Sering Dikira GERD, Ternyata Ini Gejala Gagal Jantung di Usia Muda
Sering cepat lelah, mudah begah, atau merasa tidak nyaman di perut mungkin terdengar seperti keluhan ringan. Namun, jika gejala tersebut terus berulang, kondisi itu ternyata bisa menjadi tanda adanya masalah pada jantung, termasuk gagal jantung.
Gagal jantung selama ini memang lebih sering dikaitkan dengan orang lanjut usia. Padahal, penyakit ini juga dapat dialami seseorang yang masih muda dan terlihat sehat.
Yang membuatnya sulit dikenali, gejala gagal jantung pada usia muda tidak selalu muncul dalam bentuk keluhan khas seperti sesak napas berat atau kaki bengkak. Keluhan awal justru dapat menyerupai gangguan pencernaan dan kerap dianggap sebagai GERD.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals Kebon Jeruk, dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA, FACC, mengatakan pasien gagal jantung tidak selalu datang dengan gejala yang sudah berat.
Baca Juga : Krisis Donor Jantung, RSCM Terapkan LVAD Terkecil di Dunia untuk Pasien Gagal Jantung
“Pada pasien gagal jantung yang usia muda, sering kali mereka datang bukan keluhannya bengkak kaki, sesak hebat, enggak bisa jalan, itu sudah lanjut sekali. Sering kali mereka keluhannya itu lebih cepat capek, begah, seperti GERD dianggapnya,” ujar dr. Leonardo.
Menurut Leonardo, usia muda membuat tubuh masih memiliki kemampuan beradaptasi yang cukup baik. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang tetap mampu beraktivitas meski fungsi jantung sebenarnya mulai mengalami penurunan.Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti seseorang yang masih bisa beraktivitas dengan mengandalkan “powerbank” tubuh, meski cadangan kerja jantung sebenarnya sudah menurun.
“Orang usia muda itu memiliki daya cadangan itu lebih baik. Jadi istilahnya dia keluyuran ke mana-mana itu pakai powerbank badannya. Padahal baterainya mungkin udah habis, baterai jantung aslinya,” jelasnya.
Karena itu, keluhan yang muncul berulang dan tidak kunjung membaik sebaiknya tidak diabaikan. Terlebih jika seseorang sudah beberapa kali mendapatkan pengobatan untuk suatu penyakit, tetapi keluhan tetap muncul.
“Kalau diobatin sudah dibilang penyakitnya A, berulang-ulang diobatin tapi enggak membaik, kita harus open-minded untuk mencari ada kemungkinan penyebab lain enggak,” katanya.
Baca Juga : Dokter Indonesia Kembangkan AI untuk Deteksi Dini Gagal Jantung, Pasien Tak Lagi Bolak-balik Masuk RS
Gagal Jantung Bisa Menyerang Usia 20-anLeonardo menegaskan bahwa gagal jantung bukan semata-mata penyakit orang lanjut usia. Ia bahkan pernah menangani pasien gagal jantung yang masih berusia 27 tahun.
Pasien tersebut merupakan seorang perempuan dengan gaya hidup yang dinilai sehat. Namun, ia mengalami gagal jantung akibat kardiomiopati atau kelainan pada otot jantung.
“Ini pesan yang penting. Gagal jantung tuh bukan pasien usia tua aja,” tegas Leonardo.
Pada pasien muda, salah satu penyebab gagal jantung yang cukup banyak ditemukan adalah kardiomiopati. Kondisi tersebut merupakan kelainan pada otot jantung yang dapat dipicu oleh berbagai faktor.
Kardiomiopati dapat berkaitan dengan infeksi virus tertentu, gangguan metabolik, hingga faktor genetik. Karena itu, masyarakat disarankan tidak mengabaikan perubahan kemampuan tubuh, terutama jika keluhan terasa tidak biasa atau terus berulang.
Jangan Anggap Remeh Istilah Jantung BengkakMasyarakat mungkin lebih familiar dengan istilah “jantung bengkak”. Leonardo menjelaskan, istilah tersebut memang kerap digunakan ketika pemeriksaan menunjukkan adanya pembesaran jantung.
Namun, pembesaran jantung bukan sekadar kondisi yang bisa dianggap ringan. Di balik temuan tersebut, bisa terdapat masalah yang lebih serius, salah satunya gagal jantung.
“Jantung bengkak itu bukan kata-kata yang mungkin membuat sedikit lega buat pasien. Tapi di satu pihak itu menutupi satu masalah yang sangat serius, yaitu istilah gagal jantung,” tuturnya.
Leonardo menjelaskan gagal jantung merupakan penyakit kronis dan progresif. Artinya, ketika pasien mendapatkan perawatan dan keluhan seperti sesak atau kaki bengkak menghilang, bukan berarti penyakit tersebut telah sembuh sepenuhnya.
“Kalau hari ini keluhan, masuk rumah sakit, kita stabilkan, keluhannya mau berkurang, bengkak kaki menghilang, sesak hilang, bukan berarti penyakitnya selesai di situ,” ujarnya.
Pasien tetap membutuhkan penanganan dan pemantauan dalam jangka panjang untuk menjaga kondisi serta mencegah penyakit terus mengalami penurunan.LVAD Bukan untuk Semua Pasien Gagal Jantung
Pada gagal jantung stadium lanjut, salah satu pilihan terapi untuk pasien tertentu adalah Left Ventricular Assist Device (LVAD). Alat ini berfungsi membantu kerja pompa jantung.
Namun, pemasangan LVAD bukan tindakan yang dapat diberikan kepada seluruh pasien gagal jantung. Kondisi pasien harus dievaluasi secara menyeluruh, termasuk fungsi organ lain.
Jika gagal jantung telah mengenai sisi kiri dan kanan jantung dengan kondisi bilik kanan yang sangat lemah, LVAD yang hanya membantu sisi kiri tidak lagi menjadi pilihan yang memadai. Dalam kondisi tertentu, transplantasi jantung dapat menjadi salah satu opsi terapi lanjutan.
Sebaliknya, LVAD juga tidak dapat dipasang terlalu cepat. Dokter perlu memastikan pasien memang membutuhkan alat tersebut dan tidak masih dapat ditangani dengan terapi lain.
“Kita enggak boleh terlalu cepat pasang alat ini, tentunya membebani pasien, sedangkan dia mungkin diminum obat bisa sembuh malah, jadi enggak perlu alatnya. Tapi kita juga enggak boleh terlalu lambat ketika sudah terjadi kerusakan banyak organ sehingga operasi LVAD ini hasilnya tidak baik,” jelasnya.









