AS Susun Strategi Senjata Nuklir Baru untuk Potensi Perang Melawan Rusia dan China

AS Susun Strategi Senjata Nuklir Baru untuk Potensi Perang Melawan Rusia dan China

Global | sindonews | Kamis, 6 Agustus 2026 - 06:56
share

Pentagon sedang merancang strategi senjata nuklir baru sebagai persiapan menghadapi potensi perang melawan Rusia dan China. Ini menandai perubahan signifikan dalam taktik militer Amerika Serikat (AS).

Strategi yang diawasi oleh kepala kebijakan Pentagon Elbridge Colby tersebut akan lebih menitikberatkan pada penggunaan senjata nuklir taktis jarak pendek jika terjadi perang regional, alih-alih mengandalkan rudal strategis jarak jauh.

Baca Juga: Analis: Iran Temukan Senjata yang Lebih Ampuh daripada Bom Nuklir dan Itu Berhasil

Mengutip laporan dari NBC, Kamis (8/6/2026), Colby diperkirakan akan membahas rencana tersebut pada hari Rabu waktu AS dalam sebuah acara militer tertutup di Nebraska saat mengunjungi Komando Strategis AS, yang membawahi pasukan nuklir.

Menurut sumber-sumber yang mengetahui rencana tersebut, strategi ini dirancang untuk menghadapi skenario di mana sekutu AS diserang oleh Rusia atau pun China dalam konflik regional.

Seorang pejabat senior Departemen Perang AS mengatakan kepada NBC: "Pandangan kami adalah bahwa kami membutuhkan opsi nuklir yang kredibel."Strategi ini tidak akan membatasi pilihan Presiden Donald Trump. "Melainkan justru memperluas ruang pilihan presiden dengan menyediakan opsi yang realistis dan kredibel, sehingga memperkuat daya tangkal," ujar pejabat tersebut.

Colby telah lama mendukung penggunaan senjata nuklir taktis—yaitu hulu ledak yang lebih kecil dan berjarak jangkau lebih pendek yang dirancang untuk digunakan di medan perang atau terhadap target militer spesifik, bukan untuk menghancurkan seluruh kota.

Dia juga berpendapat bahwa doktrin nuklir AS saat ini kurang kredibel karena terlalu bergantung pada ancaman peluncuran senjata strategis jarak jauh yang mampu memusnahkan seluruh kekuatan nuklir lawan.

Pejabat senior Departemen Perang itu menambahkan: "Jika Anda benar-benar ingin daya tangkal yang diperluas itu kredibel, Anda harus menyediakan kemampuan nuklir bagi pimpinan politik negara yang, menurut akal sehat, memang bisa benar-benar digunakan."

"Jika tidak, Anda hanya menyisakan pilihan-pilihan ekstrem bagi pimpinan kita—pilihan yang tidak akan dianggap kredibel oleh lawan—dan hal itu tidak akan berdampak baik bagi daya tangkal," imbuh dia.Perubahan yang diusulkan ini telah memicu kembali perdebatan era Perang Dingin mengenai kebijakan nuklir AS dan bagaimana negara tersebut sebaiknya mengelola persenjataannya untuk mencegah konflik tanpa meningkatkan risiko perang nuklir.

Para kritikus berpendapat bahwa pemberian penekanan lebih besar pada senjata nuklir taktis dapat menurunkan ambang batas penggunaannya, karena senjata tersebut jadi tampak lebih bisa digunakan dalam konflik konvensional.

Pihak lain memperingatkan bahwa langkah ini dapat mengurangi kesiapan militer untuk skenario di mana presiden mungkin justru memilih untuk mengerahkan senjata strategis jarak jauh.

Seorang staf senior Kongres yang memahami usulan tersebut mengatakan kepada NBC: "Sulit membayangkan adanya kajian yang lebih bertolak belakang dengan sikap yang dinyatakan Presiden Trump, yaitu menjadikan kemampuan penangkal nuklir kita hebat kembali."

"Dia jelas menginginkan lebih banyak opsi dan kemampuan, bukan lebih sedikit. Kajian ini benar-benar mencerminkan sikap yang lemah dan tidak tegas," paparnya.

Belum ada senjata nuklir yang digunakan dalam konflik sejak AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945, yang memaksa Jepang menyerah dan mengakhiri Perang Dunia II.

Topik Menarik