Dunia Hadapi Ancaman Keamanan Energi Terbesar dalam Sejarah
Dunia menghadapi ancaman keamanan energi terbesar dalam sejarah, menurut Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol. Peringatan itu muncul seiring blokade yang masih berlangsung di Selat Hormuz, baik oleh Iran ataupun Amerika Serikat (AS).
“Kita akan melihat tekanan penurunan permintaan sebagai akibat dari kenaikan harga, dan dalam beberapa kasus sebagai akibat dari beberapa langkah yang diambil atau akan diambil pemerintah untuk mengatasi krisis energi,” katanya kepada kantor berita Reuters.
Mengenai dampak perang Iran terhadap krisis energi, Birol mengatakan, “Sejauh ini kita telah kehilangan 13 juta barel minyak per hari.”
Sementara itu, ketua parlemen Iran mengatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama blokade angkatan laut AS masih berlangsung, menyebutnya sebagai “pelanggaran terang-terangan” terhadap gencatan senjata.
IRGC Iran mengatakan telah menangkap dua kapal asing di Selat Hormuz dan melepaskan tembakan ke kapal ketiga karena melanggar pembatasan pengiriman yang melintasi jalur air tersebut.Presiden AS Donald Trump belum menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk mengajukan proposal perdamaian, menurut Gedung Putih.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan telah memukul mundur 31 kapal, sebagian besar kapal tanker minyak, sebagai bagian dari blokade angkatan laut skala besar yang melibatkan setidaknya 10.000 tentara, 17 kapal perang, dan lebih dari 100 pesawat.
Serangan udara Israel di Lebanon selatan pada hari Rabu menewaskan lima orang, meskipun gencatan senjata sedang berlangsung. Mereka termasuk Amal Khalil, seorang koresponden untuk surat kabar Al Akhbar. Jurnalis lepas Zeinab Faraj terluka parah.
Tiga anak termasuk di antara lima warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel di Gaza.
Baca juga: Trump: Tak Ada Jangka Waktu untuk Akhiri Perang AS-Israel vs Iran!





