Iran Bersiap Berperang Lagi jika MoU Tidak Dilaksanakan, AS dan Sekutunya Ketar-ketir

Iran Bersiap Berperang Lagi jika MoU Tidak Dilaksanakan, AS dan Sekutunya Ketar-ketir

Global | sindonews | Rabu, 1 Juli 2026 - 13:22
share

Iran mengindikasikan bahwa mereka belum siap untuk menegosiasikan perjanjian akhir dengan Amerika Serikat. Iran menyatakan bahwa ketentuan-ketentuan utama dari 14 poin Memorandum of Understanding (MoU) yang baru saja ditandatangani harus dilaksanakan sebelum pembicaraan komprehensif dapat dimulai.

Ketua Parlemen Iran dan kepala perunding, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga memperingatkan bahwa Teheran akan menanggapi setiap “pelanggaran pemahaman” yang mengakhiri konflik baru-baru ini. Mengacu pada insiden di Teluk Persia, dia mengatakan Iran memandang insiden tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata bahkan ketika hubungan diplomatik dengan Washington terus berlanjut.

Menurut kantor berita ISNA, Ghalibaf mengatakan dalam sebuah wawancara yang disiarkan televisi pada hari Selasa, “Kami menganggap peristiwa yang terjadi di Teluk Persia malam ini sebagai pelanggaran terhadap pemahaman untuk mengakhiri perang, dan kami pasti akan bereaksi terhadapnya, dan tentu saja, pihak lain juga akan bereaksi.”

Ia juga menegaskan kembali bahwa diplomasi tetap menjadi pendekatan yang disukai Teheran, sekaligus menegaskan bahwa Iran siap melakukan aksi militer jika negosiasi gagal. Berbicara kepada televisi pemerintah, dia berkata, "Kami sedang mengupayakan dialog, namun jika dialog tidak dilaksanakan, kami juga siap berperang dan akan meresponsnya dengan tepat," lapor AFP.

Pernyataannya disampaikan ketika delegasi Iran dan AS dijadwalkan mengadakan diskusi terpisah di Doha untuk membahas implementasi MoU melalui mediator.Ketua Parlemen Iran mengatakan negaranya telah meningkatkan ekspor minyak secara tajam sejak blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya dicabut, setelah suatu periode dimana negara tersebut tidak dapat mengekspor minyak mentah apapun.

“Sejak blokade dicabut hingga hari ini, kami telah mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak.” Ia menambahkan, “Sebaliknya, selama 50 hingga hampir 60 hari sebelumnya, kami benar-benar tidak mampu mengekspor satu barel minyak pun,” ujarnya.

Menggambarkan pencabutan blokade sebagai sebuah keberhasilan besar, "Jenis perang yang paling parah adalah blokade laut, yang berarti bahwa orang-orang dan makanan mereka telah dikepung. Blokade ini dicabut, dan ini adalah salah satu keberhasilan besar dari memorandum ini yang terjadi setelah itu; penandatanganan digital terakhir telah dilakukan," tambahnya.

Meskipun para pejabat senior AS, termasuk utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump Jared Kushner, melakukan perjalanan ke Doha untuk mendorong negosiasi, para pejabat Iran menyatakan bahwa tidak ada rencana untuk melakukan pembicaraan langsung dengan delegasi AS, dan diskusi terus berlanjut melalui mediator.

Sementara itu, Perdana Menteri Qatar bertemu Witkoff dan Kushner di Doha untuk membahas negosiasi yang sedang berlangsung antara Teheran dan Washington.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan Perdana Menteri menegaskan kembali upaya mediasi negara tersebut dan menyatakan dukungan untuk semua negosiasi yang berasal dari MoU.

Topik Menarik