Inilah Yildirimhan, Rudal Balistik Antarbenua Turki yang Diklaim Mampu Serang Daratan AS
Rudal balistik antarbenua (ICBM) Yıldırımhan Turki yang baru diluncurkan menarik perhatian dunia internasional bukan hanya karena klaimnya yang berani, tetapi juga karena video promosi kontroversial yang dihasilkan oleh articial intelligence (AI). Para pakar pertahanan tetap tidak yakin tentang kemampuan yang diproyeksikan dari rudal tersebut.
Upacara peluncuran tersebut menuai kritik setelah sebuah video AI menunjukkan rudal tersebut menghantam sekutunya, Amerika Serikat, menurut laporan Financial Times.
Baca Juga: Turki Luncurkan Rudal Hipersonik Pertamanya, Ini 3 Keunggulannya
Rudal tersebut diperkenalkan di "SAHA 2026 Defence and Aerospace Exhibition" yang diselenggarakan oleh pusat penelitian Kementerian Pertahanan Turki. Rudal tersebut dipresentasikan dengan klaim bahwa rudal tersebut dapat menempuh jarak hingga 6.000 kilometer sambil membawa hulu ledak 3.000 kg dengan kecepatan mencapai 25 kali kecepatan suara. Jika berhasil, proyek ini akan menempatkan Turki di antara sejumlah kecil negara yang mampu mengembangkan rudal balistik jarak jauh.
Yang lebih menarik perhatian di acara besar itu adalah ketika video buatan AI yang digunakan selama presentasi tampak menunjukkan rudal tersebut menghantam target di AS. Namun, jarak Turki-AS sekitar 7.800km hingga 9.000 km sehingga video tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang validitas dari kemampuan sebenarnya ICBM Yildirimhan.Setelah kontroversi tersebut, pejabat Turki kini telah mengonfirmasi bahwa prototipe rudal Yıldırımhan yang sepenuhnya operasional belum dibangun atau diuji.Yildirimhan, yang berarti "petir" dalam bahasa Turki, dimaksudkan sebagai bagian dari tujuan Turki yang lebih luas untuk menunjukkan kekuatan militernya yang semakin meningkat menjelang KTT NATO di Ankara pada Juli mendatang. Perang AS-Israel melawan Iran tetap menjadi alasan bagi Turki untuk memperluas daya pencegahan militernya di kawasan yang semakin tidak stabil.
“Kami bermaksud menggunakannya semata-mata untuk tujuan pencegahan,” kata Menteri Pertahanan Yadar Guler pada acara peluncuran rudal tersebut pada Selasa lalu.
“Namun, jika diperlukan, jangan sampai ada yang meragukan bahwa kami akan mengerahkan rudal tersebut tanpa ragu-ragu dan dengan cara yang paling efektif,” ujarnya.
Terlepas dari peluncuran yang megah tersebut, para analis pertahanan tetap skeptis tentang kemampuan sebenarnya dari rudal sepanjang 18 meter itu. Mereka juga menambahkan bahwa tidak ada tanda-tanda bahwa Guler mengetahui bahwa video tersebut menunjukkan target AS.
“Ini adalah perkiraan yang berlebihan. Industri pertahanan Turki memiliki banyak kemampuan, dan berkembang pesat, tetapi belum mencapai level ini,” kata seorang pejabat pertahanan Barat, sebagaimana dikutip dari Financial Times, Minggu (10/5/2026). “Tampaknya sangat ambisius dan patut dipertanyakan,” imbuh Fabian Hoffman, seorang pakar rudal di Universitas Oslo.Beberapa hari setelah memperkenalkan rudal Yıldırımhan, Kementerian Pertahanan Turki mengklarifikasi bahwa sistem tersebut masih dalam tahap pengujian. “Pengujian laboratorium sistem rudal Yıldırımhan, yang memiliki kapasitas muatan hulu ledak 3 ton, telah berhasil diselesaikan, dan pengujian lapangan sedang berlangsung,” demikian pernyataan kementerian tersebut.
Perkembangan ini terjadi seiring dengan perluasan industri pertahanan Turki, yang memperkuat posisinya sebagai eksportir senjata terbesar ke-11 di dunia. Sekutu utama NATO seperti Inggris dan Jerman juga menggambarkan kapasitas industri Turki sebagai hal yang penting untuk pertahanan Eropa.
Rudal Turki dengan jangkauan terpanjang saat ini adalah Tayfun, yang telah mencapai jarak 600 km dalam pengujian, sepersepuluh dari jangkauan Yıldırımhan yang diklaim mencapai 6.000 km.










