Bibir Pucat dan Tubuh Sempoyongan saat Lari, Kenali Kondisi dan Cara Menanganinya

Bibir Pucat dan Tubuh Sempoyongan saat Lari, Kenali Kondisi dan Cara Menanganinya

Gaya Hidup | okezone | Minggu, 1 November 2026 - 09:05
share

AKTIVITAS lari menjadi salah satu olahraga yang banyak digemari karena mudah dilakukan dan memiliki beragam manfaat bagi kesehatan. Namun, pelari perlu mewaspadai sejumlah kondisi yang bisa terjadi selama atau setelah berolahraga, salah satunya ketika tubuh tiba-tiba lemas, sempoyongan, hingga terlihat seperti akan pingsan.

Kondisi tersebut tentu dapat membuat orang di sekitarnya panik, terutama jika terjadi saat berlari di luar ruangan tanpa adanya tim medis. Tidak sedikit orang yang kemudian berinisiatif memberikan teh hangat atau teh manis sebagai pertolongan pertama.

Namun, apakah langkah tersebut sudah tepat? dr. Muhammad Habibi Nst, Sp.An-TI, dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif, di acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone menjelaskan bahwa tubuh sempoyongan setelah berlari tidak selalu menandakan heatstroke. Ada kondisi lain yang dikenal sebagai exercise-associated collapse.

1. Mengenal Exercise-Associated Collapse pada Pelari

Exercise-associated collapse merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kelemahan atau kesulitan berdiri setelah melakukan aktivitas olahraga, khususnya lari jarak jauh. Pada kondisi ini, pelari biasanya masih memiliki kesadaran dan dapat merespons pertanyaan dengan baik. Mereka mungkin terlihat lemas, sempoyongan, atau kesulitan mempertahankan posisi berdiri.

Kondisi tersebut berbeda dengan heatstroke yang merupakan keadaan darurat medis dan membutuhkan penanganan segera. Menurut dr. Habibi, ada dua hal penting yang perlu diperhatikan untuk mengenali heatstroke, yaitu suhu tubuh yang sangat tinggi, sekitar 40 derajat Celsius atau lebih, serta adanya gangguan status mental.

Gangguan status mental yang dimaksud bukan berkaitan dengan kesehatan psikologis, melainkan perubahan kondisi kesadaran dan kemampuan seseorang dalam merespons lingkungan. Contohnya, seseorang mulai berbicara tidak nyambung, mengalami kebingungan, agitasi, panik, hingga penurunan kesadaran.

Jika seseorang mengalami suhu tubuh sangat tinggi disertai perubahan status mental setelah berolahraga, kondisi tersebut perlu dicurigai sebagai heatstroke.

 

2. Apa yang Harus Dilakukan saat Menemukan Pelari Sempoyongan?

Ketika menemukan seseorang yang terlihat lemas atau hampir pingsan setelah berlari, masyarakat tidak perlu langsung panik. Namun, pertolongan harus diberikan dengan memperhatikan kondisi orang tersebut.

Hentikan Aktivitas dan Pindahkan ke Tempat Sejuk

Segera bantu pelari menghentikan aktivitasnya. Jika memungkinkan, pindahkan ke tempat yang teduh dan memiliki sirkulasi udara baik.

Jangan biarkan orang tersebut memaksakan diri untuk kembali berlari karena tubuhnya membutuhkan waktu untuk pulih.

Periksa Respons dan Kondisi Kesadaran

Cobalah mengajak orang tersebut berbicara dengan pertanyaan sederhana, seperti menanyakan nama, kondisi tubuh, atau apa yang dirasakan. Perhatikan apakah jawabannya masih nyambung atau justru mengalami kebingungan dan kesulitan merespons.

Jika orang tersebut mengalami penurunan kesadaran, kebingungan, kejang, atau tidak mampu merespons dengan normal, segera hubungi layanan darurat medis.

Bantu Mendinginkan Tubuh

Jika pelari diduga mengalami kepanasan, segera lakukan upaya pendinginan. Longgarkan pakaian yang terlalu ketat, pindahkan ke tempat teduh, dan gunakan air dingin atau kain basah untuk membantu menurunkan suhu tubuh.

Jika muncul tanda-tanda heatstroke, jangan menunda pertolongan medis. Pendinginan tubuh perlu dilakukan segera sambil menunggu bantuan datang.

Berikan Minuman jika Masih Sadar Penuh

dr. Habibi menjelaskan bahwa pemberian minuman manis seperti teh manis dapat membantu apabila seseorang mengalami kelemahan yang berkaitan dengan kebutuhan energi atau kadar gula darah.

Kandungan gula di dalam minuman tersebut menjadi sumber glukosa yang dapat dimanfaatkan tubuh. Namun, perlu diperhatikan bahwa teh manis bukanlah penanganan khusus untuk heatstroke.

Minuman hanya boleh diberikan jika orang tersebut sadar penuh, mampu menelan dengan baik, dan tidak mengalami kebingungan atau muntah. Jangan memberikan minuman kepada orang yang tidak sadar atau kesadarannya menurun karena berisiko tersedak.

3. Teh Hangat atau Dingin, Mana yang Lebih Baik?

Kebiasaan memberikan teh hangat kepada orang yang terlihat lemas memang cukup sering ditemukan di masyarakat. Namun, menurut penjelasan dr. Habibi, manfaat teh manis terutama berasal dari kandungan gulanya, bukan dari suhu minumannya.

Artinya, minuman manis tidak harus disajikan dalam keadaan hangat. Bahkan, dalam penanganan kondisi yang berkaitan dengan panas berlebih, pendinginan tubuh menjadi hal yang lebih penting.

Untuk pelari yang mengalami dugaan heatstroke, pemberian teh manis bukan pengganti tindakan pendinginan dan pertolongan medis.

Topik Menarik