Menteri Zionis Tolak Gencatan Senjata: Lebanon Seharusnya Jadi Arena Bermain Israel
Menteri Keamanan Nasional Zionis Israel Itamar Ben-Gvir menyatakan penolakan terhadap perjanjian gencatan senjata apa pun di Lebanon. Sedangkan tokoh oposisi Zionis, Avigdor Lieberman, menyebut kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Iran sebagai bencana politik terbesar sejak berdirinya negara Israel.
“[Lebanon] seharusnya menjadi arena bermain Israel,” kata Ben-Gvir. “Israel tidak dapat menyetujui gencatan senjata di Lebanon,” katanya lagi kepada lembaga penyiaran publik Israel, KAN.
Baca Juga: Mengejutkan, 92 Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Ben-Gvir mendesak Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu untuk menyampaikan penolakan Israel terhadap gencatan senjata apa pun di Lebanon kepada Presiden AS Donald Trump.
“Trump adalah teman sejati, dan kami harus memperlakukannya dengan sopan dan merangkulnya, tetapi kami perlu mengatakan kepadanya bahwa kami tidak dapat menyetujui gencatan senjata di Lebanon,” ujarnya.“Kamilah yang membuat keputusan, dan ada hasil yang baik bagi tentara kami," imbuh dia.Penolakannya muncul di tengah meningkatnya perselisihan di kalangan politik dan keamanan Israel mengenai nota kesepahaman antara AS dan Iran dan implikasinya terhadap pengakhiran perang di front Lebanon.
“Kesepakatan antara Iran dan AS adalah bencana politik terbesar sejak berdirinya negara [Israel],” kata Avigdor Lieberman, pemimpin partai Yisrael Beiteinu, di X.
“Kami harus bertindak sesuai dengan kepentingan Israel dan bukan sesuai dengan harga bahan bakar di bursa saham dunia,” ujarnya, merujuk pada apa yang dilihat para pakar sebagai salah satu motif di balik dorongan Trump untuk mengakhiri perang Iran.
Israel dan Lebanon dijadwalkan untuk mengadakan putaran kelima negosiasi langsung di Washington pada hari Selasa (23/6/2026). Pembicaraan ini menyusul empat putaran sebelumnya antara kedua pihak yang dimulai pada bulan April sebagai bagian dari jalur yang bertujuan untuk mengakhiri perang Israel di Lebanon.
Negosiasi yang dimediasi AS ini terjadi di tengah meningkatnya kritik di dalam Israel atas penanganan Washington terhadap pembicaraan dengan Iran dan Hizbullah.Situs berita Israel, i24NEWS, mengutip para pejabat Israel, mengatakan Tel Aviv khawatir bahwa kesepakatan antara AS dan Iran dapat memperkuat Teheran dan sekutunya di kawasan tersebut.
Para pejabat tersebut mengeklaim bahwa pemerintahan Trump dan tim negosiasinya salah memahami ideologi yang mendorong Teheran dan Hizbullah.
“Trump tidak berbicara bahasa Syiah,” kata mereka, merujuk pada apa yang mereka klaim sebagai kegagalan untuk memahami sifat sistem Iran dan Hizbullah.
Pada hari Sabtu, i24NEWS mengutip pejabat senior Israel yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan: “Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menginstruksikan para menteri untuk menghindari serangan pribadi terhadap Trump.”
Serangan Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 4.100 orang dan melukai lebih dari 12.000 lainnya sejak 2 Maret, menurut angka resmi Lebanon.
Israel terus menduduki wilayah di Lebanon selatan, beberapa di antaranya telah dikuasai selama beberapa dekade dan yang lainnya direbut selama perang 2023–2024.









