China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
China akan menjadikan kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian dari pendidikan mulai dari sekolah dasar (SD) hingga universitas. Langkah ini dilakukan sesuai rencana lima tahun baru yang dikeluarkan Dewan Negara.
Dokumen yang diterbitkan pada hari Senin tersebut menyerukan agar AI diajarkan “di semua tingkatan pendidikan” untuk meningkatkan literasi AI siswa, dan mengajari mereka memahami teknologi dan menggunakannya untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah.
Rencana tersebut menyajikan langkah ini sebagai bagian dari pembaruan sistem sekolah China yang lebih luas, dengan penekanan yang lebih besar pada sains, pemikiran kritis, inovasi, dan hubungan antara pendidikan, penelitian, dan industri.
Rencana ini juga menyerukan agar AI, big data, dan alat digital lainnya digunakan dalam ujian, penilaian, dan manajemen sekolah, sambil memperkuat aturan etika dan pengawasan keselamatan.
Beberapa sekolah di China telah menguji sejauh mana teknologi ini dapat digunakan dalam pelajaran sehari-hari, dan telah menggunakan AI untuk umpan balik kaligrafi, penilaian tulisan, dan latihan bahasa, serta untuk membantu guru mempersiapkan pelajaran, menilai siswa, dan membuat tugas yang dipersonalisasi.Langkah China ini terjadi ketika negara-negara ekonomi besar lainnya berupaya memasukkan AI ke dalam rencana pembangunan nasional mereka.
Pada bulan April, Presiden Rusia Vladimir Putin menginstruksikan pemerintah untuk menyiapkan rencana penerapan AI nasional guna mengintegrasikan teknologi tersebut di semua sektor, mulai dari industri dan logistik hingga energi dan pendidikan.
Putin mencatat AI sedang membentuk kembali “seluruh kehidupan negara,” dan menekankan Rusia “harus memiliki teknologi paling canggih dan bergantung sepenuhnya pada produk domestik yang berdaulat,” khususnya untuk pertahanan dan keamanan.
Universitas-universitas Rusia juga telah memperluas pelatihan terkait AI. Tahun lalu, Universitas Negeri Moskow baru-baru ini meluncurkan fakultas AI khusus dengan 36 tempat untuk program sarjana dan 36 tempat untuk program magister.
Universitas Negeri Tyumen juga baru-baru ini mengusulkan model di mana AI dapat bertindak sebagai konsultan ahli dan “mitra diskusi” bagi mahasiswa, sementara guru manusia tetap menjadi mentor.Pada bulan Mei, Putin juga mengumumkan rencana membentuk aliansi AI internasional, yang menyatukan komunitas ilmiah, akademis, dan bisnis dari berbagai negara.
Tujuan aliansi ini adalah untuk memperdalam kerja sama internasional dalam mengembangkan model AI yang berdaulat, menciptakan infrastruktur komputasi dan energi yang saling terhubung, dan mengadaptasi teknologi AI untuk kebutuhan lokal, kata presiden.
Baca juga: Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis









