Fakta Baru! Rajin Ngegym Bantu Kurangi Gejala Depresi
JAKARTA, iNews.id – Rajin ngegym ternyata bukan hanya bermanfaat untuk membentuk otot dan menjaga kebugaran tubuh. Latihan beban yang dilakukan secara rutin juga berpotensi membantu mengurangi gejala depresi,
Dokter Adam Prabata mengulas penelitian terkait ini yang merangkum 33 studi dengan melibatkan lebih dari 1.800 partisipan. Hasil analisis menunjukkan bahwa latihan beban berkaitan dengan penurunan gejala depresi.
Dalam temuan tersebut, orang yang melakukan latihan beban mengalami gejala depresi hingga 34 persen lebih rendah. Informasi ini dibagikan Adam melalui akun X miliknya, @AdamPrabata.
“Bagi kalian yang sedang sedih karena patah hati, ajakan ke gym kayanya emang bisa membantu deh kalau kata penelitian ini,” tulis Adam, dikutip Senin (26/10/2026).
Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas fisik, termasuk latihan beban, berpotensi menjadi salah satu upaya pendukung untuk menjaga kesehatan mental. Namun, manfaatnya perlu dipahami secara tepat agar olahraga tidak dianggap sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi depresi.
Konsistensi Lebih Penting daripada Beban Berat
Bagi sebagian orang, memulai latihan di gym mungkin terasa menantang karena khawatir tidak mampu mengangkat beban berat atau mengikuti program latihan yang intensif.
Namun, menurut dr Adam, efek yang ditemukan dalam penelitian tersebut tidak bergantung pada volume latihan maupun besarnya peningkatan kekuatan otot.
“Efek ini gak tergantung dari seberapa volume latihan dan gimana peningkatan kekuatan ototnya, yang penting rutin dulu aja,” jelasnya.
Dengan kata lain, pemula tidak harus langsung menjalani latihan berat untuk mulai membangun kebiasaan berolahraga. Latihan dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan tubuh dan ditingkatkan ketika kondisi fisik sudah memungkinkan.
Konsistensi menjadi hal yang perlu diperhatikan. Memulai dengan latihan ringan yang realistis dapat membantu seseorang membangun rutinitas tanpa harus memaksakan diri.
Selain latihan beban, aktivitas fisik lain yang sesuai dengan kondisi tubuh juga bisa menjadi pilihan untuk menjaga kebugaran. Hal terpenting adalah memilih aktivitas yang aman dan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Ngegym Bukan Terapi Utama Depresi
Meski berpotensi membantu mengurangi gejala depresi, latihan beban tidak dapat menggantikan pemeriksaan maupun penanganan medis. Hal ini ditegaskan Adam agar masyarakat tidak menganggap olahraga sebagai terapi utama untuk gangguan depresi.
“Yang perlu diingat ini bukan terapi utama ya, tapi tambahan. Bila memang ada kondisi depresi, tetap diperiksakan ke dokter ya,” tegasnya.
Peringatan tersebut penting karena kesedihan biasa tidak selalu sama dengan depresi klinis. Seseorang bisa merasa sedih ketika menghadapi masalah, kehilangan orang terdekat, atau mengalami patah hati. Namun, perasaan sedih saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami gangguan depresi.
Sebaliknya, gejala yang menetap dan mulai mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, maupun aktivitas sehari-hari perlu mendapatkan perhatian lebih serius.
Jika kondisi tersebut terjadi, berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan mental dapat membantu menentukan langkah penanganan yang tepat. Olahraga dapat menjadi bagian dari upaya pendukung, tetapi tidak seharusnya membuat seseorang menunda mencari bantuan profesional.
Karena itu, temuan mengenai manfaat latihan beban bagi kesehatan mental bisa menjadi dorongan untuk mulai lebih aktif bergerak. Meski demikian, setiap orang memiliki kebutuhan dan kondisi yang berbeda.
Mulailah berolahraga sesuai kemampuan, lakukan secara bertahap, dan jangan memaksakan tubuh. Jika mengalami gejala depresi, tetap prioritaskan konsultasi dengan tenaga profesional agar memperoleh penanganan yang sesuai.








