Jenderal Iran: Negara Mana Pun yang Jadi Tameng AS Akan Terbakar dalam Kobaran Api Perang!

Jenderal Iran: Negara Mana Pun yang Jadi Tameng AS Akan Terbakar dalam Kobaran Api Perang!

Global | sindonews | Minggu, 2 Agustus 2026 - 05:41
share

Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, memperingatkan negara mana pun yang membiarkan dirinya menjadi tameng bagi Amerika Serikat (AS) akan menghadapi konsekuensi perang. Dia mendesak negara-negara regional untuk mempertimbangkan kembali kerja sama dengan Washington.

Dia mengatakan bahwa AS sedang mengejar, dengan kecepatan yang semakin meningkat, jalur eskalasi yang meluas dalam perang regional. Menurutnya, pendekatan ini adalah hasil dari strategi berbahaya yang bertujuan untuk memperluas dan memaksakan dominasi ilegal di seluruh wilayah.

Baca Juga: Iran Siapkan Rencana Komprehensif jika AS dan Israel Serang Infrastruktur

Jenderal Teheran tersebut menambahkan bahwa Amerika Serikat yang kriminal telah membuktikan selama perang baru-baru ini melawan Republik Islam Iran bahwa mereka tidak akan menahan diri dari tindakan agresi atau penghancuran terhadap kepentingan dan sumber daya negara-negara Muslim dalam mengejar tujuan jahatnya.

"Negara-negara Muslim di kawasan ini harus tahu bahwa Amerika Serikat menggunakan modal, kekayaan, infrastruktur vital, dan sumber daya strategis mereka sebagai perisai pertahanan bagi militernya yang melemah, sementara pada saat yang sama memperkuat mesin militer dan keamanan rezim teroris Zionis yang membunuh anak-anak," paparnya, seperti dikutip dari Mehr News Agency, Minggu (2/8/2026).

Republik Islam Iran, sambung dia, bersama dengan putra-putra bangsa yang gagah berani di Angkatan Bersenjata dan Front Perlawanan, telah membuktikan bahwa keseimbangan kekuatan di kawasan ini tidak lagi mengikuti persamaan sebelumnya. "Kegagalan Amerika Serikat untuk mencapai tujuan agresif dan ilegalnya terhadap Iran telah memaksa militer AS yang melemah dan rezim Zionis untuk melancarkan perang, pertumpahan darah, dan agresi dari balik wilayah negara-negara Muslim, membebankan biaya perang kepada pemerintah regional," ujarnya.

"Negara-negara Muslim harus bertindak dengan berwawasan ke depan, memantau dengan cermat kejahatan Amerika, dan mempertimbangkan kembali kerja sama dengan Amerika Serikat, jika tidak, negara mana pun yang berfungsi sebagai perisai pertahanan bagi Amerika Serikat yang kriminal dan agresor akan terbakar dalam kobaran api perang," imbuh dia.

AS Isyaratkan Akan Mengebom Iran Sangat Keras

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan akan adanya serangan baru yang sangat keras terhadap Iran, di mana laporan media Amerika menunjukkan bahwa pengeboman tersebut dapat terjadi paling cepat akhir pekan ini.

Menurut laporan The Wall Street Journal, Trump telah menginstruksikan militer untuk melakukan serangan baru terhadap Iran dengan tujuan memaksa Teheran untuk menyerah.

"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras. Dan pada suatu saat, mereka akan mengatakan kita tidak tahan lagi," kata Trump pada hari Jumat selama pertemuan kabinet di tempat peristirahatan presiden Camp David di Maryland. "Saya pikir kita hanya ingin menang," imbuh dia.Lebih lanjut, Trump mengatakan bahwa dia kehilangan kepercayaan pada Iran karena mereka "berbohong dan salah menafsirkan."

Laporan lain dari CBS, mengutip para pejabat Washington, menyebutkan bahwa AS dan Israel sedang merencanakan apa yang bisa menjadi salah satu kampanye pemboman terkeras hingga saat ini terhadap target infrastruktur energi dan kilang minyak Iran.

Jika serangan itu benar-benar terjadi, ini bisa menjadi kali pertama Israel kembali melakukan operasi tempur, yang telah dihentikan selama gencatan senjata AS-Iran yang rapuh.

Menurut laporan itu, para pejabat sedang membahas untuk mengakhiri serangan tersebut sebelum pasar keuangan dibuka pada hari Senin karena kekhawatiran tentang bagaimana hal itu akan memengaruhi ekonomi AS dan global, tetapi belum ada titik akhir untuk pembicaraan tersebut.

Tak lama setelah pernyataan Trump, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada CBS: "AS akan menang, dan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir di bawah pengawasannya."Juru bicara utama Pentagon Sean Parnell juga menegaskan bahwa Departemen Perang Amerika siap siaga.

Perang, yang dimulai pada 28 Februari setelah serangan militer gabungan oleh AS dan Israel terhadap Iran, telah mencapai gencatan senjata bulan lalu. Namun, baik AS maupun Iran terus saling menyerang, memicu ketidakstabilan regional yang meluas.

Selanjutnya, Iran memblokir Selat Hormuz, menghentikan pengiriman maritim penting berupa minyak mentah, gas alam, dan pupuk. Serangan pesawat tak berawak dan rudal Iran yang diarahkan ke negara-negara Teluk Persia menyebabkan gangguan operasional dan ekonomi yang parah. Hal ini semakin meluas minggu ini setelah dua kapal yang membawa gas alam cair menjadi sasaran serangan pesawat tak berawak di pelabuhan Damietta, Mesir.

Topik Menarik