AS Cari Gara-gara, CIA Bujuk Perwira Militer China Jadi Informan

AS Cari Gara-gara, CIA Bujuk Perwira Militer China Jadi Informan

Global | sindonews | Jum'at, 13 Februari 2026 - 09:37
share

CIA atau Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (AS) merilis video provokatif yang menawarkan para perwira militer China untuk menjadi informan baru Washington.

Tindakan ini seperti memancing ketegangan baru kedua negara justru pada saat Presiden Donald Trump berencana berkunjung ke Beijing pada April mendatang. Trump juga mengeklaim Presiden China Xi Jinping akan berkunjung ke Gedung Putih pada akhir tahun ini.

Rilis video perekrutan tersebut bertepatan dengan hari di mana Trump membanggakan "hubungan yang sangat baik" dengan China. Tindakan CIA ini kemungkinan akan memicu kemarahan Beijing.

Baca Juga: Terungkap, Kapal-kapal Perang China Dekati Australia dalam Jarak 8 Km

Video berbahasa Mandarin tersebut diunggah ke saluran YouTube badan intelijen AS pada hari Kamis sebagai bagian dari upaya untuk menargetkan perwira militer yang kecewa dan merekrut mereka sebagai informan.

Video tersebut menampilkan seorang perwira tingkat menengah fiktif yang menghubungi CIA melalui sistem pesan anonimnya "setelah memutuskan bahwa satu-satunya hal yang dilindungi para pemimpin adalah kepentingan mereka sendiri” dan bahwa “kekuasaan mereka didasarkan pada kebohongan yang tak terhitung jumlahnya”.Teks berbahasa Mandarin di bawah video tersebut meminta individu yang kredibel yang berpengetahuan dan bersedia berbagi dengan CIA.

“Apakah Anda memiliki informasi tentang para pemimpin China berpangkat tinggi? Apakah Anda seorang perwira militer atau memiliki hubungan dengan militer? Apakah Anda bekerja di bidang intelijen, diplomasi, ekonomi, sains, atau teknologi canggih, atau berurusan dengan orang-orang yang bekerja di bidang-bidang ini?” tulis CIA.

“Silakan hubungi kami. Kami ingin memahami kebenaran," lanjut teks tersebut, sebagaimana dikutip dari South China Morning Post, Jumat (13/2/2026).

Video ini adalah yang terbaru dalam serangkaian upaya Washington untuk meningkatkan pengumpulan intelijen manusia tentang China.

Pada Mei tahun lalu, CIA meluncurkan dua video berbahasa Mandarin di saluran media sosialnya, yang bertujuan untuk memikat para pejabat agar membocorkan rahasia kepada AS, sekali lagi menunjukkan tokoh-tokoh fiktif yang kecewa memilih untuk menghubungi CIA.Sekadar diketahui, AS dan China saat ini sedang "gencatan senjata perang dagang". Rencana Trump berkunjung ke Beijing pada April mendatang kemungkinan untuk membahas perpanjangan "gencatan senjata" tersebut.

Trump sebelumnya mengeklaim memiliki hubungan yang baik dengan Xi Jinping. “Saya akan mengunjungi Presiden Xi pada bulan April. Saya menantikannya. Dia akan datang ke sini akhir tahun ini, dan saya sangat menantikannya,” kata Trump.

“Hubungan kami dengan China sangat baik saat ini. Hubungan saya dengan Presiden Xi sangat baik,” imbuh Trump.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, pada hari Kamis mengonfirmasi bahwa kedua pihak sedang berkomunikasi mengenai kunjungan Trump pada bulan April, di mana para pejabat memperkirakan diskusi akan berpusat pada keuntungan ekonomi jangka pendek, termasuk kemungkinan perpanjangan "gencatan senjata perang dagang" saat ini selama satu tahun ke depan—sebuah langkah yang digambarkan oleh orang-orang yang mengetahui pembicaraan tersebut sebagai hal yang tidak mungkin dicapai.

Meskipun diplomat utama Beijing di Washington mengatakan awal pekan ini bahwa hubungan saat ini antara kedua negara telah mencapai "stabilitas dinamis secara keseluruhan", sumber-sumber pemerintah mengatakan bahwa Beijing secara konsisten mengidentifikasi Taiwan sebagai titik konflik potensial utama dan memperingatkan bahwa penjualan senjata AS ke pulau itu dapat membahayakan kemajuan.

Namun, pemerintahan Trump juga dilaporkan telah mengambil langkah untuk mengendalikan tindakan pemerintah yang dapat membuat Beijing kesal menjelang pertemuan kedua presiden.

Menurut laporan Reuters, pemerintahan Trump telah menunda serangkaian pembatasan teknologi yang ditujukan kepada perusahaan-perusahaan China, seperti larangan operasi China Telecom di AS dan pembatasan penjualan peralatan China untuk pusat data AS, dan menunda usulan larangan penjualan domestik router TP-Link, di antara langkah-langkah lainnya.

Topik Menarik