya.

Namun, ketika pertanyaan mengenai keaslian klaim mulai bermunculan, unggahan Waltz di X tiba-tiba dihapus tanpa penjelasan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengecam unggahan tersebut sebagai “contoh banjir kebohongan terhadap Republik Islam.”

Baghaei menuduh Israel berada di balik penyebaran klaim semacam itu. Namun, dia tidak memberikan bukti yang mendukung tuduhannya.

Menurut Baghaei, tuduhan mengenai program senjata nuklir Iran telah digunakan selama sekitar dua dekade untuk membenarkan tindakan militer terhadap negaranya.Program nuklir Iran sendiri telah menjadi perhatian internasional selama sekitar tiga dekade. Teheran selama ini bersikeras bahwa program tersebut ditujukan untuk tujuan damai dan sipil.

Isu nuklir Iran juga menjadi salah satu alasan yang digunakan Presiden AS Donald Trump untuk membenarkan tekanan dan kampanye militernya terhadap Teheran.

Kasus ini menunjukkan betapa cepatnya sebuah informasi palsu dapat berubah menjadi bagian dari narasi politik dan militer. Klaim yang awalnya muncul dari sebuah akun anonim di India berpindah ke akun lain, diterjemahkan ke bahasa berbeda, kemudian disebarkan akun-akun Israel, diberitakan televisi, dikutip pejabat politik, hingga akhirnya masuk ke pidato seorang kepala pemerintahan.

Semua proses tersebut berlangsung hanya dalam hitungan jam. Kejadian ini juga memperlihatkan bagaimana perang modern tidak hanya berlangsung melalui rudal, drone, dan pesawat tempur. Media sosial telah menjadi medan pertempuran lain, tempat klaim, propaganda, meme, dan informasi palsu dapat menyebar jauh lebih cepat daripada proses verifikasi fakta.

Dalam kasus ini, sebuah kutipan yang tidak pernah terbukti diucapkan pejabat Iran bahkan sempat digunakan sebagai bahan untuk menggambarkan niat Teheran terkait program nuklirnya. Padahal, sumber awalnya hanyalah sebuah unggahan anonim yang tidak memiliki bukti pendukung.

Topik Menarik