Trump Berubah Lagi, Perintahkan Negosiator AS Jangan Terburu-buru Deal dengan Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memerintahkan para negosiatornya untuk tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran. Perintah ini menjadi perubahan sikap yang kesekian kalinya, di mana sebelumnya dia menekan Teheran agar cepat membuat kesepakatan.
Trump bersikeras bahwa kesepakatan apa pun yang dicapai oleh pemerintahannya tidak akan menyerupai perjanjian nuklir era Presiden Obama tahun 2015, yang secara sepihak dia tinggalkan selama masa jabatan pertamanya dan telah digambarkan sebagai "salah satu kesepakatan terburuk yang pernah dibuat."
Baca Juga:Sudah 3 Bulan Berlalu, Pakar Nilai AS Kalah Secara Strategis dalam Perang Iran
“Kesepakatan kami justru sebaliknya, tetapi belum ada yang melihatnya, atau tahu apa isinya. Bahkan belum sepenuhnya dinegosiasikan,” tulisnya di Truth Social pada hari Minggu.
“Jadi jangan dengarkan pihak yang kalah, yang mengkritik sesuatu yang tidak mereka ketahui," lanjut Trump.
Trump mengatakan waktu ada di pihak Amerika dan memperingatkan bahwa blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di sekitar Selat Hormuz akan tetap berlaku penuh sampai kesepakatan tercapai, disahkan, dan ditandatangani. “Kedua belah pihak harus meluangkan waktu dan melakukannya dengan benar. Tidak boleh ada kesalahan!” imbuh Trump.Media AS, Axios, melaporkan pada hari Minggu bahwa kesepakatan yang muncul akan berbentuk nota kesepahaman 60 hari, yang dapat diperpanjang dengan persetujuan bersama.
Berdasarkan draf tersebut, Selat Hormuz akan dibuka kembali tanpa biaya tol, Iran akan membersihkan ranjau yang telah ditempatkan di jalur air tersebut, dan AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran dan mengeluarkan pengecualian sanksi terbatas yang memungkinkan Teheran untuk menjual minyak.
Draf tersebut juga dilaporkan mencakup komitmen Iran untuk tidak pernah mengejar senjata nuklir dan untuk bernegosiasi mengenai penangguhan pengayaan uranium dan penghapusan persediaan uranium yang sangat diperkaya, meskipun metodenya masih dalam negosiasi, menurut pejabat AS anonim yang dikutip oleh New York Times dan CBS News.
Iran Tolak Perundingan Langsung dengan AS di Islamabad, Tegaskan Blokade AS Harus Diakhiri
Fox News melaporkan bahwa kesepakatan itu "95 sudah tercapai" pada hari Minggu, tetapi para negosiator masih bernegosiasi tentang "bahasa" kesepakatan tersebut.Para pejabat Iran belum berkomentar secara terbuka tentang persyaratan yang dilaporkan, tetapi sebelumnya mengatakan fokus pembicaraan tetap pada pengakhiran perang, dan bahwa detail nuklir tidak dibahas pada tahap ini.
Kantor berita Fars yang berbasis di Iran juga membantah klaim Trump bahwa Selat Hormuz akan "dibuka" begitu saja, dengan mengatakan bahwa jalur perairan tersebut akan tetap berada di bawah pengelolaan Iran.
Iran telah berulang kali menggambarkan kendali atas Selat Hormuz sebagai pengaruh strategis utamanya dan telah berupaya mengubah rezim hukum yang mengatur selat tersebut.
Mohammad Mokhber, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, menggambarkan jalur perairan tersebut sebagai “kemampuan yang setara dengan bom atom", dan mengatakan Teheran tidak akan mengorbankan keuntungan yang diperoleh selama perang tanpa konsesi dari Washington.
Nota kesepahaman (MOU) yang diusulkan juga dilaporkan menyatakan bahwa perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon akan berakhir. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan menyampaikan kekhawatiran tentang ketentuan tersebut dan bagian lain dari draf tersebut selama percakapannya dengan Trump pada hari Sabtu.






