Inilah Product 358, Rudal Murah Iran yang Menembak Jet Tempur Siluman F-35 AS

Inilah Product 358, Rudal Murah Iran yang Menembak Jet Tempur Siluman F-35 AS

Global | sindonews | Jum'at, 10 April 2026 - 09:09
share

Pada 19 Maret, Iran melakukan hal yang tak terduga, menjadi negara pertama yang menembak jet tempur siluman generasi kelima Amerika Serikat (AS); F-35 Lightning II.

Meskipun pesawat F-35 Angkatan Udara AS itu berhasil melakukan pendaratan darurat di pangkalan militer AS di Timur Tengah, pesawat tersebut telah mengalami kerusakan reputasi yang tak dapat diperbaiki.

Baca Juga: Baru 2 Pekan Iran Tembak Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kini Jet Serupa Amerika Jatuh

Iran menunjukkan kepada dunia bahwa pesawat tempur generasi kelima yang paling banyak diproduksi, lebih dari 1.300 unit F-35 telah dikirim oleh Lockheed Martin, dan dipesan oleh 19 negara, mungkin tak terlihat, tetapi tentu saja tidak tak terkalahkan.

Yang perlu diperhatikan, Iran mencapai prestasi ini ketika sebagian besar aset pertahanan udaranya, menurut Presiden Donald Trump, telah hancur.

Faktanya, salah satu alasan F-35 terbang jauh ke dalam wilayah Iran, alih-alih meluncurkan rudal jarak jauh, adalah keyakinan bahwa sebagian besar pertahanan udara musuh telah dihantam.

“Kami terbang ke mana pun kami mau. Tidak ada yang menembak kami,” kata Trump pada 17 Maret. Menteri Perang Pete Hegseth lebih lanjut mengatakan pertahanan udara Iran telah “diratakan”.

Product 358, Rudal Murah Iran

Hal ini, bersama dengan kemampuan siluman F-35 yang superior, membuat jet tersebut tak terlihat dan tak terkalahkan, atau begitulah yang dipikirkan pilot. Namun, pilot F-35 AS tidak memperhitungkan satu ancaman yang mengintai, yaitu "Product 358" Iran.

“Product 358”, juga dikenal sebagai rudal 358 atau SA-67, adalah rudal permukaan-ke-udara (SAM) yang dikembangkan Iran, yang dirancang terutama sebagai penangkal berbiaya rendah terhadap kendaraan udara tak berawak (UAV/drone), helikopter, dan ancaman udara lainnya yang terbang lambat atau rendah.

Senjata ini sering digambarkan sebagai senjata hibrida, sebagian rudal dan sebagian lagi amunisi "kamikaze" atau amunisi jelajah. Terkadang, senjata ini juga disebut sebagai sistem "pertahanan udara berbasis drone". Setelah diluncurkan, senjata ini dapat berpatroli atau berputar-putar di wilayah udara yang ditentukan sambil secara otonom mencari target, kemudian menukik untuk mencegat.

Rudal ini awalnya diluncurkan oleh pendorong roket berbahan bakar padat, yang terpisah setelah terbakar habis. Rudal, kemudian, dalam fase jelajahnya, ditenagai oleh mesin turbojet kecil.

Rudal ini dilengkapi dengan pencari inframerah (IR)/elektro-optik untuk pelacakan akhir. Sistem pasif ini berarti rudal tidak memancarkan sinyal radar, sehingga membuatnya "senyap" dan lebih sulit dideteksi oleh target melalui penerima peringatan radar.

Meskipun investigasi Angkatan Udara AS (USAF) terhadap insiden tersebut belum selesai dan Iran belum mengungkapkan senjata apa yang digunakan untuk menargetkan jet F-35, di kalangan analis pertahanan dan keamanan, terdapat konsensus yang berkembang bahwa rudal Iran yang menembak F-35 adalah rudal Product 358 Iran, sebuah perpaduan yang unik dan benar-benar cerdik antara rudal permukaan-ke-udara (SAM) tradisional dan amunisi jelajah.

Dr Can Kasapoğlu, Senior Fellow di Hudson Institute, menggambarkan amunisi jelajah 358 sebagai "penyebab alami" serangan terhadap F-35, menyoroti pencari inframerah pasifnya yang mengunci panas mesin pada jarak dekat tanpa memancarkan sinyal radar, sehingga melewati penerima peringatan radar F-35.

Demikian pula, mantan pilot tempur Angkatan Udara India, Vijainder K Thakur, mengatakan: “Sulit untuk memprediksi bentuk ancaman di masa depan. Saya sendiri yakin bahwa F-35 yang rusak akibat rudal Iran, yang diduga Product 358, tidak mengenali hibrida rudal-drone sebagai ancaman.”

Dia menekankan bahwa sensor F-35 kemungkinan gagal mengklasifikasikan hibrida bersinyal rendah tersebut sebagai ancaman tepat waktu.

Thakur menyampaikan poin penting tentang F-35 yang tidak mengenali “hibrida rudal-drone sebagai ancaman", karena AS telah mengetahui rudal tersebut dan karakteristiknya setidaknya sejak tahun 2020, ketika untuk pertama kalinya mereka menemukan hibrida rudal-drone yang tidak biasa ini di Yaman bersama kelompok Houthi.Faktanya, AS menyita rudal-rudal ini jauh sebelum tahun 2020 ketika mencegat pengiriman senjata Iran ke Houthi di Yaman.

Dalam artikel New York Times Februari 2020, intersepsi dan rudal baru ini dijelaskan secara detail.

“Dalam konferensi pers, Kapten Bill Urban, juru bicara Komando Pusat (CENTCOM) AS, menolak berkomentar tentang cara kerja rudal tersebut.

Tetapi seorang pejabat militer yang familiar dengan senjata tersebut, yang disebut sebagai rudal 358, menggambarkannya sebagai rudal jelajah yang dirancang untuk menghindari tindakan pertahanan Amerika Serikat dan dapat menjatuhkan helikopter militer Amerika, serta pesawat tilt-rotor MV-22 Osprey.

“Rudal tersebut terdiri dari tiga bagian: dua motor dan hulu ledak eksplosif. Senjata tersebut dapat dirakit setelah pengiriman dan ditembakkan dari peluncur sederhana di darat. Setelah rudal ditembakkan dan bergerak cukup cepat, motor pendorong berbahan bakar padat akan terlepas, dan motor jelajah akan mengambil alih; pada titik itu, senjata tersebut terbang dalam pola angka delapan dan mencari target,” tulis New York Times dalam laporan rinci tentang senjata Iran tersebut.

Artikel tersebut menjelaskan aspek unik rudal itu dan menyoroti karakteristiknya yang mampu berpatroli di udara. Artikel itu juga menyoroti kemampuan rudal Iran tersebut dalam mencari panas.

“Selusin lensa inframerah yang disusun melingkar di sekitar rudal diyakini mampu mengalahkan penangkal pencari panas yang biasanya digunakan helikopter koalisi,” imbuh laporan media AS itu.

Pada tahun 2021, otoritas Irak juga mengatakan bahwa mereka telah menemukan setidaknya satu rudal ini di dekat Pangkalan Udara Tuz Khurmatu.Sekitar dua tahun kemudian, pada tahun 2023, Product 358 sekali lagi menjadi berita utama ketika Iran menunjukkan rudal tersebut kepada Rusia, yang tampaknya terkesan dengan karakteristik dan kemampuannya yang unik.

Kemudian, pada November 2023, Hizbullah menyerang UAV militer Israel menggunakan Product 358 di Lebanon.

“Rudal yang dikenal sebagai ‘358’ adalah rudal anti-pesawat yang mampu berpatroli dan menggabungkan kemampuan ‘drone kamikaze’ dan rudal permukaan-ke-udara,” demikian laporan surat kabar Israel; Haaretz, pada saat itu.

Angkatan Laut AS juga berulang kali menyita rudal Produc 358 di Laut Merah saat mencegat pengiriman senjata Iran ke Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon.

Rudal tersebut pertama kali disita oleh Angkatan Laut AS pada tahun 2019. Pengiriman lebih lanjut disita pada tahun 2020 dan 2022. Pada tahun 2021, sebuah rudal 358 ditemukan di dekat pangkalan Amerika di Irak. Pada Juni 2021, sebuah rudal 358 dilaporkan menembak jatuh UAV Scan Eagle Amerika di atas Yaman.

Pada November 2023, mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengunjungi kompleks industri senjata di mana dia diperlihatkan versi 358 yang lebih besar dan lebih canggih dengan jangkauan 150 kilometer.

Pada tahun 2024, Product 358 menjadi berita karena mencegat drone Turki Aksungur di wilayah udara Suriah.

Pada Maret tahun ini, ketika AS dan Israel meluncurkan Operasi Epic Fury terhadap Iran, Defense Security Asia melaporkan bagaimana Product 358 menjadi masalah konstan bagi drone AS dan Israel, seperti MQ-9 Reaper dan Hermes-900.“Sistem ini merupakan penyimpangan dari doktrin rudal permukaan-ke-udara tradisional karena fungsinya bukan sebagai pencegat reaktif yang menunggu isyarat radar, tetapi sebagai pemburu udara yang gigih yang mampu secara otonom mencari zona patroli yang ditentukan untuk target seperti platform MQ-9 Reaper dan Hermes-900,” tulis media pertahanan itu dalam analisisnya.

AS dilaporkan telah kehilangan lebih dari 15 drone MQ-9 Reaper dalam perang melaan Iran, dan rudal Product 358 mungkin memainkan peran penting dalam pencegatan tersebut.

Namun, terlepas dari penggunaan rudal ini secara luas oleh Iran dalam perang tersebut, Angkatan Udara AS gagal mengantisipasi bahwa rudal itu juga efektif melawan jet tempur siluman F-35.

Bahaya yang ditimbulkan rudal tersebut terhadap drone yang bergerak lambat telah diketahui setidaknya selama lima tahun; namun, para pakar keamanan terkejut dengan keberhasilan rudal tersebut, bahkan terhadap jet tempur siluman F-35.

Meskipun F-35 berhasil melakukan pendaratan darurat, Iran telah mengungkap kerentanan pesawat tempur tersebut, yang akan menelan biaya lebih dari USD2 triliun bagi pembayar pajak AS dalam biaya siklus hidupnya, menjadikannya salah satu program pengembangan senjata termahal yang pernah ada.

Biaya rudal Product 358 tidak diungkapkan secara resmi, tetapi menurut laporan EurAsian Times, Jumat (10/4/2026), harganya kurang dari USD90.000, menjadikannya "pertarungan David melawan Goliath" yang sesungguhnya.

Rudal ini kompak dan dapat diluncurkan dari truk bergerak, sehingga penggunaannya oleh aktor non-negara menjadi mudah.

Keberhasilannya melawan F-35, pesawat tempur garis depan NATO, akan bergema tidak hanya di Timur Tengah tetapi juga di Pasifik.

Topik Menarik